![]() |
| Joko Widodo saat pidato dalam rangkaian Rakernas PSI yang berlangsung di Hotel Claro, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Sabtu (31/1/2026). Foto: Tangkap layar YouTube PSI |
AK47, Makassar – Tidak lagi samar, tidak lagi setengah-setengah. Joko Widodo (Jokowi) secara terbuka mendeklarasikan keberpihakannya kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dari panggung Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Hotel Claro, Makassar, Sabtu (31/1/2026), Presiden ke-7 RI itu menyampaikan pesan politik paling gamblang sejak lengser dari Istana: ia siap menjadi mesin utama PSI.
Kalimat Jokowi tidak menyisakan ruang tafsir abu-abu.
“Saudara bekerja mati-matian untuk PSI. Saya pun akan bekerja mati-matian untuk PSI.”
Sorakan kader PSI langsung menggema. Ini bukan sekadar pidato penyemangat. Ini adalah pernyataan komando.
Jokowi bahkan mengulangnya dengan tekanan yang lebih keras:
“Saudara bekerja habis-habisan untuk PSI. Saya pun akan bekerja habis-habisan untuk PSI.”
Di titik ini, pesan Jokowi jelas: PSI bukan lagi sekadar partai yang ia simpatikan, melainkan kendaraan politik yang ia siapkan untuk masa depan kekuasaan.
Bukan Simbol, Jokowi Menawarkan Diri Jadi Mesin Politik
Berbeda dengan tokoh-tokoh purnapresiden sebelumnya yang memilih menjaga jarak dari aktivitas partai, Jokowi justru mengambil jalan sebaliknya. Ia menyatakan siap “turun gunung” secara fisik dan politik, dari kota hingga kecamatan.
“Kalau dibutuhkan saya harus datang, saya masih sanggup.”
Ia menegaskan sanggup mendatangi kabupaten, kota, bahkan kecamatan di seluruh Indonesia.
“Kalau perlu ke kecamatan, saya sanggup. Kira-kira ada 7.000 kecamatan. Saya masih sanggup.”
Pernyataan ini bukan basa-basi. Dalam logika politik elektoral, ini adalah janji konsolidasi langsung ke akar rumput—wilayah yang selama dua periode menjadi kekuatan utama Jokowi.
PSI Diakui Lemah, Jokowi Turun Tangan Langsung
Jokowi juga secara terbuka mengakui kelemahan PSI: mesin partai yang belum besar. Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik internal yang tajam, namun juga pembenaran atas keterlibatannya.
PSI butuh mesin yang besar.
Kalimat singkat itu menyiratkan satu hal: Jokowi siap menjadi mesin tersebut—mengisi kekosongan struktur, jaringan, dan daya dorong politik yang belum dimiliki PSI.
Pesan Keras ke Partai Lama dan Elite Politik
Langkah Jokowi ini dibaca banyak kalangan sebagai tantangan langsung terhadap partai-partai mapan. Ia menunjukkan bahwa pengaruh politik tidak berhenti ketika masa jabatan selesai. Justru sebaliknya, Jokowi sedang memindahkan pusat gravitasinya dari Istana ke partai.
Dengan popularitas yang masih tinggi, jejaring birokrasi yang pernah dibangunnya, serta kedekatan dengan pemilih akar rumput, keterlibatan Jokowi berpotensi mengubah peta kekuatan nasional—terutama jika PSI berhasil memanfaatkan momentum ini.
PSI: Dari Partai Kecil ke Proyek Kekuasaan?
Rakernas PSI di Makassar kini tak lagi sekadar agenda rutin partai. Ia berubah menjadi panggung deklarasi politik besar. Dengan Jokowi secara terbuka menyatakan kesediaan bekerja “mati-matian”, PSI memasuki fase baru: dari partai idealis anak muda menuju proyek kekuasaan yang serius.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Jokowi mendukung PSI.
Pertanyaan besarnya adalah: sejauh apa Jokowi akan membawa PSI dan untuk kepentingan siapa di masa depan?
Satu hal sudah pasti:
Politik Jokowi belum selesai. Ia baru berganti arena.
(AK)
#Nasional #Politik #Jokowi
