
Banjir Belum Usai, Krisis Air Mengintai: Perumda AM Padang Kebut IPA Gunung Pangilun, Ditarget Tuntas Akhir Bulan
AK47, Padang — Bencana datang silih berganti. Saat sejumlah infrastruktur Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kota Padang masih dalam proses pemulihan akibat bencana besar akhir tahun lalu, banjir kembali menerjang pada awal Agustus dan membuat pekerjaan Perumda Air Minum (AM) Kota Padang semakin berat.
Kondisi itu ibarat sudah jatuh, masih harus menanggung beban berikutnya.
Sejumlah fasilitas vital penyediaan air bersih kembali terdampak. Pipa-pipa rusak, akses air baku terganggu, sedimentasi menumpuk dan tingkat kekeruhan air meningkat drastis.
Di tengah kondisi tersebut, Perumda AM Kota Padang kini berpacu dengan waktu. Salah satu pekerjaan yang menjadi prioritas adalah memulihkan IPA Gunung Pangilun, yang ditargetkan dapat kembali berfungsi optimal pada akhir Agustus 2026.
Perbaikan ini menjadi sangat penting karena IPA Gunung Pangilun merupakan salah satu fasilitas utama yang menopang produksi air untuk sejumlah kawasan di Kota Padang.
Kepala Humas Perumda AM Kota Padang, Adhie Zein, mengakui gangguan pelayanan yang dirasakan pelanggan merupakan konsekuensi dari kerusakan infrastruktur akibat bencana.
Atas kondisi tersebut, manajemen Perumda AM Padang menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan.
“Kepada seluruh pelanggan kami di seluruh Kota Padang, kami dari manajemen Perumda Air Minum Kota Padang pertama meminta maaf atas ketidaknyamanan dari layanan ini setelah beberapa bulan pascaterjadinya bencana. Namun kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan,” ujar Adhie, Jumat (7/8/2026).
Satu per satu infrastruktur harus dipulihkan
Bencana akhir tahun lalu memberikan pukulan berat terhadap sejumlah infrastruktur SPAM. Intake Guo Kuranji, Lubuk Paraku dan Kampung Koto Gunung Pangilun mengalami kerusakan serius.
Belum seluruhnya pulih, banjir yang melanda Kota Padang pada Senin (3/8/2026) kembali menambah persoalan.
Sejumlah pipa di berbagai intake mengalami kerusakan. Perumda AM Padang pun langsung melakukan penanganan untuk mengurangi dampak terhadap distribusi air kepada pelanggan.
Namun pekerjaan tidak berhenti pada perbaikan pipa.
Tiga titik intake yang terdampak bencana akhir tahun lalu masih menjadi fokus pemulihan, sementara kondisi air baku di beberapa lokasi juga menjadi tantangan tersendiri.
IPA Gunung Pangilun Jadi Prioritas
Salah satu titik paling krusial berada di IPA Gunung Pangilun.
Instalasi tersebut memiliki dua accelerator dengan kapasitas masing-masing 250 liter per detik, sehingga secara keseluruhan mampu menopang kapasitas sekitar 500 liter per detik.
Namun saat ini salah satu accelerator masih dalam proses perbaikan. Akibatnya, hanya satu unit yang dapat difungsikan.
Padahal accelerator memiliki peran penting dalam proses pengolahan air baku.
Unit tersebut menjadi bagian sentral dari proses penjernihan air dengan menjalankan beberapa tahapan sekaligus, mulai dari koagulasi atau pencampuran bahan kimia, flokulasi untuk membentuk gumpalan partikel, hingga sedimentasi untuk mengendapkan lumpur dan kotoran.
Ketika salah satu accelerator tidak dapat beroperasi, kapasitas pengolahan pun ikut terdampak.
Dampaknya kemudian terasa pada distribusi air, terutama di kawasan Pusat Kota, Gunung Pangilun, sebagian Padang Sarai dan wilayah sekitarnya.
Karena itu, perbaikan IPA Gunung Pangilun kini dikebut.
Targetnya jelas: pekerjaan dituntaskan pada akhir Agustus 2026.
Perumda AM Padang berharap setelah fasilitas tersebut kembali berfungsi optimal, kapasitas produksi dapat ditingkatkan dan distribusi kepada pelanggan berangsur kembali normal.
Intake Kampung Koto Dihantam Banjir
Masalah lain terjadi pada Intake Kampung Koto, Gunung Pangilun.
Bak prasedimentasi yang sebelumnya telah dikerjakan oleh Hutama Karya (HK) ikut terdampak banjir.
Tidak hanya bangunan yang menjadi persoalan. Debit air baku sungai yang meningkat membuat tingkat kekeruhan air berada di luar batas kemampuan pengolahan.
Air sungai membawa lumpur dan sedimen dalam jumlah besar sehingga proses pengolahan menjadi jauh lebih sulit.
Kondisi tersebut membuat sistem produksi pusat harus ditangani secara hati-hati agar air yang diolah tetap memenuhi standar proses pengolahan sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Bendungan Sementara Guo Kuranji Hanyut
Di Intake Guo Kuranji, persoalannya berbeda.
Bendungan sementara yang sebelumnya telah dibangun untuk mendukung pengambilan air baku hanyut diterjang derasnya arus banjir.
Material bendungan yang terbawa arus kemudian mengganggu akses air baku menuju fasilitas pengolahan.
Gangguan tersebut berdampak terhadap distribusi air di sejumlah kawasan, antara lain Belimbing, Bukit Belimbing Indah, Taruko I dan II, Kalumbuk, Balai Baru, Wahana VI, Buana Indah III, Rimbo Tarok serta Tarok Indah I dan II.
