-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak Krakatau, Gunung Api yang Tubuhnya Tersembunyi di Bawah Laut: Tumbuh Cepat, Runtuh Dahsyat, Lalu Membangun Diri Kembali

Jumat, 11 September 2026 | September 11, 2026 WIB Last Updated 2026-09-11T13:31:06Z

Anak Krakatau, Gunung Api yang Tubuhnya Tersembunyi di Bawah Laut: Tumbuh Cepat, Runtuh Dahsyat, Lalu Membangun Diri Kembali



Aksara47 -  Dari kejauhan, Gunung Anak Krakatau tampak seperti sebuah pulau vulkanik yang relatif kecil di tengah Selat Sunda. Puncaknya hanya terlihat beberapa ratus meter di atas permukaan laut.


Tetapi ukuran yang tampak dari kejauhan itu bukanlah gambaran utuh tentang gunung api tersebut.


Sebagian tubuh Anak Krakatau berada di bawah laut, tumbuh di lingkungan kaldera besar yang terbentuk setelah kehancuran Krakatau pada 1883. Karena itu, membicarakan Anak Krakatau hanya berdasarkan tinggi puncaknya dari permukaan laut sama saja dengan melihat sebagian kecil dari sebuah bangunan dan mengabaikan fondasinya.


Gunung ini adalah sistem vulkanik yang terus berubah: tumbuh, menumpuk material, membentuk lereng, mengalami keruntuhan, kemudian kembali membangun tubuhnya melalui erupsi.


Dan sejarah menunjukkan, perubahan itu bisa berlangsung sangat cepat.


Lahir dari Kehancuran Krakatau 1883


Kisah Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari letusan besar Krakatau pada Agustus 1883.


Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar bangunan gunung api dan membentuk kaldera besar di kawasan Selat Sunda.


Namun aktivitas vulkanik tidak benar-benar berhenti.


Di kawasan kaldera tersebut, aktivitas baru perlahan membangun sebuah gunung api muda.


Anak Krakatau akhirnya menembus permukaan laut sekitar 1927–1928.


Sejak saat itu, gunung api tersebut terus bertumbuh. Dalam beberapa dekade, tumpukan lava, abu, material piroklastik dan produk erupsi lainnya membentuk kerucut vulkanik yang semakin tinggi.


Sebelum keruntuhan besar pada 2018, ketinggiannya mencapai sekitar 333 meter di atas permukaan laut.


Dengan kata lain, gunung yang sekarang dikenal sebagai Anak Krakatau sebenarnya merupakan gunung api yang relatif muda dalam ukuran waktu geologi namun pertumbuhannya sangat dinamis.


Yang Terlihat Hanya Bagian Atas


Di sinilah kesalahpahaman tentang Anak Krakatau sering muncul.


Angka sekitar 300 meter merupakan ketinggian puncak terhadap permukaan laut, bukan ukuran sederhana dari seluruh bangunan vulkaniknya.


Anak Krakatau tumbuh di dalam kawasan kaldera yang sebagian berada di bawah laut. Penelitian geologi dan survei batimetri menunjukkan adanya struktur gunung api serta lereng bawah laut yang menjadi bagian penting dari bangunan vulkaniknya.


Karena itu, tidak tepat menggambarkan Anak Krakatau semata-mata sebagai “pulau setinggi 300 meter”.


Yang terlihat adalah bagian yang muncul ke permukaan.


Bagian lainnya berada di bawah laut.


Dan justru bagian bawah laut inilah yang menjadi sangat penting ketika membahas peristiwa 22 Desember 2018.


Gunung yang Tumbuh Cepat Juga Bisa Menjadi Tidak Stabil


Pertumbuhan Anak Krakatau berlangsung sangat aktif.


Pada 2018, sebelum bencana terjadi, aktivitas vulkanik meningkat tajam. Penelitian menunjukkan fase erupsi intens dimulai sekitar akhir Juni 2018 dan berlangsung selama sekitar 175 hari hingga 22 Desember.


Aktivitas tersebut menghasilkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar.


Salah satu penelitian memperkirakan sekitar 54 juta ton lava dan material erupsi telah ditambahkan ke bagian barat daya gunung selama periode tersebut.


