-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sambut Bulan Bung Karno, PDIP Luncurkan Kembali Lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme', Wajib Dinyanyikan dalam Setiap Acara Partai

Sabtu, 30 Mei 2026 | Mei 30, 2026 WIB Last Updated 2026-05-30T10:46:38Z

Sambut Bulan Bung Karno, PDIP Luncurkan Kembali Lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme', Wajib Dinyanyikan dalam Setiap Acara Partai



AK47, Jakarta Menjelang peringatan Bulan Bung Karno yang diperingati setiap Juni, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kembali menegaskan komitmennya terhadap ajaran dan ideologi pendiri bangsa, Soekarno. Salah satu langkah simbolis yang dilakukan adalah meluncurkan kembali lagu berjudul "Bung Karno Bapak Marhaenisme" yang kini diwajibkan dinyanyikan dalam setiap kegiatan resmi partai yang menggunakan protokol kepartaian.


Peluncuran kembali lagu tersebut dilakukan dalam kegiatan Pembekalan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota Fraksi PDIP DPRD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia yang digelar pada Sabtu (30/5/2026). Lagu itu diputar pada sesi awal acara dan menjadi bagian dari upaya memperkuat semangat ideologis kader menjelang rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno.


Ketua DPP Djarot Saiful Hidayat menegaskan bahwa pemutaran kembali lagu tersebut bukan sekadar pelengkap seremoni partai. Menurutnya, lagu itu mengandung pesan perjuangan yang sangat relevan untuk mengingatkan kader akan jati diri PDIP sebagai partai yang berpihak kepada rakyat kecil.


"Lagu ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama para wakil rakyat yang baru dilantik, bahwa esensi perjuangan PDI Perjuangan adalah memihak dan berjuang demi kepentingan rakyat kecil atau kaum Marhaen. Di Bulan Bung Karno ini, kita perkuat kembali komitmen untuk tegak lurus pada komando partai dan membumikan ajaran Bung Karno di setiap kebijakan yang kita ambil," ujar Djarot.


Lagu Wajib dalam Protokol Kepartaian


Dalam kesempatan tersebut, Djarot juga mengumumkan kebijakan baru bahwa lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" akan menjadi bagian wajib dalam setiap agenda resmi partai.


Menurutnya, lagu tersebut bukan hanya berfungsi sebagai simbol penghormatan kepada Bung Karno, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai-nilai perjuangan yang harus terus hidup di kalangan kader, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.


"Dalam setiap acara dengan protokol kepartaian, lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme wajib kita nyanyikan," tegasnya.


Kebijakan ini sekaligus menjadi upaya PDIP memperkuat konsolidasi ideologi di tengah dinamika politik nasional yang semakin kompleks. Partai berlambang banteng moncong putih itu menilai penguatan ideologi menjadi fondasi penting agar kader tetap memiliki arah perjuangan yang jelas dalam menjalankan tugas politik dan pemerintahan.


Pesan Megawati: Kader Harus Menyatu dengan Rakyat


Semangat yang terkandung dalam lagu tersebut juga disebut sejalan dengan arahan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang selama ini terus menekankan pentingnya kader partai turun langsung ke tengah masyarakat.


Megawati berulang kali mengingatkan bahwa kekuatan utama seorang pemimpin tidak terletak pada pencitraan politik ataupun strategi elektoral semata. Sebaliknya, legitimasi seorang pemimpin lahir dari kedekatan dengan rakyat serta kemampuannya menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan masyarakat.


Karena itu, para kader dan anggota legislatif PDIP diminta tidak hanya aktif dalam aktivitas politik formal, tetapi juga hadir di tengah masyarakat untuk memahami secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi rakyat.


Mengingat Kembali Akar Marhaenisme


Lebih jauh, Djarot menjelaskan bahwa lagu tersebut juga mengandung pesan sejarah yang penting bagi kader partai, yakni tentang lahirnya konsep Marhaenisme yang menjadi salah satu fondasi ideologi perjuangan Bung Karno.


Konsep itu berawal dari pertemuan Bung Karno dengan seorang petani sederhana bernama Marhaen di kawasan Priangan, Jawa Barat, pada era 1920-an. Dari pertemuan tersebut, Bung Karno melihat potret rakyat Indonesia yang memiliki alat produksi sendiri namun hidup dalam keterbatasan dan ketidakadilan akibat sistem kolonial.


Nama Marhaen kemudian diabadikan oleh Bung Karno sebagai simbol rakyat kecil Indonesia yang tertindas, tetapi memiliki kekuatan besar untuk bangkit, mandiri, dan menentukan nasibnya sendiri.


Dari sanalah lahir gagasan Marhaenisme, sebuah ideologi yang menempatkan rakyat kecil sebagai pusat perjuangan politik, ekonomi, dan sosial. Ajaran ini kemudian menjadi salah satu ruh perjuangan kemerdekaan Indonesia dan terus diwariskan oleh PDIP hingga saat ini.


Bulan Bung Karno dan Konsolidasi Ideologi Partai


Peluncuran kembali lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" dinilai menjadi bagian dari strategi PDIP untuk memperkuat identitas ideologis partai menjelang Bulan Bung Karno yang setiap tahunnya diperingati sepanjang Juni.


Bulan tersebut memiliki makna historis karena memuat sejumlah momentum penting dalam perjalanan hidup Bung Karno, mulai dari hari lahir Pancasila pada 1 Juni, hari kelahiran Bung Karno pada 6 Juni, hingga hari wafatnya pada 21 Juni.


Melalui berbagai kegiatan, termasuk penguatan simbol-simbol perjuangan seperti lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme", PDIP berupaya menghidupkan kembali semangat nasionalisme, keberpihakan kepada rakyat kecil, serta nilai-nilai Marhaenisme di tengah generasi kader masa kini.


Bagi partai, lagu tersebut bukan sekadar rangkaian lirik dan nada, melainkan sebuah pengingat bahwa perjuangan politik harus selalu berorientasi pada kepentingan rakyat, sebagaimana cita-cita yang diwariskan oleh Soekarno sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga Indonesia merdeka.


(AK)


#Nasional #Headline #Politik #PDIP

×
Berita Terbaru Update