
Mutasi Besar Polri: 19 Kapolda Berganti, Irjen Jawari Pimpin Polda Sumbar
AK47, Jakarta - Peta kepemimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali berubah. Sehari setelah resmi memegang tongkat komando sebagai Kapolri, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto langsung melakukan rotasi besar terhadap jajaran perwira tinggi dan perwira menengah Polri.
Perubahan tersebut tidak sekadar menyentuh sejumlah jabatan strategis di Markas Besar Polri. Sebanyak 19 posisi Kapolda di berbagai wilayah Indonesia ikut berganti, termasuk jabatan Kapolda Sumatera Barat.
Dalam rotasi terbaru itu, Irjen Pol Jawari ditunjuk sebagai Kapolda Sumatera Barat menggantikan Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy.
Pergantian tersebut tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, serta berkaitan dengan Keputusan Kapolri Nomor Kep/1532/X/2026 mengenai pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Polri.
Secara keseluruhan, telegram tersebut mencakup mutasi 88 perwira tinggi dan perwira menengah Polri. Sebanyak 70 personel mendapat promosi atau penugasan baru, sementara perubahan juga mencakup sejumlah pejabat utama Mabes Polri dan 19 jabatan Kapolda.
Rotasi ini menjadi salah satu langkah awal Suyudi Ario Seto setelah resmi menduduki posisi tertinggi di institusi kepolisian.
Irjen Jawari Pimpin Polda Sumbar
Pergantian Kapolda Sumatera Barat menjadi salah satu bagian penting dalam rotasi tersebut.
Irjen Pol Jawari kini dipercaya memimpin Polda Sumbar, menggantikan Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy.
Pergantian pucuk pimpinan Polda Sumbar tentu membawa konsekuensi terhadap arah kepemimpinan dan kesinambungan berbagai program kepolisian di daerah.
Sumatera Barat memiliki karakteristik persoalan yang cukup beragam. Selain menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Polda Sumbar berhadapan dengan persoalan narkotika, kriminalitas konvensional, lalu lintas, konflik sosial, perlindungan kelompok rentan, hingga penanganan bencana yang membutuhkan koordinasi lintas institusi.
Posisi Kapolda juga memiliki peran penting dalam memastikan penegakan hukum berjalan sekaligus menjaga hubungan institusi kepolisian dengan masyarakat.
Karena itu, pergantian Kapolda bukan semata perubahan nama dalam struktur organisasi. Pejabat baru harus meneruskan agenda yang telah berjalan, melakukan konsolidasi internal, sekaligus membaca karakter persoalan yang berkembang di wilayah Sumatera Barat.
Bukan Hanya Sumbar, 19 Kapolda Berganti
Rotasi kali ini memiliki cakupan nasional.
Di wilayah Jakarta, Irjen Pol Dadang Hartanto ditugaskan sebagai Kapolda Metro Jaya menggantikan Komjen Pol Asep Edi Suheri.
Asep Edi Suheri selanjutnya dipercaya menduduki posisi Inspektur Pengawasan Umum Polri (Irwasum Polri).
Sementara itu, Irjen Pol Suwondo Nainggolan ditugaskan sebagai Kapolda Maluku.
Perubahan juga terjadi di Riau. Irjen Pol Arman Achdiat mendapat tugas sebagai Kapolda Riau menggantikan Irjen Pol Hery Heryawan.
Hery Heryawan kemudian mendapat penugasan baru sebagai Kabaharkam Polri.
Di Kepulauan Riau, posisi Kapolda dipercayakan kepada Irjen Pol Suhendri, menggantikan Irjen Pol Asep Safrudin yang selanjutnya mendapat tugas sebagai Kabareskrim Polri.
Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa mutasi tidak berdiri sendiri. Perubahan pada satu jabatan Kapolda berkaitan dengan pengisian jabatan strategis lainnya, baik di tingkat kewilayahan maupun Mabes Polri.
Sumatera Mengalami Pergeseran Kepemimpinan
Selain Sumatera Barat, sejumlah Polda di Pulau Sumatera juga mengalami perubahan.
Di Sumatera Utara, Brigjen Pol Sonny Irawan ditunjuk sebagai Kapolda menggantikan Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto.
