-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gedung Dibangun, Mahasiswa Bertanya: Ke Mana Arah Prioritas Fasilitas ISI Padang Panjang?

Kamis, 03 September 2026 | September 03, 2026 WIB Last Updated 2026-09-03T13:05:14Z

Gedung Dibangun, Mahasiswa Bertanya: Ke Mana Arah Prioritas Fasilitas ISI Padang Panjang?



AK47, PADANG PANJANG Persoalan fasilitas di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang tampaknya tidak lagi bisa dipandang sebatas keluhan mahasiswa tentang ruang kelas, studio, peralatan praktik atau kondisi bangunan.


Di balik berbagai keluhan tersebut, kini muncul pertanyaan yang jauh lebih besar: ke mana arah prioritas pembangunan kampus?


Pertanyaan itu mengemuka setelah sejumlah mahasiswa kembali menyuarakan persoalan fasilitas yang mereka nilai belum sepenuhnya teratasi. Bagi mahasiswa, masalah tersebut bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul.


Usulan perbaikan, kebutuhan penambahan ruang, pembaruan peralatan hingga persoalan pemeliharaan fasilitas disebut telah disampaikan berulang kali dalam beberapa tahun terakhir.


Namun, sejumlah persoalan masih mereka rasakan hingga sekarang.


Di tengah kondisi tersebut, pembangunan fisik di lingkungan kampus juga terus terlihat. Persoalannya, beberapa pekerjaan pembangunan justru tampak belum tuntas sehingga menimbulkan tanda tanya tersendiri di kalangan mahasiswa.


Mahasiswa menegaskan, mereka tidak menolak pembangunan.


Yang mereka pertanyakan adalah skala prioritasnya.


“Pembangunan kami dukung karena memang dibutuhkan. Tetapi kalau pembangunan tidak selesai dan tidak ada kejelasan, mahasiswa juga yang merasakan dampaknya,” ujar seorang mahasiswa saat menyampaikan orasinya di lapangan basket kampus, Kamis (3/9/2026).


Pernyataan itu menjadi titik penting dalam melihat persoalan fasilitas di ISI Padang Panjang.


Sebab, perdebatan sebenarnya bukan tentang apakah kampus membutuhkan gedung baru atau tidak.


Kampus tentu membutuhkan pembangunan.


Tetapi pembangunan fisik idealnya berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan yang paling dekat dengan aktivitas akademik mahasiswa.


Sederhananya, jangan sampai gedung terus bertambah, tetapi mahasiswa masih kesulitan mendapatkan ruang untuk belajar, berlatih dan berkarya.


Bukan Sekadar Soal Gedung


Karakter pendidikan di ISI Padang Panjang membuat persoalan fasilitas memiliki dimensi yang berbeda dibandingkan perguruan tinggi yang sebagian besar proses pembelajarannya berlangsung di ruang kelas konvensional.


Pendidikan seni membutuhkan praktik.


Mahasiswa membutuhkan studio, ruang latihan, laboratorium, perangkat teknologi, peralatan produksi, ruang pertunjukan dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.


Fasilitas tersebut bukan sekadar pelengkap.


Ia merupakan bagian dari proses akademik itu sendiri.


Mahasiswa seni tidak cukup hanya membaca teori mengenai fotografi, musik, televisi, film atau disiplin seni lainnya.


Mereka harus mencoba.


Mereka harus berlatih.


Mereka harus mengulang.


Mereka harus bereksperimen.


Dan pada akhirnya, mereka harus menghasilkan karya.


Karena itu, ketika ruang atau peralatan tidak tersedia secara memadai, persoalannya tidak berhenti pada ketidaknyamanan.


Ada proses akademik yang berpotensi ikut terganggu.


Di sinilah keluhan mahasiswa menjadi penting untuk dijawab secara terbuka oleh pengelola kampus.


Bukan hanya dengan menjelaskan bahwa pembangunan sedang berjalan, tetapi juga dengan menjelaskan peta kebutuhan fasilitas setiap program studi, skala prioritas pembangunan, target penyelesaian, serta rencana pemeliharaan fasilitas yang sudah ada.