Namun, pertumbuhan cepat juga membawa konsekuensi.


Material vulkanik baru menambah beban pada tubuh gunung. Di saat yang sama, lereng gunung terus berkembang di atas medan yang kompleks, termasuk bagian bawah laut.


Penelitian kemudian menemukan adanya tanda-tanda deformasi dan pergerakan sektor barat daya Anak Krakatau menuju laut sebelum keruntuhan.


Dengan kata lain, sebelum bencana terjadi, tubuh gunung sebenarnya telah mengalami perubahan.


Malam 22 Desember 2018: Sebagian Gunung Tumbang ke Laut


Pada malam 22 Desember 2018, sekitar pukul 20.55 waktu setempat, sebagian sektor barat daya Anak Krakatau mengalami keruntuhan lateral atau flank collapse.


Peristiwa itu berlangsung cepat.


Bagian tubuh gunung yang sebelumnya berdiri di atas laut bergerak menuju laut, sementara bagian lereng bawah laut juga ikut terlibat.


Hasil penelitian resolusi tinggi menunjukkan volume endapan longsoran mencapai sekitar 0,214 ± 0,036 kilometer kubik, atau sekitar 214 juta meter kubik.


Yang menarik, penelitian tersebut memperkirakan sekitar 45 persen material longsoran berasal dari bagian bangunan gunung yang berada di atas permukaan laut.


Sisanya sekitar 55 persen berasal dari bagian lereng bawah laut, termasuk material yang ikut terseret dan bercampur selama proses longsoran.


Fakta ini memperlihatkan sesuatu yang sangat penting:


Keruntuhan Anak Krakatau 2018 bukan hanya runtuhnya puncak gunung yang terlihat dari daratan. Bagian tubuhnya yang berada di bawah laut juga memainkan peran besar.


Tingginya Anjlok Lebih dari Separuh


Dampak keruntuhan tersebut langsung mengubah wajah Anak Krakatau.


Sebelum kejadian, ketinggian gunung sekitar 320–333 meter.


Setelah sektor barat daya runtuh, ketinggiannya turun menjadi sekitar 120 meter.


Artinya, lebih dari separuh ketinggian bangunan gunung yang sebelumnya menjulang di atas laut hilang dalam satu peristiwa.


Luas pulau juga berkurang drastis, dari sekitar 3,19 kilometer persegi menjadi 1,7 kilometer persegi.


Namun Anak Krakatau tidak berhenti di sana.


Erupsi kembali membangun daratan dan menimbun kawasan yang sebelumnya runtuh. Dalam hitungan minggu, luas pulau bahkan kembali melampaui luas sebelum keruntuhan.


Gunung itu seperti kehilangan sebagian tubuhnya lalu mulai membangunnya kembali.


Ketika Longsoran Gunung Mengubah Laut Menjadi Tsunami


Keruntuhan Anak Krakatau menjadi bencana besar bukan semata-mata karena gunung kehilangan sebagian tubuhnya.


Masalah utamanya adalah lokasi material yang runtuh: laut.


Ketika massa batuan dan material vulkanik dalam jumlah sangat besar bergerak masuk ke laut, air laut terdorong secara tiba-tiba.


Terbentuklah tsunami.


BMKG menegaskan tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung pada 22 Desember 2018 tidak dipicu oleh gempa tektonik, melainkan berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan keruntuhan tubuh gunung ke laut.


Gelombang kemudian menerjang sejumlah kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda.


Penelitian ilmiah mencatat run-up tsunami di beberapa pulau dekat sumber dapat mencapai lebih dari 80 meter, sementara di pesisir Sumatra dan Jawa mencapai hingga sekitar 13 meter.


Bencana tersebut menewaskan 437 orang, melukai lebih dari 14 ribu orang, dan menyebabkan puluhan ribu lainnya mengungsi.


Mengapa Tsunami Ini Sangat Sulit Diantisipasi?


Ada satu perbedaan mendasar antara tsunami akibat gempa besar di dasar laut dan tsunami akibat runtuhan gunung api.


Gempa tektonik besar biasanya menghasilkan rangkaian sinyal seismik yang dapat dideteksi oleh jaringan pemantauan.


