Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tragedi Maut Pekerja SPPG: Emosi Terpendam, Ajakan Ditolak, Nyawa Melayang

Kamis, 29 Januari 2026 | Januari 29, 2026 WIB Last Updated 2026-01-29T11:26:12Z

Ilustrasi Jenazah



AK47, Muara Enim - Desa Gaung Asam yang selama ini dikenal tenang mendadak berubah menjadi lokasi tragedi berdarah. Di antara hamparan kebun nanas milik warga, sesosok jasad perempuan ditemukan tergeletak tak bernyawa. Tubuhnya tertelungkup, nyaris tak dikenali, meninggalkan jejak kematian yang mengerikan.


Korban adalah Wulandari (50), pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Plaju, Palembang. Ia tak mati karena kecelakaan. Ia dibunuh secara keji—dicekik menggunakan jilbab yang sehari-hari menutup kepalanya. Alat ibadah itu berubah menjadi senjata maut.


Pelaku Bukan Orang Asing: Rekan Kerja Sendiri


Fakta paling mencengangkan terungkap belakangan. Pelaku pembunuhan bukan perampok, bukan orang asing, melainkan rekan kerja korban sendiri.


Pelaku berinisial An (38), seorang office boy di SPPG, menyerahkan diri ke Polsek Ilir Barat I Palembang pada Rabu malam (28/1/2026). Ia datang sendiri, tanpa paksaan, dengan pengakuan yang membuat polisi terdiam: ia telah menghabisi nyawa Wulandari.

 

“Pelaku datang ke rumah anggota kami dan mengaku telah membunuh korban. Kami langsung mengamankannya,” ujar Kapolsek Ilir Barat I Palembang Kompol Fauzi Saleh.


Kesal, Emosi, dan Batas yang Jebol


Di hadapan penyidik, An mengungkap motif yang terdengar sepele namun berujung fatal. Ia mengaku kesal dan tidak nyaman, merasa sering “diganggu” oleh korban. Pelaku berdalih dirinya sudah beristri dan memiliki anak.


Namun polisi menegaskan, alasan emosi tidak pernah membenarkan pembunuhan. Apa pun konflik yang terjadi, nyawa manusia bukan taruhannya.


Ajakan Jalan-Jalan yang Berujung Kematian


Peristiwa maut itu terjadi pada Kamis (22/1/2026). Sehari sebelumnya, korban disebut sempat mengajak pelaku berjalan-jalan. Ajakan itu ditolak. Namun pada hari kejadian, korban memaksa ikut ketika pelaku hendak ke Desa Gaung Asam untuk mengembalikan terpal.


Korban dibonceng menggunakan sepeda motor miliknya sendiri. Di tengah perjalanan, pelaku mengaku emosinya memuncak. Di lokasi sepi dekat kebun nanas, pelaku menghentikan motor, menjatuhkan korban, lalu melakukan tindakan yang tak bisa ditarik kembali.


Pelaku melilitkan jilbab ke leher korban dan mencekiknya hingga napas Wulandari terhenti selamanya.


Tak ada teriakan minta tolong. Tak ada saksi. Hanya kebun nanas dan kematian yang sunyi.


Jasad Ditinggalkan, Jejak Dihilangkan


Setelah memastikan korban tewas, pelaku meninggalkan jasad begitu saja di semak-semak. Sepeda motor korban dibawa pergi, lalu ditinggalkan di wilayah Lembak. Kunci motor dibuang upaya menghilangkan jejak.


Pelaku kembali ke Palembang menggunakan travel, seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Namun rasa bersalah tak bisa dibuang begitu saja.


“Saya Tidak Tenang”


Beberapa hari setelah pembunuhan, An mengaku hidupnya dihantui kegelisahan. Tidur tak nyenyak. Pikiran kacau. Hingga akhirnya ia menyerah.

 

“Rasanya tidak tenang. Saya sadar dengan perbuatan saya dan siap menanggung risikonya,” kata An kepada polisi.


Kini tersangka telah diserahkan ke Satreskrim Polres Muara Enim untuk proses hukum lanjutan. Ia terancam hukuman berat atas perbuatannya.


Tragedi Sunyi di Balik Lingkungan Kerja


Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa konflik kecil, emosi terpendam, dan batas yang tak dijaga dapat berubah menjadi tragedi yang merenggut nyawa. Lingkungan kerja yang seharusnya menjadi ruang mencari nafkah, justru berubah menjadi awal petaka.


Di kebun nanas itu, seorang ibu kehilangan nyawa.
Dan satu emosi sesaat mengubah banyak hidup selamanya.


(AK)


#Pembunuhan #Kriminal

×
Berita Terbaru Update