![]() |
| Dua Polisi Jambi Dipecat Usai Perkosa Remaja Calon Polwan, Dugaan Pelaku Lain Menguat |
AK47, JAMBI — Kepolisian kembali tercoreng oleh kejahatan yang dilakukan dari dalam tubuhnya sendiri. Dua anggota Polri, Bripda Nabil Ijlal Fadlul Rahman dan Bripda Samson Pardamean, resmi dipecat tidak hormat (PTDH) setelah terbukti melakukan tindak pemerkosaan terhadap seorang remaja putri berinisial C (18) seorang anak muda yang ironisnya bercita-cita menjadi Polwan.
Kasus ini bukan sekadar pelanggaran etik. Ini adalah pengkhianatan terhadap seragam, kekuasaan, dan rasa aman publik.
Digiring Diborgol, Kehormatan Runtuh di Ruang Sidang
Sidang Komisi Etik Profesi Polri (KEPP) digelar di Mapolda Jambi, Jumat (6/2/2026), berlangsung selama hampir 14 jam—sejak pagi hingga larut malam. Kedua terdakwa etik digiring ke ruang sidang dengan seragam dinas Polri dan tangan diborgol, simbol nyata bahwa kewenangan yang mereka sandang telah berubah menjadi alat kejahatan.
Majelis KEPP menyatakan keduanya melakukan pelanggaran berat berupa tindakan asusila, pelanggaran yang tidak hanya merusak korban, tetapi juga merobek kepercayaan masyarakat terhadap Polri.
“Diputuskan pemberhentian tidak dengan hormat,” tegas Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Erlan Munaji.
PTDH Bukan Akhir, Pidana Harus Jadi Jawaban
Polda Jambi menegaskan pemecatan bukan penutup perkara. Proses pidana masih berjalan dan menjadi penentu utama apakah negara benar-benar hadir membela korban, bukan melindungi pelaku berseragam.
Penyidikan dilakukan oleh Ditreskrimum Polda Jambi, sementara Propam disebut telah bergerak sejak laporan masuk pada 6 Januari 2026. Namun, publik bertanya:
apakah pengusutan ini akan berhenti di dua nama saja?
Pengakuan Korban: Ada Dugaan Pelaku Lain
Pertanyaan itu menguat setelah kuasa hukum korban, Romiyanto, menyampaikan fakta krusial: berdasarkan pengakuan korban, dugaan keterlibatan oknum lain tidak bisa diabaikan.
“Peristiwa ini terjadi di dua lokasi berbeda. Kami mendesak penyelidikan dibuka selebar-lebarnya,” ujarnya.
Pernyataan ini menempatkan Polda Jambi pada posisi genting. Transparansi atau krisis kepercayaan lanjutan.
Mimpi Calon Polwan yang Dihancurkan Aparat
Yang paling memilukan, korban adalah remaja yang bermimpi mengenakan seragam Polwan simbol pengabdian dan perlindungan. Namun mimpi itu hancur oleh tindakan brutal oknum yang seharusnya menjadi panutan.
Kasus ini membuka luka lama: kerentanan perempuan ketika berhadapan dengan aparat bersenjata kewenangan. Tanpa pengawasan ketat, kekuasaan berubah menjadi ancaman.
Ujian Nyata bagi Reformasi Polri
Kasus Jambi ini bukan sekadar soal dua Bripda. Ini adalah ujian telanjang bagi reformasi Polri:
- Apakah hukum benar-benar tajam ke dalam?
- Apakah korban akan dilindungi, bukan dibungkam?
- Apakah semua pelaku akan diungkap, tanpa pandang pangkat dan jabatan?
Publik kini menunggu lebih dari sekadar pernyataan.
Yang ditunggu adalah keberanian Polri membongkar kasus ini sampai ke akar.
(AK)
#Polri #Kriminal #Perkosaan