Artinya, kerusakan yang terjadi di satu titik intake tidak berhenti di lokasi tersebut.
Efeknya bisa menjalar ke jaringan distribusi dan dirasakan oleh pelanggan di kawasan yang cukup luas.
Lubuk Paraku Terkendala Air Baku yang Terlalu Keruh
Sementara itu, Intake Lubuk Paraku menghadapi persoalan kualitas air baku.
Air yang masuk berada dalam kondisi sangat keruh karena membawa sedimen, lumpur dan material lain akibat derasnya arus banjir.
Kondisi air baku tersebut membuat proses pengolahan tidak dapat berjalan secara maksimal.
Akibatnya, pelayanan air di sejumlah kawasan bagian selatan Kota Padang ikut terdampak.
Persoalan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali infrastruktur yang rusak. Kualitas sumber air baku juga menjadi faktor penting.
Palukahan Menunggu Tahap Perbaikan
Selain Guo Kuranji, Lubuk Paraku dan Kampung Koto, Intake Palukahan juga masuk dalam agenda pemulihan.
Namun pengerjaannya belum dapat dimulai dan akan dilakukan secara bertahap bersama pemerintah.
Perumda AM Padang menyadari proses pemulihan membutuhkan waktu karena kerusakan terjadi pada beberapa titik dengan kondisi lapangan yang berbeda.
Karena itu, penanganan dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan kemampuan sistem dalam menjaga pelayanan kepada pelanggan.
Perumda: Pelanggan Diminta Bersabar dan Hemat Air
Adhie meminta pelanggan bersabar selama proses perbaikan berlangsung.
Ia mengatakan Perumda AM Padang terus berkoordinasi dengan pemerintah dan pihak terkait, termasuk Hutama Karya, untuk mempercepat pemulihan fasilitas yang terdampak.
Di sisi lain, pelanggan juga diminta mengambil peran dengan menghemat penggunaan air.
“Kami meminta kepada pelanggan untuk bersabar selama proses pengerjaan IPA yang sedang kami lakukan bersama pemerintah melalui Hutama Karya. Kami juga mengimbau kepada pelanggan agar bisa menghemat air, jangan lupa mematikan keran sesudah penggunaan air dan gunakanlah air seperlunya,” katanya.
Imbauan tersebut menjadi penting karena selama kapasitas produksi belum sepenuhnya pulih, penggunaan air yang tidak terkendali dapat semakin membebani sistem distribusi.
Melayani Sekitar 150 Ribu Pelanggan
Besarnya pekerjaan pemulihan ini tidak terlepas dari luasnya jaringan pelayanan Perumda AM Padang.
Saat ini, perusahaan melayani sekitar 150 ribu pelanggan yang tersebar di berbagai wilayah Kota Padang.
Sistem produksinya terbagi dalam tiga kelompok besar, yakni produksi pusat, produksi selatan dan produksi utara.
Produksi pusat berasal dari Intake Kampung Koto menuju IPA Gunung Pangilun.
Sementara produksi selatan meliputi sejumlah sistem, antara lain Intake Paraku–IPA Lubuk Paraku, Intake Paluki–IPA Paluki 1A dan 1B, Intake Paluki-Sikayan–IPA Silayan dan IPA Ruhak Pala, Intake Gambir–IPA Gambir, Intake Bungus–IPA Bungus serta Intake Jawa Gadut–IPA Jawa Gadut.
Sedangkan produksi utara meliputi Intake Palukahan–IPA Taban dan IPA Palukahan, Intake Garing, Intake Latung, Intake Sungai Duo, Intake Taban, Intake Sarik–IPA Latung serta Intake Guo Kuranji–IPA Guo Kuranji.
Dengan jaringan sebesar itu, kerusakan pada satu fasilitas dapat memengaruhi sistem secara lebih luas.
Bukan Gangguan Biasa, Ini Efek Berantai Bencana
Perumda AM Padang menegaskan gangguan pelayanan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari bencana alam yang menghantam sejumlah infrastruktur utama.
Mulai dari intake yang rusak, bendungan sementara yang hanyut, pipa yang terdampak, bak prasedimentasi yang tergenang, hingga tingginya kekeruhan air baku.
Semuanya saling berkaitan.
Jika air baku tidak dapat masuk secara optimal, produksi terganggu. Ketika produksi turun, distribusi kepada pelanggan ikut terdampak.
Karena itu, pemulihan harus dilakukan dari hulu hingga hilir.
Perumda AM Padang kini berpacu dengan waktu untuk mengembalikan kemampuan sistem secara bertahap.
Akhir Agustus menjadi salah satu tenggat penting.
Perbaikan IPA Gunung Pangilun diharapkan selesai dan kembali memperkuat kapasitas produksi. Sementara titik-titik intake lainnya terus ditangani secara bertahap sesuai kondisi dan tingkat kerusakannya.
Bagi Perumda AM Padang, pekerjaan ini bukan sekadar memperbaiki instalasi yang rusak.
Di balik setiap intake, pipa dan instalasi pengolahan, ada kebutuhan dasar sekitar 150 ribu pelanggan yang menunggu satu hal sederhana: air kembali mengalir dengan normal.
Dan kini, setelah dihantam bencana berkali-kali, Perumda AM Padang harus memastikan sistem penyediaan air minum Kota Padang benar-benar bangkit kembali lebih cepat, lebih kuat dan lebih siap menghadapi ancaman bencana berikutnya.
(AK)
#PerumdaAirMinum #Padang #Daerah #Headline