-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Viral Temuan Tulang Belulang di Pesisir Aceh Besar, Polisi Ungkap Jejak Pemakaman Lama Pascatsunami

Selasa, 01 September 2026 | September 01, 2026 WIB Last Updated 2026-09-01T12:23:58Z

Viral Temuan Tulang Belulang di Pesisir Aceh Besar, Polisi Ungkap Jejak Pemakaman Lama Pascatsunami



AK47, ACEH BESAR Temuan sejumlah tulang belulang yang diduga merupakan tulang manusia di kawasan pesisir Kabupaten Aceh Besar, Aceh, sempat menghebohkan masyarakat setelah videonya beredar luas di media sosial.


Temuan tersebut berada di kawasan pantai Dusun Imuem Daud, Gampong Lamguron, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Menanggapi informasi yang berkembang, kepolisian langsung melakukan penelusuran dengan berkoordinasi bersama perangkat gampong dan masyarakat setempat.


Kapolsek Peukan Bada, Polresta Banda Aceh, Iptu Suriyatno, mengatakan penelusuran dilakukan untuk memastikan lokasi sekaligus mengetahui latar belakang munculnya tulang belulang di kawasan tersebut.


“Berdasarkan penelusuran dan koordinasi dengan perangkat gampong, lokasi itu (tulang) berada di kawasan pantai Dusun Imuem Daud, Gampong Lamguron, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar,” kata Suriyatno, dikutip dari Antara, Selasa (1/9/2026).


Diduga Bukan Temuan Baru, Melainkan Sisa Pemakaman Lama


Dari hasil koordinasi dengan perangkat Gampong Lamguron dan keterangan masyarakat, tulang belulang yang terlihat di kawasan pesisir tersebut diduga berkaitan dengan keberadaan pemakaman lama.


Sebelum wilayah tersebut mengalami perubahan bentang alam, kawasan pesisir Lamguron diketahui masih berupa daratan. Di lokasi tersebut terdapat area perkebunan kelapa dan pemakaman lama yang membentang di sepanjang garis pantai.


Menurut keterangan masyarakat setempat, keberadaan makam-makam lama masih dapat terlihat sebelum bencana tsunami melanda Aceh.


“Dari keterangan masyarakat dan perangkat gampong, tulang belulang yang ditemukan tersebut diduga berasal dari kawasan pemakaman lama,” ujar Suriyatno.


Keterangan tersebut memberikan gambaran bahwa kemunculan tulang di permukaan tanah atau kawasan pantai kemungkinan tidak berkaitan dengan peristiwa baru, melainkan merupakan bagian dari sejarah kawasan yang berubah secara drastis akibat bencana dan proses alam selama bertahun-tahun.


Daratan Berubah Menjadi Kawasan Perairan


Kecamatan Peukan Bada merupakan salah satu wilayah Aceh Besar yang mengalami dampak besar akibat tsunami Aceh pada 2004.


Perubahan kondisi geografis setelah bencana, ditambah proses abrasi yang terus berlangsung, membuat sejumlah kawasan pesisir mengalami perubahan bentuk dan batas daratan.


Wilayah yang dahulu berupa daratan, termasuk area yang pernah digunakan sebagai lokasi pemakaman, kemudian sebagian berubah menjadi kawasan yang berdekatan langsung dengan laut.


Suriyatno menjelaskan, sebelum tsunami, pemakaman lama disebut berada di sepanjang garis pantai dengan panjang kurang lebih 800 meter.


“Menurut keterangan masyarakat, sebelum tsunami, kawasan tersebut merupakan daratan dan terdapat pemakaman lama di sepanjang garis pantai dengan panjang kurang lebih 800 meter,” katanya.


Seiring waktu, perubahan garis pantai membuat lokasi yang sebelumnya relatif jauh dari pengaruh langsung air laut kini berada di kawasan yang rawan tergerus.


