
Mahasiswa ISI Padang Panjang Bertahan Semalaman di Depan Rektorat, Desak Rektor Turun: “Kami Tunggu Sampai Pagi!”
AK47, PADANG PANJANG — Aksi mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang memasuki fase yang semakin panas.
Bukan lagi sekadar aksi menyampaikan aspirasi. Kamis (3/9/2026), halaman Gedung Rektorat ISI Padang Panjang berubah menjadi arena tarik-menarik sikap antara mahasiswa dan pimpinan kampus.
Mahasiswa datang membawa sejumlah tuntutan terkait fasilitas dan kondisi lingkungan akademik. Namun, pertemuan dengan jajaran wakil rektor belum mampu mengakhiri aksi.
Ada satu tuntutan yang terus digaungkan mahasiswa:
Mereka ingin Rektor ISI Padang Panjang hadir dan memberikan jawaban secara langsung.
Jajaran pimpinan kampus memang telah menemui massa. Namun, absennya Rektor justru membuat mahasiswa memilih bertahan.
“Kami Mau Pak Rektor Hadir”
Wakil Rektor III ISI Padang Panjang, Susasrita Loravianti, S.Sn., M.Sn., mengatakan pihak kampus telah membaca sebagian tuntutan mahasiswa.
Karena Rektor sedang tidak berada di tempat, para wakil rektor menyatakan siap menerima aspirasi dan memberikan penjelasan berdasarkan kewenangan masing-masing.
“Kami sebagian kecil sudah membaca tuntutan adik-adik. Karena Rektor tidak ada di tempat, kami siap menjelaskan apa yang menjadi tuntutan adik-adik.”
Pihak kampus bahkan berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan pada hari yang sama sehingga tidak berkembang menjadi aksi lanjutan.
“Saya berharap ini bisa selesai hari ini dan tidak ada lanjutannya aksi berikutnya.”
Namun, mahasiswa tidak langsung menerima tawaran tersebut.
Mereka justru mempertegas tuntutan agar Rektor hadir.
“Kami mau Pak Rektor bisa hadir bersama untuk menjelaskan tuntutan kami ini.”
Yel-yel mahasiswa langsung menggema.
Pesan yang muncul dari massa aksi cukup jelas: mereka tidak ingin persoalan yang telah dibawa ke depan Rektorat berhenti hanya pada dialog dengan jajaran wakil rektor.
Kampus Tawarkan Dialog, Mahasiswa Tak Bergeming
Wakil Rektor II ISI Padang Panjang, Dr. Iswandi, S.Pd., M.Pd., kemudian mencoba membuka ruang penyelesaian.
Ia menawarkan agar persoalan dibahas melalui diskusi bersama pimpinan kampus yang berada di lokasi.
“Bagaimana kalau persoalan ini kita tuntaskan melalui diskusi sekarang? Kira-kira adik-adik setuju atau tidak? Kalau mau selesai sekarang, kita diskusikan, sehingga besok tidak ada lagi aksi.”
Namun mahasiswa tetap meminta Rektor.
Iswandi kemudian menjelaskan bahwa wakil rektor memiliki keterbatasan kewenangan dalam mengambil keputusan yang menjadi kewenangan Rektor.
“Kalau adik-adik ingin bertemu dengan Pak Rektor, orang nomor satu di sini, tentu kami sebagai wakil rektor tidak bisa mengambil alih semua kebijakan yang diambil Pak Rektor.”
Di sinilah kebuntuan terjadi.
Kampus ingin persoalan dibicarakan sekarang. Mahasiswa ingin orang nomor satu di kampus hadir lebih dulu.
Prosedur Aksi Ikut Dipersoalkan
Ketegangan semakin melebar ketika pihak kampus menyinggung prosedur penyampaian aspirasi.
Wakil Dekan III Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Enrico Alamo, S.Sn., M.Sn., mengatakan berdasarkan praktik kegiatan kemahasiswaan, pemberitahuan aksi semestinya disampaikan tiga kali 24 jam sebelum kegiatan.
“Seharusnya adik-adik memasukkan surat tiga kali 24 jam sebelum kegiatan dilakukan karena itu ada dalam praktik kegiatan kemahasiswaan.”
Enrico mengatakan dirinya baru menerima informasi mengenai aksi tersebut pada Kamis pagi melalui petugas keamanan kampus.
“Saya baru mendapatkan surat ini. Ada 16 orang perwakilan Aliansi Mahasiswa ISI Padang Panjang yang akan menyampaikan aspirasinya. Surat itu saya dapatkan tadi dari satpam pagi hari. Saya belum mendapatkan bagaimana prosedur pelaksanaan ini.”
Namun, persoalan administratif tersebut tidak membuat pihak kampus menutup pintu komunikasi.
Loravianti menyatakan dirinya tetap berkewajiban memfasilitasi mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi.
“Karena bidang saya yang harus mewadahi dan memfasilitasi kegiatan kemahasiswaan tiba-tiba, tetapi saya melihat ada teman-teman yang ingin berkumpul untuk menyampaikan aspirasi. Maka saya memanggil 16 orang perwakilan Aliansi Mahasiswa tadi.”
Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Dekan III FSRD Rajudin, S.Pd., M.Sn.
Rektor Ditunggu Jumat Pagi
Pihak kampus kemudian mencoba mencari jalan keluar.
Loravianti menawarkan agar pertemuan mahasiswa dengan Rektor dilakukan Jumat (4/9/2026) pukul 09.00 WIB.
Alasannya, Rektor tidak berada di tempat saat aksi berlangsung dan tidak semua jajaran pimpinan kampus hadir.
“Karena hari ini Rektor tidak ada dan tidak semua pimpinan berada di tempat, bagaimana kalau audiensi kita sepakati besok saja pukul 09.00 pagi.”
Kampus juga meminta mahasiswa mempersiapkan pertemuan tersebut dengan baik agar seluruh tuntutan dapat dibahas satu per satu.
“Apabila adik-adik hari ini juga ingin bertemu Pak Rektor, tentu tidak mungkin. Sebaiknya kita persiapkan pertemuan dengan Rektor ini dengan baik kalau memang adik-adik ingin bertemu dengan Rektor.”
Pihak kampus menegaskan siap memberikan jawaban atas tuntutan mahasiswa.
Menurut Loravianti, masing-masing bidang telah berbagi tugas untuk memberikan penjelasan, termasuk terkait fasilitas di lingkungan fakultas.
“Kami juga siap menerima dan siap menjelaskan sesuai dengan masing-masing fasilitas yang ada di Fakultas Seni Rupa, Seni Pertunjukan, serta Seni Rupa dan Desain. Kami sudah berbagi tugas dan anggaran untuk menjawab pertanyaan adik-adik semua.”
Ia memastikan tuntutan mahasiswa akan dibahas berdasarkan poin-poin yang telah diserahkan.
“Semua akan dijelaskan mulai dari poin satu, dua dan tiga yang telah diberikan oleh teman-teman kepada kami.”
Mahasiswa Tolak Pulang
Tetapi lagi-lagi, tawaran tersebut belum menyelesaikan persoalan.
Mahasiswa memilih bertahan di depan Gedung Rektorat.
Mereka tidak sepakat jika persoalan hanya dibawa oleh perwakilan organisasi mahasiswa dalam pertemuan dengan pimpinan.
Bagi mahasiswa, tuntutan tersebut harus mendapatkan jawaban langsung dari Rektor.
“Kami akan menunggu kehadiran Pak Rektor sampai pagi esok di depan Gedung Rektorat.”
Kalimat itu sekaligus menjadi penegasan bahwa mahasiswa belum menganggap aksi selesai.
Mereka memilih menunggu.
Bertahan.
Dan memastikan Rektor datang menemui mereka.
Pernyataan “2014” Bikin Suasana Memanas
Situasi semakin sensitif ketika mahasiswa menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya pembatasan terhadap aksi mereka.
Dalam suasana aksi yang masih berlangsung, mahasiswa secara serentak menyampaikan:
“Apabila nanti malam kami dicekal, kami tidak menjamin peristiwa 2014 akan terulang kembali.”
Pernyataan tersebut menjadi salah satu titik paling tegang dalam aksi.
Namun hingga berita ini ditayangkan, mahasiswa masih bertahan di lingkungan Gedung Rektorat.
Tidak ada tanda-tanda mereka akan meninggalkan lokasi sebelum mendapatkan kepastian mengenai kehadiran Rektor.
Jumat Pagi Jadi Penentu
Aksi mahasiswa ISI Padang Panjang kini memasuki situasi yang menarik perhatian.
Pihak kampus telah menawarkan dialog.
Jadwal audiensi bersama Rektor juga telah ditawarkan untuk Jumat pagi pukul 09.00 WIB.
Namun mahasiswa memilih tetap bertahan.
Bagi kampus, dialog adalah jalan keluar. Bagi mahasiswa, kehadiran Rektor adalah kunci.
Perbedaan sikap inilah yang membuat persoalan belum menemukan titik temu.
Jika Rektor hadir dan dialog berjalan terbuka, Jumat pagi bisa menjadi pintu penyelesaian.
Namun jika kembali terjadi kebuntuan, aksi mahasiswa berpotensi memasuki babak berikutnya.
Yang jelas, halaman Gedung Rektorat ISI Padang Panjang malam ini bukan sekadar tempat berkumpulnya mahasiswa.
Di tempat itu, aspirasi sedang diuji: apakah cukup dijawab dengan pertemuan, atau harus didengar langsung oleh orang nomor satu di kampus.
Mahasiswa telah menyatakan sikap.
Mereka akan menunggu sampai pagi.
Kini, perhatian tertuju pada satu hal:
Apakah Rektor ISI Padang Panjang benar-benar akan turun menemui mahasiswa dan menjawab tuntutan mereka secara langsung?
(AK)
#Headline #Demonstrasi #ISIPadangPanjang