Fotografi: Ketika Mahasiswa Harus Berburu Ruang Kelas Kosong


Salah satu persoalan yang disuarakan mahasiswa datang dari Program Studi Fotografi.


Mahasiswa mengaku keterbatasan ruang membuat kegiatan pembelajaran dan praktik tidak selalu berlangsung di ruang yang secara khusus diperuntukkan bagi kebutuhan mereka.


Dalam kondisi tertentu, mahasiswa harus mencari ruang kelas yang sedang kosong untuk menjalankan aktivitas akademik.


Situasi tersebut memunculkan pertanyaan sederhana tetapi mendasar:


Jika mahasiswa sebuah program studi harus berburu ruang kosong untuk belajar, sebenarnya di mana ruang belajar mereka?


“Di Fotografi kami sering menumpang dan mencari kelas kosong. Apakah itu namanya adil dan merata?” ujar seorang mahasiswa.


Pernyataan tersebut membuka persoalan yang lebih luas mengenai pemerataan fasilitas.


Pemerataan tidak seharusnya hanya dihitung dari berapa banyak gedung yang dimiliki kampus.


Sebab, setiap program studi memiliki karakter pembelajaran berbeda.


Kebutuhan mahasiswa fotografi tentu tidak sama dengan mahasiswa musik. Begitu pula kebutuhan mahasiswa televisi dan film tidak identik dengan program studi lainnya.


Karena itu, ukuran pemerataan fasilitas semestinya bukan hanya:


berapa ruangan yang tersedia?


Tetapi juga:


apakah ruangan tersebut sesuai dengan kebutuhan akademik mahasiswa yang menggunakannya?


Fotografi membutuhkan ruang untuk praktik, pengolahan karya, penggunaan perangkat fotografi serta aktivitas kreatif lainnya.


Jika mahasiswa harus berpindah-pindah dan bergantung pada ruang kosong, maka persoalannya bukan lagi sekadar kenyamanan.


Ada persoalan tentang kepastian ruang belajar.


Seni Musik: Ketika Waktu Latihan Berbenturan dengan Jam Operasional


Persoalan berbeda muncul di Program Studi Seni Musik.


Bagi mahasiswa musik, proses pendidikan tidak selalu selesai ketika dosen mengakhiri perkuliahan.


Latihan ansambel, kelompok musik, persiapan ujian, latihan pertunjukan hingga kegiatan orkestra membutuhkan waktu tambahan.


Bahkan dalam praktiknya, malam hari sering menjadi waktu yang dianggap paling memungkinkan bagi mahasiswa untuk berlatih bersama.


Namun, mahasiswa mengaku penggunaan ruang pada malam hari menghadapi pembatasan.


Di sinilah terjadi benturan antara kebutuhan akademik dan tata kelola operasional fasilitas.


“Waktu yang bisa kami gunakan untuk latihan justru malam. Tetapi ketika kami latihan, kami diminta keluar,” ujar seorang mahasiswa.


Pertanyaannya kemudian menjadi sangat sederhana:


Jika perkuliahan berlangsung pagi hingga sore, sementara latihan dibatasi pada malam hari, kapan mahasiswa mendapatkan waktu yang cukup untuk berlatih?


Ruang latihan bagi mahasiswa musik bukan sekadar tempat berkumpul.


Di sanalah kemampuan musikal dibangun.


Di sanalah mahasiswa mengulang bagian yang belum sempurna.


Di sanalah sebuah kelompok musik menyatukan tempo, dinamika dan interpretasi.


Dan di sanalah persiapan pertunjukan dilakukan.


Karena itu, persoalan jam operasional semestinya tidak dilihat hanya dari sisi keamanan, ketertiban atau administrasi.


Pengelola kampus perlu mencari titik temu agar kebutuhan akademik tetap terpenuhi tanpa mengabaikan aspek keamanan dan tata kelola fasilitas.


Jangan sampai aturan penggunaan gedung justru tidak sinkron dengan karakter pendidikan yang berlangsung di dalamnya.


Televisi dan Film: Ketika Teknologi Kampus Berhadapan dengan Industri yang Berlari


Persoalan fasilitas juga disuarakan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film.


