![]() |
| Basri Lewaimang Diduga Jadi Pengendali Narkoba Tiga Klub Malam Batam, Jejak 40 Ribu Ekstasi per Bulan Dibongkar Polisi |
AK47, BATAM — Pengungkapan jaringan narkotika di balik gemerlap tempat hiburan malam Batam memasuki babak yang lebih serius. Nama Basri Lewaimang kini menjadi sorotan penyidik Bareskrim Polri setelah pria yang ditangkap di Johor Bahru, Malaysia, itu diduga bukan sekadar pemain di lapangan.
Polisi menduga Basri memiliki peran sebagai koordinator peredaran narkotika di tiga tempat hiburan malam di Batam, yakni Planet 1, Planet 2, dan HH Club.
Dugaan tersebut mencuat dari keterangan sejumlah tersangka dan saksi yang telah diperiksa Dittipidnarkoba Bareskrim Polri. Informasi itu kini tengah dikembangkan untuk membongkar struktur jaringan narkotika yang diduga beroperasi di lingkungan tempat hiburan malam tersebut.
Kanit III Subdit IV Dittipidnarkoba Bareskrim Polri Kompol Drago mengatakan, Basri diduga berperan mengoordinasikan peredaran narkotika di tiga lokasi tersebut.
“Dari keterangan tersangka dan saksi yang sudah dilakukan pemeriksaan, diduga ada keterlibatan Pak Basri selaku koordinator di tempat hiburan malam tersebut yang diduga mengedarkan narkotika di P1, P2 dan P3,” kata Drago kepada wartawan, Kamis (20/8/2026).
Tiga Lokasi Berbeda, Diduga Satu Kendali
P1, P2, dan HH Club memang berada di lokasi berbeda. Namun, penyidik menemukan indikasi bahwa ketiganya diduga masih memiliki keterkaitan dalam satu manajemen.
“HH Club itu sendiri, P2 itu sendiri, P1 itu sendiri. Jadi beda tempat tapi diduga dalam satu manajemen,” ujar Drago.
Temuan tersebut membuat penyidik tidak berhenti pada penangkapan Basri. Polisi kini berusaha mengurai siapa yang berada di balik pengelolaan ketiga tempat hiburan itu dan bagaimana mekanisme peredaran narkotika berlangsung.
Yang juga menjadi perhatian adalah posisi Basri.
Apakah ia hanya bertugas mengoordinasikan peredaran narkotika? Atau memiliki peran lebih jauh dalam struktur pengelolaan tempat-tempat hiburan tersebut?
Polisi belum memberikan kesimpulan.
“Nanti kita identifikasi lebih dalam,” kata Drago.
40 Ribu Ekstasi Sebulan, Angkanya Bikin Geleng Kepala
Besarnya dugaan peredaran ekstasi menjadi bagian paling mencolok dalam perkara ini.
Penyidik sebelumnya mengungkap dugaan bahwa sekitar 40.000 butir ekstasi dapat beredar setiap bulan di THM Planet Batam.
Jumlah tersebut bahkan disebut masih dapat meningkat ketika tingkat kunjungan pengunjung sedang tinggi.
Angka puluhan ribu butir dalam sebulan menggambarkan betapa seriusnya dugaan persoalan narkotika yang tengah dibongkar aparat di kawasan hiburan malam Batam.
Karena itu, penyidik kini tidak hanya mengejar pelaku yang berada di lapangan. Mata rantai yang lebih besar juga tengah diburu mulai dari pihak yang mengatur distribusi hingga kemungkinan pihak yang memperoleh keuntungan dari peredaran barang haram tersebut.
Basri Kabur ke Malaysia, Polisi Memburu Sampai Johor Bahru
Jejak Basri akhirnya mengarah ke Malaysia.
Keberadaannya di Johor Bahru berhasil dilacak melalui koordinasi Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Divhubinter Polri, dan Interpol.
Penangkapan dilakukan tanpa perlawanan. Basri disebut langsung bersikap kooperatif ketika diamankan petugas.
“Tidak ada perlawanan, kooperatif,” kata Drago.
Dari tangan Basri, polisi menyita dua alat komunikasi, uang dalam pecahan rupiah, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia.
Namun, barang yang paling menarik perhatian penyidik bukan hanya uang dan alat komunikasi.
Petugas juga mengamankan tiga rangkap catatan yang diduga berisi rekapan narkotika.
Catatan tersebut kini menjadi bagian dari barang bukti yang diperiksa untuk mengungkap lebih jauh aktivitas jaringan yang diduga berkaitan dengan Basri.
Dari Batam hingga Malaysia, Jaringan Mulai Terkuak
Penangkapan Basri di Malaysia membuka indikasi bahwa perkara ini tidak berdiri sebagai kasus peredaran narkotika biasa.
Keterkaitannya dengan tiga tempat hiburan malam, dugaan peredaran ekstasi dalam jumlah besar, hingga ditemukannya catatan yang diduga memuat rekapan narkotika membuat penyidik memiliki sejumlah pintu untuk mengembangkan kasus.
Polisi masih mendalami siapa saja yang diduga terlibat dan bagaimana hubungan mereka dengan Basri.
Apalagi, keberadaan uang dalam tiga mata uang rupiah, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia serta posisi Basri yang ditemukan di Johor Bahru menjadi bagian dari rangkaian fakta yang kini sedang didalami penyidik.
Namun, seluruh dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui proses penyidikan dan alat bukti yang sah.
Bukan Sekadar Menangkap Satu Orang
Kasus ini kini mengarah pada pertanyaan yang jauh lebih besar.
Siapa pemasoknya? Siapa pengendalinya? Siapa yang mengatur distribusinya? Dan siapa yang menikmati keuntungan dari peredaran puluhan ribu ekstasi tersebut?
Polisi masih memburu jawabannya.
Jika dugaan keterlibatan Basri dan struktur jaringan tersebut nantinya terbukti, pengungkapan ini berpotensi menjadi salah satu pintu penting untuk membongkar rantai peredaran narkotika yang diduga menyusup ke balik aktivitas sejumlah tempat hiburan malam di Batam.
Untuk sementara, Basri telah berada dalam penguasaan aparat. Tetapi bagi penyidik, pekerjaan justru baru dimulai.
Satu nama telah ditangkap. Jaringan yang lebih besar masih harus dibongkar.
(AK)
#Headline #Narkoba #Hukum
