
Ir Mulyadi Murka! PETI Beralat Berat di Sumbar Diduga Dilindungi Mafia dan Oknum: “Tangkap Cukongnya, Jangan Main Drama Penertiban!”
AK47, Jakarta — Anggota Komisi I DPR RI, Mulyadi, meluapkan kemarahannya terhadap maraknya praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) menggunakan excavator di Sumatera Barat yang hingga kini tetap beroperasi terang-terangan tanpa tersentuh hukum.
Dalam Rapat Kerja Komisi I DPR RI bersama Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Mulyadi secara blak-blakan mempertanyakan keberanian aparat menindak mafia tambang ilegal yang diduga sudah lama bermain dan menikmati keuntungan dari pengerukan emas ilegal di Sumbar.
“Tambang ilegal ini bukan lagi rahasia. Excavator bekerja siang malam, hutan rusak, sungai hancur, tapi anehnya para cukongnya seolah kebal hukum,” tegas Mulyadi.
Ia menilai penertiban selama ini terkesan hanya formalitas dan menyasar masyarakat kecil, sementara pemilik modal dan aktor utama di belakang PETI justru tetap bebas mengendalikan operasi tambang ilegal.
“Jangan rakyat kecil terus dijadikan kambing hitam. Yang merusak alam Sumbar itu alat berat dan mafia tambang yang membekinginya,” katanya.
Ketua DPD Partai Demokrat Sumbar itu bahkan menyindir keras narasi “tambang rakyat” yang kerap dipakai untuk membungkus aktivitas tambang ilegal skala besar.
“Kalau sudah puluhan bahkan ratusan excavator beroperasi di satu titik, itu bukan tambang rakyat, itu perampokan kekayaan alam secara terang-terangan!” semburnya.
Menurut Mulyadi, mustahil aktivitas PETI beralat berat bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa adanya pihak kuat yang bermain di belakang layar. Karena itu, ia meminta aparat penegak hukum dan TNI tidak lagi setengah hati.
“Kejar cukongnya, sita excavator-nya, bongkar siapa yang membekingi. Jangan cuma razia sesaat lalu besoknya alat berat masuk lagi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak PETI tidak hanya merusak lingkungan, tetapi telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan masyarakat Sumatera Barat. Sungai tercemar, kawasan hutan rusak, sedimentasi meningkat, hingga ancaman banjir dan longsor terus menghantui warga.
“Hutan dibabat, sungai dihancurkan, alam diperkosa demi memperkaya segelintir orang. Sementara rakyat yang menanggung bencana,” ujarnya keras.
Informasi yang beredar di masyarakat bahkan menyebut dua nama berinisial N dan R yang diduga sebagai pemain besar tambang emas ilegal di Pasaman Barat dan Pasaman. Menanggapi itu, Mulyadi meminta aparat berhenti pura-pura tidak tahu.
“Kalau masyarakat saja tahu, masa aparat tidak tahu? Jangan sampai muncul kesan ada pembiaran atau bahkan perlindungan terhadap mafia tambang ilegal ini,” katanya.
Ia menegaskan tidak boleh ada pihak yang kebal hukum, termasuk oknum aparat yang diduga ikut membekingi aktivitas PETI demi keuntungan pribadi.
“Kalau ada aparat ikut bermain, copot dan proses hukum. Jangan sampai negara kalah oleh mafia tambang,” pungkasnya.
Pernyataan keras Mulyadi menjadi tamparan terbuka bagi aparat penegak hukum yang selama ini dinilai gagal menghentikan praktik PETI beralat berat yang terus menggerogoti kekayaan alam Sumatera Barat.
(AK)
#Headline #PETI #SumateraBarat #DPR #TambangIlegal #Parlemen