
Demo di Depan DPR Memanas: Pria Berhelm Dihajar Massa, Dituding Provokator Bawa Golok
AK47, Jakarta — Aksi demonstrasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026), mendadak memanas. Seorang pria berhelm nyaris menjadi bulan-bulanan massa setelah dituding sebagai provokator yang menyusup ke tengah aksi.
Bukan hanya dicurigai sebagai penyusup, pria tersebut juga disebut-sebut membawa senjata tajam jenis golok. Namun, hingga kini tudingan tersebut belum terkonfirmasi secara resmi.
Kericuhan terjadi ketika sejumlah anggota DPR RI selesai menyampaikan sambutan dari atas mobil komando dan hendak kembali ke dalam gedung dengan pengawalan petugas Pengamanan Dalam (Pamdal) DPR.
Salah satu anggota DPR, Rieke Dyah Pitaloka, turut menjadi pusat perhatian massa. Sejumlah peserta aksi mengerumuninya untuk menyampaikan keresahan mereka, terutama terkait pembahasan RUU Perampasan Aset.
Di tengah kepadatan massa itulah situasi berubah drastis.
Satu Teriakan, Massa Langsung Tersulut
Seorang pria mengenakan helm tiba-tiba bersuara lantang mengenai target pengesahan RUU Perampasan Aset yang disebut direncanakan pada Desember 2026.
Ia menyatakan tenggat tersebut terlalu lama.
Pernyataan itu justru memantik kemarahan sebagian peserta aksi. Di tengah massa yang sedang menyuarakan tuntutan, pria tersebut dituding sengaja memancing emosi dan mengacaukan jalannya demonstrasi.
Tuduhan sebagai provokator pun dengan cepat menyebar di tengah kerumunan.
Beberapa peserta aksi kemudian bergerak mendekatinya.
Dalam hitungan detik, pria berhelm itu sudah dikepung massa.
Dikepung, Dipukul dan Ditendang
Kerumunan semakin rapat. Pria tersebut kemudian menjadi sasaran amukan sejumlah peserta aksi.
Pukulan dan tendangan mengarah kepadanya hingga helm yang dikenakannya terlepas. Ia kemudian jatuh dan tersungkur di tengah kerumunan.
Situasi pun berubah menjadi mencekam.
Aksi massa yang semula berfokus pada penyampaian aspirasi kepada DPR berubah menjadi insiden kekerasan terhadap seorang pria yang dituding sebagai provokator.
Petugas kepolisian yang berada di lokasi langsung bergerak. Aparat berupaya membuka jalan di tengah kerumunan dan mengamankan pria tersebut sebelum situasi semakin tidak terkendali.
Sejumlah peserta aksi juga ikut membantu meredakan ketegangan.
Pria itu akhirnya berhasil dikeluarkan dari tengah massa.
Benarkah Bawa Golok?
Persoalan lain yang membuat insiden ini menjadi sorotan adalah munculnya tudingan bahwa pria tersebut membawa senjata tajam jenis golok.
Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan.
Belum ada keterangan resmi yang memastikan bahwa pria tersebut memang membawa atau menguasai senjata tajam sebagaimana dituduhkan massa.
Karena itu, tudingan tersebut tidak bisa serta-merta dianggap sebagai fakta sebelum ditemukan bukti dan hasil pemeriksaan aparat.
Hal yang sama berlaku terhadap tudingan bahwa pria tersebut merupakan provokator.
Apakah benar ia sengaja menyusup untuk memancing kericuhan, atau hanya menyampaikan pendapat yang kemudian dianggap berbeda oleh massa, masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut.
Aksi Aspirasi Jangan Berubah Menjadi Main Hakim Sendiri
Insiden ini menjadi alarm keras di tengah aksi demonstrasi yang seharusnya menjadi ruang penyampaian aspirasi.
Perbedaan pendapat seharusnya tidak berujung pada kekerasan. Begitu pula tudingan terhadap seseorang semestinya diserahkan kepada aparat untuk diperiksa dan dibuktikan, bukan diputuskan di tengah kerumunan massa.
Jika benar pria tersebut membawa senjata tajam atau sengaja melakukan provokasi, aparat memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan dan mengambil tindakan sesuai hukum.
Sebaliknya, apabila tudingan tersebut tidak terbukti, kekerasan terhadap dirinya juga menjadi persoalan serius.
Karena itu, publik kini menunggu kejelasan dari aparat: siapa sebenarnya pria berhelm tersebut, apa yang dibawanya, dan apa motifnya berada di tengah massa aksi?
Hingga berita ini ditulis, identitas pria tersebut belum diketahui. Belum ada pula kepastian mengenai dugaan kepemilikan golok maupun motif yang melatarbelakangi keberadaannya di tengah massa.
Satu hal yang jelas, situasi yang sempat memanas tersebut menunjukkan betapa tipisnya batas antara penyampaian aspirasi dan pecahnya kericuhan ketika emosi massa bertemu dengan tudingan yang belum teruji.
(AK)
#Headline #Peristiwa #Demonstrasi