Sorotan mereka salah satunya berkaitan dengan kondisi sejumlah peralatan praktik yang dinilai telah lama digunakan dan membutuhkan pembaruan.


Persoalan ini tidak sederhana.


Dunia televisi dan film bergerak sangat cepat.


Teknologi kamera berkembang.


Perangkat audio berubah.


Sistem pencahayaan terus mengalami inovasi.


Teknologi editing semakin maju.


Begitu pula perangkat produksi lainnya.


Mahasiswa yang nantinya masuk ke industri kreatif tentu dituntut memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi.


Maka persoalan utamanya bukan semata-mata:


“Apakah alat lama masih bisa digunakan?”


Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:


“Apakah peralatan yang tersedia masih mampu memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini?”


Sebab, alat yang masih menyala belum tentu berarti fasilitas tersebut sudah memadai untuk kebutuhan pendidikan.


Jika terdapat jarak yang terlalu jauh antara teknologi yang dipelajari mahasiswa di kampus dengan teknologi yang digunakan di industri, maka lulusan berpotensi menghadapi persoalan adaptasi ketika memasuki dunia profesional.


Dan pada titik ini, fasilitas bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan.


Ia berkaitan dengan kualitas kompetensi lulusan.


Atap Bocor, Lantai Menetes: Bagaimana Pemeliharaan Gedung?


Selain ruang dan peralatan, mahasiswa juga menyoroti kondisi sejumlah fasilitas gedung.


Keluhan yang muncul antara lain berkaitan dengan kebocoran, lantai yang terkena tetesan air hingga kondisi toilet yang dinilai belum memadai.


Persoalan seperti ini mungkin terlihat sederhana.


Namun justru dari persoalan sederhana itulah kualitas pengelolaan fasilitas dapat dirasakan langsung oleh mahasiswa.


Sebuah gedung yang megah sekalipun tidak akan banyak berarti apabila fasilitas di dalamnya tidak dirawat secara konsisten.


Pembangunan dan pemeliharaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.


Gedung baru membutuhkan anggaran pemeliharaan.


Gedung lama membutuhkan perawatan dan perbaikan.


Peralatan membutuhkan pembaruan.


Fasilitas akademik membutuhkan evaluasi berkala.


Jika pembangunan baru terus dilakukan sementara fasilitas yang sudah digunakan sehari-hari tidak mendapatkan pemeliharaan yang memadai, maka akan muncul pertanyaan mengenai efektivitas prioritas anggaran dan perencanaan fasilitas.


Pembangunan Mangkrak Juga Menjadi Pertanyaan


Di tengah berbagai persoalan tersebut, mahasiswa juga menyoroti keberadaan sejumlah pembangunan fisik yang dinilai belum tuntas.


Namun sekali lagi, mahasiswa menegaskan mereka tidak sedang mempertentangkan pembangunan fisik dengan kebutuhan fasilitas akademik.


Mereka mendukung pembangunan.


Yang mereka minta adalah kejelasan.


Jika pembangunan memang dibutuhkan, mahasiswa tentu berharap proyek tersebut dapat diselesaikan sehingga memberikan manfaat nyata.


Sebab pembangunan yang berhenti di tengah jalan bukan hanya meninggalkan bangunan yang belum berfungsi.


Ia juga meninggalkan pertanyaan:


Mengapa pembangunan tersebut belum selesai?


Apa kendalanya?


Kapan akan dilanjutkan?


Berapa anggaran yang telah terserap?


Dan kapan mahasiswa dapat benar-benar merasakan manfaatnya?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan.


Justru sebaliknya.


Mahasiswa ingin memastikan pembangunan yang dilakukan benar-benar berujung pada peningkatan kualitas lingkungan akademik.


Pertanyaan Besarnya: Apa Skala Prioritas ISI Padang Panjang?


Pada akhirnya, seluruh persoalan tersebut bermuara pada satu pertanyaan:


Apa sebenarnya skala prioritas pembangunan fasilitas di ISI Padang Panjang?


Apakah pembangunan lebih diarahkan pada penambahan bangunan baru?


Ataukah pembangunan berjalan seimbang dengan kebutuhan ruang belajar, studio, peralatan praktik, pemeliharaan gedung dan fasilitas pendukung?