Sementara pada Anak Krakatau, sumber gangguannya adalah keruntuhan tubuh gunung ke laut.


BMKG pada saat kejadian menyatakan tsunami tersebut tidak dipicu oleh gempa bumi.


Karena sumber tsunami berada sangat dekat dengan wilayah pesisir, waktu antara kejadian pemicu dan tibanya gelombang juga sangat singkat.


Inilah salah satu pelajaran paling penting dari tragedi Selat Sunda:


tsunami tidak selalu menunggu gempa besar.


Aktivitas gunung api dan longsoran besar ke laut juga dapat menghasilkan tsunami.


Setelah Runtuh, Anak Krakatau Justru Kembali Tumbuh


Ada satu fakta yang membuat Anak Krakatau semakin menarik secara ilmiah.


Gunung ini tidak berhenti setelah kehilangan sebagian besar tubuhnya.


Erupsi pascakeruntuhan kembali menghasilkan material dalam jumlah besar.


Penelitian memperkirakan erupsi setelah keruntuhan menghasilkan sekitar 0,3 kilometer kubik material tefra.


Bahkan, jumlah material yang diproduksi setelah keruntuhan tersebut lebih besar daripada volume yang hilang dalam proses keruntuhan jika dibandingkan dalam konteks produk erupsi yang terukur.


Namun sebagian besar material itu tidak menjadi daratan.


Sekitar 90 persen material tersebut diperkirakan terendapkan di lepas pantai.


Artinya, perubahan Anak Krakatau tidak hanya terjadi di atas permukaan laut.


Dasar laut di sekitarnya juga ikut berubah.


Gunung Api yang Tidak Pernah Benar-Benar Diam


Anak Krakatau memperlihatkan bagaimana cepatnya sebuah gunung api kepulauan dapat berubah.


Ia lahir setelah kehancuran Krakatau.


Ia tumbuh dari bawah laut.


Ia membangun kerucut vulkanik hingga lebih dari 300 meter.


Ia kehilangan lebih dari separuh ketinggiannya dalam keruntuhan 2018.


Sebagian tubuhnya masuk ke laut dan memicu tsunami.


Kemudian ia kembali membangun dirinya melalui erupsi.


Siklus tersebut menunjukkan bahwa Anak Krakatau bukanlah pulau vulkanik yang bentuknya permanen.


Bentuk gunung yang terlihat hari ini bukan jaminan akan menjadi bentuk yang sama pada masa mendatang.


Ancaman Terbesar Bukan Selalu yang Terlihat


Pelajaran paling penting dari Anak Krakatau mungkin bukan soal seberapa tinggi gunung tersebut.


Bukan pula tentang apakah tingginya 300 meter atau lebih.


Hal yang jauh lebih penting adalah memahami bahwa sebuah gunung api kepulauan memiliki tubuh tiga dimensi bagian yang terlihat di atas laut dan bagian lain yang tersembunyi di bawahnya.


Ketika bagian tersebut tumbuh cepat, lereng dapat mengalami perubahan.


Ketika kestabilannya terganggu, sebagian tubuh gunung dapat runtuh.


Dan ketika material dalam jumlah besar jatuh ke laut, ancaman tidak berhenti di kaki gunung.


Gelombangnya dapat bergerak jauh menuju pesisir.


Peristiwa 2018 telah membuktikannya.


Anak Krakatau dengan demikian bukan sekadar “anak” dari Krakatau yang terkenal karena sejarah letusannya.


Ia adalah laboratorium alam yang masih hidup gunung api muda yang terus tumbuh, terus berubah dan menyimpan potensi bahaya yang tidak semuanya dapat dilihat dari permukaan.


Yang tampak di atas laut hanyalah sebagian dari ceritanya.


Di bawah permukaan, tubuh gunung itu terus berproses.


Dan sejarah 22 Desember 2018 mengingatkan bahwa ketika gunung api berubah, laut di sekelilingnya pun dapat berubah menjadi sumber bahaya dalam hitungan menit.


(*)


#Headline #AnakGunungKrakatau #Sejarah

×
Berita Terbaru Update