Sumatera Selatan juga berganti pimpinan. Brigjen Pol Ronny Samtana, yang sebelumnya menjabat Wakapolda Sumatera Selatan, dipercaya menjadi Kapolda Sumsel menggantikan Irjen Pol Sandi Nugroho.
Di Jambi, Irjen Pol Widodo mendapat tugas sebagai Kapolda menggantikan Irjen Pol Krisno Halomoan Siregar.
Rangkaian pergeseran tersebut memperlihatkan bahwa rotasi kali ini mencakup sejumlah wilayah strategis dengan karakter persoalan yang berbeda.
Jawa dan Bali Juga Berubah
Perubahan kepemimpinan turut terjadi di sejumlah Polda di Pulau Jawa.
Irjen Pol Hengki ditugaskan sebagai Kapolda Jawa Barat menggantikan Irjen Pol Pipit Rismanto.
Hengki sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Banten. Jabatan Kapolda Banten selanjutnya dipercayakan kepada Brigjen Pol Hendra Kurniawan, yang sebelumnya bertugas sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat II Sespim Lemdiklat Polri.
Di Jawa Tengah, Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan dipercaya menjadi Kapolda menggantikan Irjen Pol Ribut Hari Wibowo.
Sementara di Jawa Timur, Brigjen Pol Dekananto Eko Purwono mendapat tugas sebagai Kapolda Jatim menggantikan Irjen Pol Nanang Avianto.
Dekananto sebelumnya menjabat Wakapolda Metro Jaya.
Rotasi juga menyentuh Bali. Brigjen Pol Pasma Royce, yang sebelumnya menjabat Wakapolda Jawa Timur, ditugaskan sebagai Kapolda Bali menggantikan Brigjen Pol Daniel Adityajaya.
Dua Wakapolda Ikut Bergeser
Selain 19 jabatan Kapolda, perubahan juga terjadi pada posisi Wakapolda.
Untuk Jawa Barat, jabatan Wakapolda dipercayakan kepada Brigjen Pol Rachmad Iswan Nusi, menggantikan Brigjen Pol Adi Vivid.
Sementara Brigjen Pol Hendra Wirawan ditunjuk sebagai Wakapolda Kalimantan Tengah menggantikan Brigjen Pol Yosi Muhamarta.
Dengan demikian, rotasi tersebut tidak hanya mengubah pucuk pimpinan Polda, tetapi juga sejumlah lapisan penting dalam struktur komando kewilayahan.
Daftar 19 Kapolda yang Berganti
Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026, 19 jabatan Kapolda yang mengalami pergantian adalah:
- Kapolda Metro Jaya: Irjen Pol Dadang Hartanto
- Kapolda Maluku: Irjen Pol Suwondo Nainggolan
- Kapolda Kepulauan Riau: Irjen Pol Suhendri
- Kapolda Riau: Irjen Pol Arman Achdiat
- Kapolda Nusa Tenggara Timur: Irjen Pol Reza Arief Dewanto
- Kapolda Jawa Barat: Irjen Pol Hengki
- Kapolda Banten: Brigjen Pol Hendra Kurniawan
- Kapolda Jawa Tengah: Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan
- Kapolda Jawa Timur: Brigjen Pol Dekananto Eko Purwono
- Kapolda Bali: Brigjen Pol Pasma Royce
- Kapolda Sumatera Barat: Irjen Pol Jawari
- Kapolda Sulawesi Selatan: Irjen Pol M. Awal Chairuddin
- Kapolda Jambi: Irjen Pol Widodo
- Kapolda Gorontalo: Irjen Pol Nurworo Danang
- Kapolda Sumatera Utara: Brigjen Pol Sonny Irawan
- Kapolda Sumatera Selatan: Brigjen Pol Ronny Samtana
- Kapolda Sulawesi Tengah: Irjen Pol Rizal Irawan
- Kapolda Sulawesi Barat: Irjen Pol Totok Suharyanto
- Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta: Irjen Pol Langgeng Purnomo
Jabatan Strategis Mabes Polri Turut Berubah
Rotasi tersebut semakin besar jika melihat perubahan di tingkat Mabes Polri.
