-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gempa M 7,7 Guncang NTT: Lima Bandara dan Dua Pelabuhan Rusak, 38 Orang Meninggal

Sabtu, 15 Agustus 2026 | Agustus 15, 2026 WIB Last Updated 2026-08-15T11:36:00Z

Gempa M 7,7 Guncang NTT: Lima Bandara dan Dua Pelabuhan Rusak, 38 Orang Meninggal



AK47, NTT — Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) dini hari, tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengganggu sejumlah jalur transportasi dan akses distribusi bantuan di wilayah terdampak.


Guncangan yang terjadi sekitar pukul 04.58 WIB tersebut berpusat di laut dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Kekuatan gempa membuat sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan, sementara material longsor menutup beberapa ruas jalan dan menyulitkan mobilitas masyarakat maupun tim penyelamat.


Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 15.00 WIB, sedikitnya 38 orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, 11 orang luka ringan, dan sekitar 2.000 warga terpaksa mengungsi.


Angka tersebut masih berpotensi berubah seiring proses pencarian, pendataan dan asesmen di sejumlah wilayah yang hingga kini masih berlangsung.


Lima Bandara Terdampak


Salah satu dampak paling signifikan terjadi pada sektor transportasi udara. BNPB melaporkan terdapat lima bandara yang terdampak gempa.


Namun, kerusakan tersebut tidak terjadi pada landasan pacu atau runway. Kerusakan justru ditemukan pada bagian gedung terminal bandara.


Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, kondisi runway yang masih dapat digunakan menjadi hal penting dalam mendukung operasi kemanusiaan, terutama untuk mobilisasi personel, logistik dan bantuan dari luar daerah.

 

“Dari Kementerian Perhubungan ada lima bandara yang terdampak, tetapi bukan runway-nya. Yang terdampak rusak adalah gedung terminal,” kata Suharyanto dalam konferensi pers, Sabtu (15/8/2026).


Meski demikian, pemerintah masih melakukan asesmen untuk memastikan tingkat kerusakan serta keamanan fasilitas sebelum aktivitas penerbangan kembali berjalan secara normal.


Dua Pelabuhan Ikut Rusak


Gangguan juga terjadi pada transportasi laut. Pelabuhan Reo dan Pelabuhan Maumere dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa.


Tingkat kerusakan kedua pelabuhan tersebut masih dalam pendataan pemerintah. Informasi tersebut menjadi perhatian serius karena pelabuhan memiliki peran penting sebagai jalur distribusi logistik, khususnya ketika sejumlah akses jalan darat mengalami gangguan.


Dengan kondisi tersebut, pemerintah perlu memastikan jalur laut tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengiriman bantuan ke daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.


Longsor Tutup Sejumlah Ruas Jalan


Selain merusak fasilitas transportasi, gempa juga memicu longsor di sejumlah titik.


Material tanah dan batu menutup badan jalan sehingga menghambat pergerakan kendaraan, termasuk kendaraan yang membawa bantuan dan tim evakuasi.


Kementerian Pekerjaan Umum telah mengerahkan alat berat untuk membuka kembali akses yang tertutup longsor.


“Jalan-jalan longsor itu oleh Kementerian PU sudah ditangani,” ujar Suharyanto.


Namun, pemerintah belum dapat memastikan seluruh ruas jalan yang terdampak sudah kembali terbuka. Tim di lapangan masih melakukan asesmen untuk memetakan titik-titik jalan yang terputus maupun mengalami kerusakan.


“Apakah selesai atau belum, nanti setelah saya sampai di sana,” katanya.


Dua Helikopter dan Satu Pesawat Disiapkan


Besarnya dampak gempa membuat pemerintah harus menyiapkan skema distribusi bantuan melalui jalur udara.


BNPB menyiapkan dua helikopter dan satu pesawat fixed-wing untuk mendukung proses evakuasi maupun pengiriman bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.


Pemerintah juga menyiapkan perangkat komunikasi cadangan sebagai langkah antisipasi apabila jaringan telekomunikasi seluler mengalami gangguan akibat kerusakan infrastruktur.


