
Presiden Prabowo Subianto beserta pejabat Kabinet Merah Putih saat mengikuti rapat sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2025).
AK47, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto kembali mengirim sinyal kuat konsolidasi kekuasaan. Di tengah menguatnya isu perombakan Kabinet Merah Putih, Prabowo dikabarkan akan melantik sejumlah pejabat strategis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026). Agenda pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan cerminan arah politik dan prioritas kekuasaan Presiden di awal tahun pemerintahan.
Informasi yang beredar menyebutkan, Prabowo akan melantik anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026–2030, lembaga kunci yang menentukan arah kebijakan energi nasional mulai dari transisi energi, pengelolaan sumber daya alam, hingga tarik-menarik kepentingan antara industri, negara, dan lingkungan hidup.
Seorang anggota DEN terpilih membenarkan rencana pelantikan tersebut. Ia memastikan prosesi akan digelar sore ini, namun memilih tidak disebutkan namanya.
“Ya, jam 3 siang ini,” ujarnya singkat.
Istana Bersiap, Sinyal Politik Terbaca
Pantauan di Istana Kepresidenan sekitar pukul 13.45 WIB menunjukkan suasana yang belum ramai. Namun, pembatas telah dipasang di area yang lazim digunakan untuk konferensi pers, mengisyaratkan agenda politik penting yang tengah disiapkan. Dalam tradisi Istana, penataan semacam ini kerap menjadi penanda keputusan strategis yang segera diumumkan ke publik.
Komposisi DEN: Arah Kebijakan atau Bagi-bagi Peran?
Berdasarkan keputusan DPR RI, delapan anggota DEN 2026–2030 berasal dari beragam latar belakang akademisi, industri, teknologi, lingkungan, hingga konsumen. Komposisi ini memperlihatkan upaya Prabowo meramu keseimbangan antara kepentingan pasar, tuntutan transisi energi, dan tekanan isu lingkungan yang terus menguat, baik di dalam negeri maupun internasional.
Namun, di kalangan pengamat, penunjukan ini juga dibaca sebagai upaya penempatan figur-figur strategis di sektor energi—salah satu sektor paling sensitif secara politik dan ekonomi yang selama ini menjadi sumber konflik kepentingan dan lumbung kekuasaan.
BP3R dan Program 3 Juta Rumah
Selain DEN, kabar lain yang beredar di lingkungan wartawan Istana adalah rencana pelantikan Kepala atau Ketua Badan Percepatan Penyelenggaraan Perumahan Rakyat (BP3R). Badan baru ini digadang-gadang menjadi mesin utama realisasi program ambisius 3 juta rumah, janji politik utama pemerintahan Prabowo-Gibran.
BP3R disebut-sebut akan berada di bawah kendali Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah. Namun, Fahri memilih merespons dingin isu tersebut.
“Kata siapa [informasinya]?” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.
Respons ini justru memperkuat spekulasi bahwa dinamika internal kabinet tengah bergerak, dengan sejumlah keputusan strategis belum sepenuhnya diumumkan ke publik.
Kursi Kosong Wamenkeu dan Konsolidasi Kekuasaan
Isu reshuffle kian menguat setelah kosongnya jabatan Wakil Menteri Keuangan, menyusul Thomas Djiwandono keponakan Prabowo resmi menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Kekosongan ini membuka ruang spekulasi pergeseran kekuatan di sektor ekonomi dan keuangan, sektor vital yang menjadi tulang punggung stabilitas pemerintahan.
Jika reshuffle benar terjadi hari ini, maka ini akan menjadi reshuffle kelima Kabinet Merah Putih sejak Prabowo-Gibran dilantik. Sepanjang 2025, Prabowo tercatat sudah empat kali merombak kabinet, sebuah angka yang mencerminkan gaya kepemimpinan tegas sekaligus keras dalam menjaga loyalitas dan efektivitas pembantunya.
Pelantikan DEN dan kemungkinan pengisian jabatan strategis hari ini menjadi penanda bahwa Prabowo belum berhenti “membersihkan” dan menata ulang barisan. Kabinet Merah Putih tampaknya masih akan terus bergerak dan siapa pun yang gagal membaca arah angin politik, berisiko tersingkir.
(AK)
#Nasional #ReshuffleKabinet #Politik