Sejumlah posisi strategis ikut mengalami pergantian.
Komjen Pol Asep Edi Suheri ditugaskan sebagai Irwasum Polri.
Kemudian Irjen Pol Dedy Kusuma Bakti mendapat tugas sebagai Kabaintelkam Polri.
Sementara Irjen Pol Asep Safrudin dipercaya sebagai Kabareskrim Polri.
Posisi Kabaharkam Polri dipercayakan kepada Irjen Pol Hery Heryawan.
Adapun Irjen Pol Rudi Darmoko mendapat penugasan sebagai Kalemdiklat Polri.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa telegram mutasi tidak hanya berisi penyegaran di tingkat daerah, tetapi sekaligus melakukan penataan pada sejumlah posisi yang memiliki fungsi strategis dalam tubuh Polri.
Tantangan Kapolda Baru: Bukan Sekadar Konsolidasi
Bagi para Kapolda yang baru ditunjuk, pekerjaan besar segera menanti.
Setiap wilayah memiliki persoalan keamanan dan karakter masyarakat yang berbeda. Kapolda Metro Jaya berhadapan dengan wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi dan kompleksitas aktivitas perkotaan.
Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur memiliki wilayah luas serta jumlah penduduk yang besar.
Sementara wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua memiliki tantangan geografis dan sosial yang berbeda-beda.
Dalam konteks Sumatera Barat, Irjen Pol Jawari juga akan menghadapi kebutuhan untuk memastikan pelayanan kepolisian berjalan di seluruh wilayah, mulai dari kawasan perkotaan hingga daerah dengan kondisi geografis yang lebih sulit dijangkau.
Penanganan kriminalitas, narkotika, keselamatan lalu lintas, konflik sosial, perlindungan masyarakat, hingga respons terhadap bencana menjadi bagian dari spektrum tugas kepolisian di daerah.
Di sisi lain, kualitas pelayanan publik dan komunikasi dengan masyarakat juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kepemimpinan Polda.
Ujian Berikutnya Ada pada Kinerja
Rotasi jabatan pada dasarnya merupakan dinamika organisasi. Namun, efektivitas sebuah mutasi pada akhirnya akan terlihat dari bagaimana pejabat yang baru mampu menjalankan mandat di wilayah tugas masing-masing.
Kapolda baru tidak hanya dituntut melakukan konsolidasi internal, tetapi juga memastikan kesinambungan pelayanan kepolisian.
Program yang sudah berjalan perlu dievaluasi dan diteruskan apabila masih relevan. Pada saat yang sama, persoalan baru yang muncul di tengah masyarakat membutuhkan respons yang cepat, terukur, dan sesuai ketentuan hukum.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir menyampaikan bahwa personel yang mendapat amanah jabatan baru diharapkan segera menyesuaikan diri dengan tanggung jawab masing-masing, melanjutkan tugas yang sudah berjalan, dan memberikan pelayanan kepolisian yang optimal kepada masyarakat.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perubahan besar struktur kepemimpinan Polri.
Sebab, masyarakat pada akhirnya tidak hanya melihat siapa yang menduduki kursi Kapolda. Publik akan menilai bagaimana kepemimpinan baru diterjemahkan menjadi pelayanan, penegakan hukum, keamanan, dan respons terhadap berbagai persoalan di lapangan.
Bagi Sumatera Barat, pergantian dari Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy kepada Irjen Pol Jawari menandai dimulainya fase baru kepemimpinan Polda Sumbar.
Kini perhatian akan tertuju pada langkah awal Kapolda baru: bagaimana konsolidasi dilakukan, agenda apa yang menjadi prioritas, bagaimana penanganan persoalan keamanan diperkuat, serta sejauh mana Polda Sumbar mampu menjaga kepercayaan dan memberikan pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Rotasi besar yang dilakukan Kapolri Suyudi Ario Seto akhirnya bukan hanya cerita tentang pergantian jabatan.
Di balik puluhan nama yang bergeser, terdapat tuntutan yang sama: jabatan baru harus berujung pada kinerja nyata di lapangan.
(AK)
#Headline #Polri #Nasional