
Organisasi Papua Merdeka (OPM). (Dok. TNI).
AK47, Mimika - Suara tembakan kembali memecah sunyi pegunungan Papua. Kawasan Mile 50, wilayah operasional PT Freeport Indonesia yang selama ini dikenal sebagai zona berpengamanan ketat, berubah menjadi arena kontak bersenjata yang menelan korban jiwa. Satu prajurit TNI gugur di tempat, dua lainnya terluka, dan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Kamis (12/2/2026), juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom menyebut aksi dilakukan oleh pasukan dari Timika bersama Kodap VIII Intan Jaya. Mereka mengklaim berhasil merampas dua pucuk senjata api jenis SS2, dua magazen, serta sekitar 50 butir amunisi dari aparat yang diserang.
“Kini, senjata dan amunisi menjadi aset TPNPB,” demikian pernyataan yang dirilis ke publik.
Klaim perampasan senjata itu menjadi sorotan serius. Di tengah ketegangan yang telah berlangsung puluhan tahun, pernyataan tersebut memperlihatkan eskalasi yang bukan sekadar simbolik, melainkan berdampak langsung pada keseimbangan keamanan di lapangan.
Prajurit Gugur, Dua Korban Dirawat
Serangan terjadi sehari sebelumnya saat rombongan kendaraan melintas di area Mile 50. Serka AC, anggota Koramil 1710-04/Tembagapura, Kodim 1710/Mimika, dilaporkan tewas akibat tembakan di lokasi kejadian. Sertu H mengalami luka tembak dan langsung dievakuasi untuk penanganan medis. Satu karyawan PT Freeport Indonesia berinisial HR juga terluka dalam insiden tersebut.
Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Tri Purwanto memastikan seluruh korban telah mendapatkan perawatan optimal. Aparat keamanan kini memperketat penjagaan di sekitar area tambang, yang selama ini masuk kategori objek vital nasional.
Tuntutan Tegas dan Ancaman Terbuka
Tak hanya mengklaim serangan, TPNPB juga menyampaikan tuntutan politik yang lebih keras. Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto serta pemerintah Amerika Serikat untuk menutup operasional PT Freeport Indonesia. Jika tuntutan itu diabaikan, kelompok tersebut menyatakan akan terus melakukan penyerangan di kawasan tambang.
Dalam pernyataannya, TPNPB juga meminta agar konflik Papua yang telah berlangsung lebih dari enam dekade ditinjau ulang secara menyeluruh, termasuk keterlibatan pihak internasional dalam sejarah politik Papua.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa aksi di Mile 50 bukan sekadar insiden keamanan, melainkan bagian dari pesan politik yang ingin ditegaskan ke tingkat nasional dan global.
Tambang, Konflik, dan Ketegangan Berkepanjangan
PT Freeport Indonesia bukan hanya pusat produksi emas dan tembaga terbesar di Tanah Air, tetapi juga simbol kepentingan ekonomi strategis. Karena itulah, setiap gangguan keamanan di kawasan ini selalu berdampak luas baik secara ekonomi, politik, maupun psikologis.
Serangan terbaru ini menambah daftar panjang kekerasan bersenjata di Papua. Di satu sisi, aparat keamanan berupaya menjaga stabilitas dan melindungi objek vital negara. Di sisi lain, kelompok bersenjata terus menyuarakan tuntutan politik dengan cara yang memicu benturan langsung.
Yang paling rentan dalam situasi ini adalah masyarakat sipil warga lokal dan para pekerja yang berada di tengah pusaran konflik.
Persimpangan Penyelesaian
Insiden Mile 50 kembali menegaskan bahwa Papua masih berada di persimpangan jalan. Pendekatan keamanan terus dijalankan, sementara tuntutan politik belum menemukan titik temu yang disepakati semua pihak.
Selama akar persoalan belum diselesaikan melalui dialog yang komprehensif dan langkah konkret yang menenangkan semua pihak, bayang-bayang kekerasan akan terus menghantui wilayah tersebut.
Di balik dentuman senjata dan klaim perlawanan, yang dipertaruhkan bukan hanya stabilitas keamanan tetapi juga masa depan damai bagi Tanah Papua.
(AK)
#OPM #Penembakan #TNI #Peristiwa