Langkah tersebut menjadi penting karena komunikasi merupakan salah satu kebutuhan utama dalam fase tanggap darurat, terutama untuk koordinasi pencarian dan pertolongan serta distribusi bantuan.


50.000 Paket Sembako Disiapkan


Di tengah ribuan warga yang mengungsi, pemerintah mulai mengerahkan bantuan kebutuhan dasar.


Bantuan yang disiapkan meliputi makanan, air bersih, tenda, genset dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.


Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan sekitar 50.000 paket sembako untuk dikirimkan ke daerah-daerah terdampak.


Distribusi bantuan akan menjadi tantangan tersendiri mengingat sebagian akses transportasi masih terganggu akibat longsor dan kerusakan infrastruktur.


38 Orang Meninggal Dunia


Dampak paling memilukan dari gempa M 7,7 tersebut adalah jatuhnya puluhan korban jiwa.


Hingga pukul 15.00 WIB, BNPB mencatat 38 orang meninggal dunia. Korban tersebar di sejumlah kabupaten.


Rinciannya:

  • Kabupaten Sikka: 3 orang meninggal dunia.
  • Kabupaten Manggarai: 16 orang meninggal dunia.
  • Kabupaten Manggarai Timur: 17 orang meninggal dunia.
  • Kabupaten Ende: 1 orang meninggal dunia.
  • Kabupaten Manggarai Barat: 1 orang meninggal dunia.


Selain korban meninggal, tercatat dua orang mengalami luka berat dan 11 orang luka ringan.


Sementara itu, sekitar 2.000 warga mengungsi untuk menghindari risiko akibat kerusakan bangunan maupun gempa susulan.


Identitas Korban Masih Didata


Proses identifikasi korban masih berlangsung.


Dari 16 korban meninggal dunia di Kabupaten Manggarai, baru enam orang yang berhasil diidentifikasi. Mereka yakni Stefanus, Fabian, Neno, Resni, Manus dan Yul.


Sementara 10 korban lainnya masih dalam proses identifikasi.


Di Kabupaten Manggarai Timur, identitas 17 korban meninggal dunia juga masih dalam pendataan petugas.


Proses identifikasi menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana agar setiap korban dapat segera diketahui identitasnya dan proses pemulangan kepada keluarga dapat dilakukan sesuai prosedur.


Fokus Penanganan: Evakuasi dan Buka Akses


Dalam situasi tanggap darurat, pemerintah kini memusatkan penanganan pada tiga kebutuhan utama: pencarian dan pertolongan korban, pembukaan akses transportasi, serta pemulihan komunikasi.


Tim gabungan terus bergerak menuju lokasi terdampak untuk mencari korban yang kemungkinan masih membutuhkan pertolongan. Pada saat yang sama, alat berat dikerahkan untuk membersihkan jalan dari material longsor.


Pemulihan jaringan komunikasi juga menjadi prioritas karena terputusnya komunikasi dapat memperlambat pelaporan kondisi korban maupun kebutuhan bantuan dari wilayah terdampak.


BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait masih melakukan pembaruan data mengenai jumlah korban, kerusakan bangunan, kondisi jalan, bandara, pelabuhan serta fasilitas publik lainnya.


Masa Darurat Masih Berlangsung


Gempa M 7,7 di NTT menjadi ujian besar bagi kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi bencana.


Dengan puluhan korban meninggal, ribuan warga mengungsi, lima bandara terdampak, dua pelabuhan mengalami kerusakan dan sejumlah akses jalan tertutup longsor, penanganan bencana tidak hanya membutuhkan operasi penyelamatan, tetapi juga koordinasi besar-besaran dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.


Pemerintah memastikan proses pencarian dan pertolongan terus dilakukan, sementara asesmen kerusakan masih berjalan untuk menentukan langkah pemulihan berikutnya.


Data korban dan kerusakan masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi serta asesmen lanjutan di lapangan.


(AK)


#Headline #Peristiwa #GempaNTT

×
Berita Terbaru Update