Pertanyaan itu penting karena keberhasilan pembangunan kampus tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah bangunan yang berdiri.


Gedung adalah sesuatu yang mudah dilihat.


Tetapi kualitas pendidikan justru sering kali ditentukan oleh hal-hal yang lebih sederhana:


Apakah mahasiswa memiliki ruang untuk belajar?


Apakah mereka memiliki tempat untuk berlatih?


Apakah peralatan yang digunakan masih relevan?


Apakah fasilitas tersebut dapat digunakan ketika benar-benar dibutuhkan?


Apakah gedung yang tersedia dirawat dengan baik?


Dan yang tidak kalah penting:


Apakah setiap program studi memperoleh fasilitas yang sesuai dengan karakter pendidikannya?


Kampus Seni Tidak Hanya Membutuhkan Gedung


ISI Padang Panjang merupakan institusi pendidikan seni.


Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan fasilitas semestinya tidak berhenti pada berapa banyak bangunan yang berhasil didirikan.


Kampus seni membutuhkan sesuatu yang lebih fundamental.


Ruang untuk mencipta.


Alat untuk berkarya.


Tempat untuk bereksperimen.


Waktu untuk berlatih.


Dan fasilitas yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan kompetensinya secara maksimal.


Tanpa itu semua, pembangunan fisik berisiko hanya menjadi statistik pembangunan.


Sementara mahasiswa tetap menghadapi persoalan yang sama setiap hari.


Di ruang kelas.


Di studio.


Di ruang latihan.


Di laboratorium.


Di ruang produksi.


Di tempat mereka seharusnya belajar dan berkarya.


Bola Kini di Tangan Pengelola Kampus


Gelombang keluhan mahasiswa tersebut pada akhirnya menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola ISI Padang Panjang.


Mahasiswa telah menyampaikan persoalan yang mereka rasakan.


Kini publik menunggu penjelasan institusi.


Bagaimana sebenarnya kondisi fasilitas setiap program studi?


Berapa kebutuhan ruang yang ideal?


Apa saja fasilitas yang menjadi prioritas?


Bagaimana status pembangunan fisik yang belum selesai?


Bagaimana mekanisme pemeliharaan gedung?


Bagaimana kebijakan penggunaan ruang latihan di luar jam perkuliahan?


Dan bagaimana strategi kampus memastikan peralatan praktik tetap relevan dengan perkembangan industri kreatif?


Jawaban atas pertanyaan tersebut penting agar persoalan fasilitas tidak berhenti sebagai polemik antara mahasiswa dan pengelola kampus.


Lebih dari itu, jawaban tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa pembangunan benar-benar memiliki arah yang jelas.


Sebab mahasiswa bukan hanya membutuhkan kampus yang terlihat berkembang.


Mereka membutuhkan kampus yang benar-benar terasa berkembang.


Dan perbedaan antara keduanya terletak pada satu hal:


manfaat yang dirasakan mahasiswa.


Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan ISI Padang Panjang bukan semata-mata berapa banyak gedung yang berdiri.


Bukan pula seberapa besar nilai proyek yang terealisasi.


Tetapi seberapa jauh pembangunan tersebut mampu menjawab kebutuhan akademik.


Sebab bagi mahasiswa, kampus bukan sekadar kumpulan bangunan.


Kampus adalah tempat mereka belajar, berlatih, mencipta dan mempersiapkan masa depan.


Maka ketika ruang belajar masih harus dicari, ruang latihan berbenturan dengan jam operasional, peralatan praktik membutuhkan pembaruan, fasilitas gedung menghadapi persoalan pemeliharaan, sementara sebagian pembangunan fisik belum juga tuntas, wajar jika mahasiswa kemudian bertanya:


“Sebenarnya, pembangunan ini sedang dibangun untuk siapa?”


Pertanyaan itu kini menunggu jawaban.


Bukan sekadar jawaban administratif.


Melainkan penjelasan yang terbuka, terukur dan dapat dibuktikan melalui perubahan nyata yang dirasakan mahasiswa.


(AK)


#Headline #ISIPadangPanjang #Demonstrasi

×
Berita Terbaru Update