![]() |
| Walikota Padang Fadly Amran |
AK47, Padang – Banjir bandang yang menerjang Kota Padang tidak hanya merobohkan rumah warga, tetapi juga membongkar rapuhnya infrastruktur pelayanan dasar, khususnya sistem penyediaan air bersih. Di tengah keluhan warga akibat krisis air, Wali Kota Padang Fadly Amran angkat bicara dan meluruskan persepsi publik: persoalan ini bukan semata kegagalan PDAM, melainkan dampak langsung dari bencana besar yang menghantam fasilitas vital kota.
Fadly secara tegas menyatakan, kerusakan parah akibat banjir bandang telah menghancurkan saluran distribusi dan intake milik PDAM, sehingga distribusi air bersih lumpuh di sejumlah wilayah. Ia menilai, dalam kondisi bencana, mencari kambing hitam justru tidak menyelesaikan persoalan.
“Kita harus jujur melihat fakta. Infrastruktur air kita hancur diterjang banjir bandang. Ini bukan persoalan kelalaian, tetapi dampak bencana. Karena itu, penyelesaiannya juga harus menjadi tanggung jawab bersama,” tegas Fadly.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa krisis air yang terjadi bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan akibat kerusakan sistemik yang membutuhkan penanganan cepat dan kerja ekstra di lapangan.
Di tengah situasi sulit itu, PDAM Kota Padang disebut Fadly bekerja dalam tekanan besar. Petugas lapangan harus berjibaku memperbaiki pipa dan intake yang rusak siang dan malam, bahkan ketika hujan masih mengguyur dan arus sungai belum sepenuhnya aman.
“Petugas PDAM bekerja di kondisi ekstrem. Ini bukan pekerjaan ringan. Risiko tinggi, medan berat, cuaca tidak bersahabat, tapi mereka tetap turun ke lapangan,” ungkapnya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Hingga saat ini, 12 intake air dan sekitar 800 meter pipa PDAM yang sebelumnya rusak berat telah berhasil diperbaiki dan kembali difungsikan. Distribusi air pun secara bertahap kembali menjangkau pelanggan.
Data terbaru menunjukkan, 98 persen rumah pelanggan PDAM di Kota Padang kini sudah kembali dialiri air bersih. Namun, Fadly tidak menutup-nutupi kenyataan bahwa tekanan air di sejumlah kawasan masih belum normal.
“Kita tidak ingin menutupi fakta. Air memang sudah mengalir, tetapi tekanannya belum sepenuhnya seperti sebelum bencana. Ini konsekuensi dari kerusakan besar yang kita alami,” katanya.
Fadly menegaskan, pemulihan layanan air bersih tidak bisa diselesaikan secara instan. Dibutuhkan waktu, dukungan anggaran, serta kolaborasi lintas sektor agar sistem distribusi air kembali pulih sepenuhnya dan lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan.
Ia juga mengingatkan bahwa bencana ini harus menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk mengevaluasi ketahanan infrastruktur kota, terutama fasilitas pelayanan publik yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan dasar masyarakat.
“Krisis ini harus menjadi pelajaran besar. Ke depan, kita tidak hanya membangun kembali, tetapi memperkuat sistem agar lebih tahan terhadap bencana,” pungkas Fadly.
Sementara itu, Pemerintah Kota Padang memastikan proses pemulihan akan terus dikawal hingga pelayanan air bersih kembali normal sepenuhnya. Warga diimbau tetap bersabar dan menggunakan air secara bijak selama masa pemulihan berlangsung.
(AK)
#PerumdaAirMinum #Padang
