-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dua Bulan Disandera Perompak Somalia, 4 Pelaut Indonesia Menjerit Minta Diselamatkan: Negara Jangan Sampai Terlambat Bertindak

Senin, 22 Juni 2026 | Juni 22, 2026 WIB Last Updated 2026-06-22T08:50:13Z

Dua Bulan Disandera Perompak Somalia, 4 Pelaut Indonesia Menjerit Minta Diselamatkan: Negara Jangan Sampai Terlambat Bertindak



AK47, Somalia Sudah dua bulan empat pelaut Indonesia terjebak dalam mimpi buruk di tengah lautan Somalia. Mereka bukan sedang menghadapi badai atau kerusakan mesin kapal, melainkan menjadi sandera kelompok perompak bersenjata yang hingga kini belum ada kepastian kapan akan melepaskan mereka.


Di atas kapal tanker MT Honour 25, para awak kapal kini bertarung melawan dua musuh sekaligus: para perompak dan ancaman kematian akibat kelaparan, penyakit, serta krisis air bersih.


Sebuah video yang beredar menjadi bukti nyata betapa memprihatinkannya kondisi para pelaut Indonesia tersebut. Wajah mereka tampak lelah, tubuh mulai melemah, dan harapan perlahan memudar seiring waktu yang terus berjalan tanpa kepastian.


Kapten kapal, Azhari Samadikun, warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, bahkan menyampaikan permohonan bantuan dengan nada putus asa.


"Kondisi kami sekarang sangat-sangat kritis. Kami tidak tahu harus bertahan dengan apa."


Kalimat singkat itu bukan sekadar permintaan bantuan, melainkan sinyal darurat yang menggambarkan perjuangan hidup dan mati para pelaut Indonesia yang terisolasi ribuan kilometer dari tanah air.


Kelaparan, Air Kotor, dan Penyakit Mulai Menggerogoti Para Sandera


Kondisi di atas kapal disebut terus memburuk dari hari ke hari.


Persediaan makanan semakin menipis. Air bersih sudah hampir tidak tersedia. Para kru terpaksa mengonsumsi air yang kualitasnya diragukan demi mempertahankan hidup.


Akibatnya, sejumlah awak kapal mulai mengalami gangguan kesehatan serius, mulai dari infeksi hingga komplikasi penyakit yang semakin sulit ditangani karena tidak adanya akses medis.


Di saat tubuh mereka melemah, tekanan psikologis juga semakin menghancurkan mental para sandera. Ketidakpastian menjadi penyiksaan tersendiri.


Mereka tidak tahu kapan akan dibebaskan. Mereka juga tidak tahu apakah masih bisa kembali memeluk keluarga mereka di Indonesia.


Jeritan Keluarga: Jangan Biarkan Mereka Berjuang Sendirian


Di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, keluarga Kapten Azhari hanya bisa menunggu kabar sambil dihantui kecemasan.


Komunikasi terakhir terjadi sekitar tiga minggu lalu. Setelah itu, keheningan menjadi sumber ketakutan baru.


Keluarga mengaku kecewa karena belum melihat perkembangan yang jelas terkait upaya pembebasan para sandera.


Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: sejauh mana perlindungan negara terhadap warga negaranya yang bekerja di jalur pelayaran internasional berisiko tinggi?


Tentu proses pembebasan sandera internasional bukan perkara sederhana. Langkah diplomasi, negosiasi, dan kerja sama lintas negara membutuhkan kehati-hatian. Namun di sisi lain, waktu terus berjalan dan kondisi para korban terus memburuk.


Alarm Keras Bagi Negara dan Industri Pelayaran


Kasus MT Honour 25 bukan sekadar tragedi penyanderaan biasa. Ini adalah alarm keras bagi semua pihak.


Keselamatan pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing harus menjadi perhatian serius. Mereka adalah pekerja yang menjaga rantai perdagangan global tetap berjalan, tetapi ketika musibah datang, mereka tidak boleh merasa ditinggalkan.


Empat warga negara Indonesia saat ini sedang mempertaruhkan nyawa di tengah lautan Somalia.


Mereka tidak membutuhkan janji. Mereka membutuhkan tindakan nyata.


Sebab, dalam situasi seperti ini, setiap hari yang terlewat bukan lagi soal waktu, melainkan soal keselamatan manusia.


Dan pertanyaan yang kini menggema dari keluarga para korban sangat sederhana:


Berapa lama lagi mereka harus bertahan sebelum pertolongan benar-benar datang?


(AK)


#Perompak #Headline #Kriminal #Somalia #Internasional

×
Berita Terbaru Update