
Jejak Mushaf, Menyulam Harapan: Gerakan Sunyi dari Perumda Air Minum Kota Padang untuk Generasi Qurani
AK47, PADANG — Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus bergerak, ada satu gerakan sunyi yang perlahan menanam jejak makna. Bukan tentang pembangunan fisik atau deru mesin, melainkan tentang huruf-huruf suci yang kembali dihidupkan mengalir dari tangan ke tangan, dari hati ke hati.
Beberapa hari terakhir, Perumda Air Minum Kota Padang bersama Dompet Dhuafa Singgalang meluncurkan program sosial penyaluran 500 mushaf Al-Qur’an. Program ini menyasar santri, penghafal Al-Qur’an, hingga masjid dan mushalla di berbagai sudut Kota Padang—termasuk wilayah yang sempat terluka akibat banjir.
Di sebuah ruang belajar sederhana di MDTA Nurul Huda, lembar demi lembar mushaf baru mulai dibuka. Aroma kertas segar berpadu dengan lantunan ayat-ayat suci yang kembali menggema. Sebanyak 67 mushaf telah lebih dulu disalurkan ke lokasi ini dan Masjid Al-Bahrain—menjadi titik awal dari gerakan yang lebih luas.
Bagi banyak orang, mushaf mungkin hanya sekadar buku. Namun bagi para santri, ia adalah jendela menuju pemahaman, cahaya dalam keterbatasan, dan teman setia dalam perjalanan menghafal.
“Ini bukan sekadar mengganti mushaf lama yang sudah usang,” ujar Adhie Zein, Kasubag Humas Perumda Air Minum Kota Padang. “Ini tentang menghadirkan kembali semangat terutama bagi generasi muda—untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.”
Distribusi pun tidak berhenti di satu titik. Ratusan mushaf lainnya telah menjangkau tujuh lokasi masjid dan mushalla di berbagai penjuru kota. Wilayah terdampak banjir menjadi prioritas—seolah ingin menyampaikan bahwa di tengah bencana, harapan tetap bisa tumbuh.
Di balik program ini, ada pandangan yang lebih dalam dari Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang, Hendra Pebrizal. Ia melihat bahwa pembangunan sejati tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga tentang kekuatan batin masyarakat.
“Air yang kami salurkan setiap hari memang menghidupkan fisik masyarakat. Tapi kami percaya, nilai-nilai Al-Qur’an adalah ‘air’ bagi jiwa,” ungkap Hendra dalam pernyataannya. “Jika keduanya berjalan beriringan fisik dan spiritual maka kita tidak hanya membangun kota, tetapi juga membangun peradaban.”
Komentar itu mencerminkan cara pandang yang jarang diungkap: bahwa perusahaan daerah pun memiliki peran dalam membentuk karakter masyarakat, bukan sekadar menyediakan layanan publik.
Sumatera Barat sendiri dikenal dengan tradisi kuat dalam pendidikan Al-Qur’an. Surau-surau kecil hingga lembaga pendidikan diniyah menjadi saksi bagaimana nilai agama diwariskan lintas generasi. Program ini seolah menjadi pengingat—bahwa tradisi itu perlu terus dirawat, bukan hanya dikenang.
Sementara itu, pihak Dompet Dhuafa Singgalang mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton. Partisipasi publik dinilai penting agar gerakan seperti ini terus berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
Pada akhirnya, program ini bukan hanya tentang angka 500 mushaf, tujuh lokasi, atau puluhan santri. Ia adalah tentang harapan yang ditanam diam-diam: bahwa di tangan generasi muda, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga dihidupi.
Dan dari Padang, sebuah pesan sederhana mengalir bahwa perubahan besar kadang dimulai dari hal kecil: satu mushaf, satu ayat, satu hati yang tersentuh.
(AK)
#PerumdaAirMinum #Padang