Abrasi Diduga Membuka Kembali Material Makam


Selain perubahan bentang alam pascatsunami, faktor abrasi juga diduga menjadi penyebab material dari kawasan pemakaman lama kembali terlihat.


Abrasi yang terjadi di kawasan pesisir, terutama ketika kondisi gelombang dan musim tertentu meningkatkan pengikisan garis pantai, dapat menyebabkan lapisan tanah maupun material yang sebelumnya berada di dalam tanah tersingkap.


Kondisi tersebut diduga membuat sejumlah tulang belulang dari area pemakaman lama muncul ke permukaan.


Suriyatno mengatakan, pengikisan kawasan pesisir terutama terjadi pada musim timur. Material yang berada di sekitar kawasan pemakaman lama berpotensi ikut terbawa atau tersingkap ketika daratan mengalami penggerusan.


“Kemungkinan masih terdapat tulang belulang lain di kawasan tersebut yang dapat ditemukan kembali, khususnya saat kondisi air laut surut,” ujarnya.


Dengan kondisi tersebut, kemunculan tulang belulang di lokasi bukan tidak mungkin terjadi kembali. Air laut surut dapat membuat bagian pesisir yang sebelumnya tertutup air menjadi lebih terbuka sehingga material dari dalam tanah lebih mudah terlihat.


Polisi Imbau Masyarakat Tidak Berspekulasi


Munculnya video temuan tulang belulang di media sosial sebelumnya memunculkan berbagai tanggapan dan spekulasi masyarakat.


Namun, kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru mengaitkan temuan tersebut dengan dugaan tindak pidana atau peristiwa lain sebelum informasi dan kondisi di lapangan dipastikan.


Penelusuran bersama perangkat gampong menjadi penting untuk mengetahui sejarah kawasan serta memastikan konteks temuan.


Apalagi, berdasarkan keterangan masyarakat yang dihimpun kepolisian, lokasi tersebut memang memiliki sejarah sebagai kawasan pemakaman lama sebelum terjadinya tsunami dan perubahan garis pantai.


Polsek Peukan Bada juga mengapresiasi masyarakat maupun pengunggah video yang telah menyampaikan informasi mengenai kondisi kawasan pesisir tersebut.


Bagi kepolisian, informasi dari masyarakat tetap penting karena dapat menjadi langkah awal untuk memastikan setiap temuan yang berpotensi menimbulkan perhatian publik.


Warga Diminta Segera Laporkan Jika Menemukan Tulang


Kapolsek Peukan Bada meminta masyarakat yang menemukan tulang belulang atau benda lain yang diduga berkaitan dengan sisa pemakaman agar tidak mengambil kesimpulan sendiri.


Masyarakat diminta terlebih dahulu berkoordinasi dengan perangkat gampong maupun pihak kepolisian sehingga lokasi dan kondisi temuan dapat diketahui dengan jelas.


“Langkah ini penting untuk memastikan informasi mengenai lokasi temuan, sekaligus menghindari kesalahpahaman terkait batas wilayah administrasi antar gampong,” kata Suriyatno.


Imbauan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar informasi mengenai temuan di kawasan pesisir tidak langsung berkembang menjadi spekulasi di media sosial.


Terlebih, wilayah pesisir Aceh Besar memiliki sejarah panjang perubahan bentang alam akibat bencana tsunami serta proses alam yang masih berlangsung hingga kini.


Dengan demikian, temuan tulang belulang di pesisir Lamguron saat ini diduga kuat berkaitan dengan sisa pemakaman lama yang kembali tersingkap akibat perubahan kawasan dan abrasi, berdasarkan keterangan masyarakat serta perangkat gampong yang dihimpun kepolisian.


Meski demikian, masyarakat tetap diminta menyerahkan penanganan dan identifikasi setiap temuan kepada pihak berwenang agar informasi yang beredar dapat dipastikan berdasarkan fakta di lapangan, bukan sekadar dugaan atau potongan video yang beredar di media sosial.


(AK)


#Peristiwa #Headline

×
Berita Terbaru Update