
Sekjen PBB Peringatkan Ancaman Nyata El Niño, BRIN: Dunia Masuk Zona Bahaya Cuaca Ekstrem
AK47, Jakarta — Peringatan mengenai ancaman perubahan iklim kembali menggema. Kali ini, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres secara terbuka mengingatkan masyarakat dunia mengenai perkembangan fenomena El Niño yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Peringatan tersebut bukan sekadar kekhawatiran mengenai perubahan suhu laut. Fenomena El Niño berpotensi membawa konsekuensi luas terhadap pola cuaca dunia, mulai dari meningkatnya suhu ekstrem, kekeringan di sejumlah kawasan, perubahan pola hujan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat.
Guterres menyampaikan peringatan itu melalui akun media sosial X pribadinya, Sabtu (5/9/2026).
“El Niño sedang membesar di depan mata kita. Ilmu pengetahuan jelas: suhu permukaan laut sedang naik, suhu terus meningkat & dunia berada di zona bahaya cuaca ekstrem,” tulis Guterres.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian serius karena disampaikan ketika dunia masih menghadapi tren pemanasan global dan berbagai kejadian cuaca ekstrem yang semakin menjadi perhatian komunitas ilmiah internasional.
BRIN Soroti Ancaman Super El Niño
Peringatan Guterres turut mendapat perhatian dari Ahli Iklim dan Cuaca Ekstrem Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin.
Erma menilai pernyataan Sekjen PBB tersebut semakin memperkuat kekhawatiran yang sebelumnya telah disampaikan kalangan ilmuwan terkait potensi kemunculan super El Niño.
Menurut Erma, perkembangan tersebut patut mendapat perhatian serius. Bahkan, ia menyebut super El Niño yang diprediksi muncul berpotensi menjadi salah satu fenomena El Niño terkuat yang pernah terjadi.
“Sekjen PBB sendiri yang langsung mengingatkan pada warga dunia tentang kebenaran data dan informasi yang telah disampaikan oleh ilmuwan tentang super El Niño yang bakal jadi terkuat sepanjang sejarah,” ujar Erma.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa fenomena El Niño tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai persoalan perubahan cuaca musiman. Ketika anomali suhu laut berlangsung dalam skala besar dan berinteraksi dengan kondisi atmosfer serta pemanasan global, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor kehidupan.
Mengapa El Niño Menjadi Ancaman?
El Niño merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan pemanasan anomali suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Perubahan tersebut dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer dan pada akhirnya menggeser pola cuaca di berbagai belahan dunia.
Dampaknya tidak selalu sama di setiap wilayah.
Di sebagian kawasan, El Niño dapat meningkatkan risiko kekeringan. Di kawasan lain, fenomena ini justru dapat mengubah pola hujan dan meningkatkan potensi hujan ekstrem.
Bagi Indonesia, salah satu perhatian utama adalah kemungkinan meningkatnya kondisi kering di sejumlah wilayah ketika pengaruh El Niño menguat. Kondisi tersebut dapat berdampak pada ketersediaan air, pertanian, perkebunan, kebakaran hutan dan lahan, hingga aktivitas masyarakat.
Namun, ancamannya tidak berhenti pada persoalan cuaca.
Jika periode panas dan kering berlangsung lebih lama, sektor pertanian dapat menghadapi tekanan akibat berkurangnya ketersediaan air. Produktivitas tanaman tertentu berpotensi terganggu, sementara kebutuhan air masyarakat justru dapat meningkat.
Kondisi panas yang berkepanjangan juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama apabila vegetasi menjadi semakin kering.
Ancaman Berlapis di Tengah Pemanasan Global
Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan adalah El Niño muncul dalam konteks pemanasan global yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Dengan kata lain, dunia tidak hanya menghadapi fenomena iklim alami, tetapi juga kondisi dasar bumi yang semakin hangat.
Kombinasi keduanya berpotensi memperbesar tekanan terhadap sistem iklim.
Kenaikan temperatur dapat membuat gelombang panas terasa lebih berat. Kondisi kering yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko kebakaran. Perubahan pola hujan dapat mengganggu kalender tanam dan ketersediaan air.
Pada saat yang sama, wilayah yang mengalami hujan ekstrem tetap dapat menghadapi banjir dan longsor ketika pola atmosfer tertentu terbentuk.
Inilah yang membuat peringatan mengenai El Niño menjadi penting: dampaknya tidak hanya dirasakan dalam satu sektor, tetapi dapat merembet dari lingkungan, pangan, air, kesehatan, ekonomi hingga kehidupan sosial masyarakat.
Indonesia Perlu Meningkatkan Kesiapsiagaan
Peringatan dari PBB dan perhatian BRIN menjadi sinyal agar pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan perubahan kondisi cuaca.
Pemerintah daerah perlu memperkuat pemantauan ketersediaan air, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap kekeringan. Sektor pertanian juga membutuhkan informasi iklim yang akurat agar petani dapat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi yang diperkirakan.
Di sisi lain, mitigasi kebakaran hutan dan lahan perlu diperkuat sejak dini.
Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang mudah dipahami mengenai potensi perubahan cuaca sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan sebelum kondisi memburuk.
Kesiapsiagaan menjadi semakin penting karena dampak El Niño tidak selalu datang dalam bentuk satu bencana besar. Tekanan justru dapat muncul secara bertahap—hari-hari yang semakin panas, hujan yang semakin jarang di wilayah tertentu, sumber air yang menyusut, hingga meningkatnya risiko kebakaran.
Peringatan yang Tak Boleh Diabaikan
Pernyataan Antonio Guterres dan perhatian Prof. Erma Yulihastin pada akhirnya membawa pesan yang sama: perubahan iklim bukan lagi ancaman yang hanya dibicarakan untuk masa depan.
Fenomena iklim yang berkembang saat ini harus dibaca sebagai peringatan untuk memperkuat kesiapsiagaan.
Jika El Niño benar-benar berkembang menjadi fenomena dengan intensitas luar biasa, dampaknya dapat dirasakan jauh melampaui wilayah Samudra Pasifik. Indonesia, sebagai negara kepulauan yang sangat dipengaruhi dinamika iklim dan cuaca, perlu memastikan sistem pemantauan, mitigasi, serta respons bencana berjalan lebih cepat dan terkoordinasi.
Peringatan ilmuwan bukan untuk menciptakan kepanikan, melainkan agar masyarakat dan pemerintah memiliki waktu untuk bersiap.
Sebab ketika cuaca ekstrem sudah terjadi, ruang untuk melakukan pencegahan akan jauh lebih sempit.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah dunia harus bersiap menghadapi perubahan iklim, tetapi seberapa siap dunia menghadapi dampaknya.
(Mond)
#BRIN #Nasional #ElNino #CuacaEkstrem #Headline