
Lima Calon Manajer Koperasi Merah Putih Tewas Saat Latihan Semi Militer, DPR: Hentikan Latsarmil, Jangan Ada Korban Lagi!
AK47, Jakarta – Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang diproyeksikan menjadi motor penggerak Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) kini diterpa badai kritik. Penyebabnya bukan sekadar polemik metode pelatihan, melainkan jatuhnya korban jiwa.
Sebanyak lima calon manajer Kopdes Merah Putih dilaporkan meninggal dunia setelah mengikuti latihan dasar kemiliteran (Latsarmil). Tragedi tersebut langsung memicu desakan keras dari DPR agar pemerintah menghentikan pelatihan bergaya militer yang dinilai tidak relevan bagi calon pengelola koperasi.
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, menegaskan pelatihan manajemen koperasi tetap penting. Namun, menurutnya, latihan dasar kemiliteran yang justru memakan korban jiwa tidak lagi memiliki alasan untuk dipertahankan.
"Pelatihan manajemen koperasi harus tetap berjalan karena sangat dibutuhkan. Namun latihan dasar kemiliteran yang justru merenggut nyawa peserta sudah saatnya dihentikan dan diganti dengan metode pembinaan yang lebih relevan dengan tugas mereka," tegas TB Hasanuddin, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, kematian lima peserta bukan sekadar insiden biasa, tetapi alarm keras bahwa desain pelatihan harus dievaluasi secara total. Ia menegaskan, negara tidak boleh membiarkan pembangunan sumber daya manusia dibayar dengan nyawa.
'Jangan Anggap Enteng Nyawa Manusia'
Nada yang lebih keras disampaikan Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Oleh Soleh. Ia meminta Kementerian Pertahanan segera menghentikan sementara seluruh pelaksanaan Latsarmil sampai penyebab kematian lima peserta diungkap secara terbuka.
"Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal. Karena itu saya mendesak Kementerian Pertahanan menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil."
Menurutnya, para peserta adalah masyarakat sipil yang mendaftar untuk mengabdi melalui pengelolaan koperasi desa, bukan mengikuti pendidikan militer.
"Mereka adalah masyarakat sipil. Mereka bukan tentara. Kemampuan fisiknya tentu berbeda dengan prajurit yang telah menjalani pendidikan militer. Karena itu pola pelatihannya harus disesuaikan," ujarnya.
Oleh Soleh juga meminta investigasi dilakukan secara menyeluruh dan transparan agar publik mengetahui penyebab pasti meninggalnya lima peserta.
Mengapa Calon Manajer Koperasi Harus Digembleng Ala Militer?
Di tengah derasnya kritik, Kementerian Pertahanan mempertahankan alasan penyelenggaraan Latsarmil.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menjelaskan bahwa latihan tersebut bukan bertujuan mencetak tentara, melainkan membangun karakter, disiplin, kepemimpinan, integritas, kemampuan bekerja di bawah tekanan, serta semangat pengabdian.
Menurutnya, calon manajer Kopdes nantinya mengelola dana masyarakat sehingga harus memiliki karakter kuat.
"Penekanannya bukan pada kemampuan fisik, melainkan pada pembentukan mental, karakter, tanggung jawab, daya juang, kerja sama, dan kemampuan memecahkan masalah," jelasnya.
Kemhan bahkan mengaitkan keberhasilan pengelolaan koperasi dengan ketahanan nasional. Menurut mereka, ekonomi desa yang kuat akan memperkokoh ketahanan negara.
Evaluasi Tak Cukup Jika Hanya Seremonial
Pascakejadian yang merenggut lima nyawa tersebut, Kementerian Pertahanan menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latsarmil.
Namun, bagi banyak pihak, evaluasi tidak boleh berhenti pada perbaikan administrasi atau perubahan teknis semata. Pertanyaan mendasar yang kini mengemuka adalah apakah pendekatan semi militer memang diperlukan untuk mencetak manajer koperasi.
Tragedi ini menjadi ujian besar bagi pemerintah. Di satu sisi, program Koperasi Merah Putih digadang-gadang sebagai tulang punggung penguatan ekonomi desa. Namun di sisi lain, muncul tuntutan agar negara memastikan setiap tahapan pelaksanaannya mengutamakan keselamatan peserta.
Lima nyawa telah melayang. Kini publik menunggu, apakah pemerintah hanya akan melakukan evaluasi, atau benar-benar mengubah pola pelatihan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
(AK)
#Nasional #Headline #KoperasiMerahPutih