-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ridho Rahmadi Mundur dari Ketum Partai Ummat, Fokus di Politeknik AI Yogyakarta, Kepemimpinan DPP Masuk Masa Transisi

Rabu, 02 September 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T10:14:49Z

Ridho Rahmadi Mundur dari Ketum Partai Ummat, Fokus di Politeknik AI Yogyakarta, Kepemimpinan DPP Masuk Masa Transisi



AK47, Jakarta — Dinamika internal Partai Ummat memasuki babak baru. Ketua Umum DPP Partai Ummat, Ridho Rahmadi, resmi mengundurkan diri dari jabatannya setelah menghadapi persoalan pembagian waktu antara memimpin partai dan menjalankan tugas akademik-profesional sebagai Direktur Politeknik AI di Yogyakarta.


Keputusan tersebut bukan sekadar pergantian posisi di tubuh partai. Mundurnya Ridho membuka fase transisi baru bagi Partai Ummat sekaligus menempatkan jajaran Majelis Syura pada posisi penting untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan dan konsolidasi politik tidak terganggu.


Pengunduran diri Ridho diterima Majelis Syura Partai Ummat dalam Musyawarah Majelis Syura ke-8, Rabu, 26 Agustus 2026.


Sekretaris Majelis Syura Partai Ummat, Ansufri Idrus Sambo, mengungkapkan bahwa persoalan utama yang dihadapi Ridho adalah keterbatasan waktu untuk menjalankan dua tanggung jawab besar secara bersamaan.


“Alasan utama Mas Ridho Rahmadi mundur adalah karena beliau kesulitan untuk membagi waktu, pikiran, dan tenaga antara Partai Ummat dan posisi beliau sebagai Direktur Politeknik AI di Jogja,” kata Sambo dalam keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).


Dua Tanggung Jawab Besar, Harus Bolak-Balik Jogja-Jakarta


Menurut Sambo, selama kurang lebih satu tahun Ridho harus menjalani rutinitas bolak-balik Yogyakarta-Jakarta untuk memenuhi tuntutan dua peran yang sama-sama membutuhkan perhatian penuh.


Di satu sisi, posisi sebagai Ketua Umum DPP menuntut Ridho mengurus agenda politik dan organisasi secara nasional. Di sisi lain, tanggung jawab sebagai Direktur Politeknik AI di Yogyakarta juga membutuhkan konsentrasi, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit.


Situasi tersebut pada akhirnya dinilai tidak lagi ideal jika kedua tanggung jawab terus dijalankan secara bersamaan.


Bahkan, kondisi tersebut disebut mulai berdampak terhadap kesehatan Ridho. Intensitas aktivitas dan beban tanggung jawab membuat dirinya semakin sering mengalami sakit.


Atas pertimbangan tersebut, Ridho kemudian memilih mengambil keputusan untuk melepaskan jabatan Ketua Umum Partai Ummat.


Keputusan itu disebut tidak diambil secara tiba-tiba. Ridho terlebih dahulu melakukan perenungan serta berkonsultasi dengan Amien Rais, keluarga, dan Sekretaris Majelis Syura.


Tetap di Partai Ummat, tetapi Bukan Lagi Ketua Umum


Meski meninggalkan posisi strategis sebagai Ketua Umum DPP, Ridho tidak keluar dari Partai Ummat.


Putra menantu Amien Rais tersebut tetap menjadi bagian dari partai melalui posisinya sebagai anggota Majelis Syura.


Posisi ini membuat Ridho masih memiliki ruang untuk berkontribusi dalam perjalanan Partai Ummat, meski tidak lagi berada di garis terdepan dalam pengelolaan harian DPP.


Dengan demikian, pengunduran dirinya lebih tepat dipahami sebagai perubahan peran dalam organisasi ketimbang meninggalkan Partai Ummat sepenuhnya.


Sekjen Taufik Hidayat Ikut Mundur


Perubahan kepemimpinan tidak berhenti pada posisi Ketua Umum.


Pada saat yang hampir bersamaan, Sekretaris Jenderal DPP Partai Ummat Taufik Hidayat juga mengundurkan diri dari jabatannya.


Namun, berbeda dengan Ridho yang beralasan kesulitan membagi waktu, Taufik memilih mundur sebagai bentuk solidaritas terhadap Ridho.


Pengunduran diri Taufik juga dimaksudkan untuk membuka ruang bagi penyegaran kepemimpinan di tingkat DPP.


Keputusan tersebut membuat struktur pucuk pimpinan Partai Ummat mengalami perubahan cukup signifikan dalam waktu bersamaan.


Majelis Syura Tunjuk Pelaksana Tugas


Untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan, Majelis Syura kemudian mengambil langkah cepat dengan menunjuk Ansufri Idrus Sambo sebagai Plt Ketua Umum DPP Partai Ummat.


Sementara posisi Plt Sekretaris Jenderal dipercayakan kepada Muhammad Sadiq.


Keduanya kini mendapat mandat untuk menjalankan fungsi kepemimpinan sementara sekaligus memastikan aktivitas organisasi di tingkat pusat maupun daerah tetap berlangsung.


Fase transisi tersebut menjadi momentum penting bagi Partai Ummat untuk melakukan konsolidasi internal.


Majelis Syura menegaskan bahwa Ridho dan Taufik tetap aktif di dalam partai dengan penugasan baru. Pergantian kepemimpinan tersebut diposisikan sebagai bagian dari dinamika organisasi, perputaran kepengurusan, sekaligus upaya melakukan penyegaran struktural.


Tantangan Baru Partai Ummat


Di bawah kepemimpinan sementara, DPP Partai Ummat menghadapi sejumlah agenda penting.


Salah satunya adalah melakukan konsolidasi organisasi secara nasional. Kepemimpinan transisi dituntut menjaga komunikasi dengan struktur partai di berbagai daerah agar perubahan di tingkat pusat tidak menimbulkan kegamangan di tingkat bawah.


Selain konsolidasi, kepemimpinan sementara juga mendapat tugas mempersiapkan pendaftaran perubahan administratif kepengurusan kepada Kementerian Hukum.


Artinya, perubahan yang terjadi di tubuh DPP tidak hanya menyangkut dinamika politik internal, tetapi juga harus ditindaklanjuti melalui proses administratif dan organisasi sesuai ketentuan yang berlaku.


Majelis Syura pun meminta seluruh pengurus daerah dan kader Partai Ummat tetap menjalankan program kerja serta memberikan dukungan terhadap kepemimpinan transisi.


Pergantian Ketum dan Arah Politik Partai Ummat


Mundurnya Ridho Rahmadi tentu menjadi perhatian tersendiri bagi perjalanan Partai Ummat.


Ridho selama ini berada di posisi strategis sebagai figur yang memimpin partai. Pergantian dirinya dengan pelaksana tugas menandai dimulainya sebuah fase baru sebelum Partai Ummat menentukan arah kepemimpinan berikutnya secara definitif.


Di tengah dinamika politik nasional, kemampuan Partai Ummat menjaga soliditas internal akan menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi agenda politik ke depan.


Majelis Syura kini memiliki pekerjaan besar: memastikan transisi berlangsung tertib, menjaga struktur partai tetap solid, sekaligus menyiapkan langkah organisasi berikutnya.


Bagi Ridho sendiri, keputusan mundur dari kursi Ketua Umum tampaknya bukan berarti berhenti dari dunia politik. Dengan tetap berada di Majelis Syura, ia masih menjadi bagian dari lingkar strategis Partai Ummat.


Hanya saja, perannya kini bergeser dari pengendali utama organisasi di tingkat eksekutif menjadi bagian dari struktur yang memiliki fungsi strategis dalam arah dan kebijakan partai.


Dengan perubahan tersebut, perhatian publik politik kini tertuju pada satu pertanyaan: siapa yang akan menjadi figur definitif yang dipercaya membawa Partai Ummat memasuki babak berikutnya setelah masa kepemimpinan Ridho Rahmadi?


Jawabannya akan sangat menentukan bagaimana Partai Ummat mengonsolidasikan kekuatan, merapikan struktur internal, dan memosisikan diri dalam peta politik nasional mendatang.


(AK)



#Headline #Politik #Nasional #PartaiUmmat

×
Berita Terbaru Update