Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Malam Terakhir yang Mengikat Kenangan: Penutupan Mahardika Muda Indonesia Batch VI di Jorong Koto Ranah

Rabu, 28 Januari 2026 | Januari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T11:11:32Z




AK47, Sumatera Barat - Langit malam Jorong Koto Ranah, Nagari Lubuk Ulang Aling, Sabtu (10/1/2026), tampak lebih hidup dari biasanya. Cahaya lampu panggung sederhana berpadu dengan tawa anak-anak, obrolan warga, dan langkah para pemuda yang hilir mudik menyiapkan acara. Malam itu bukan sekadar penutupan kegiatan, melainkan puncak dari perjalanan pengabdian Mahardika Muda Indonesia Batch VI sebuah malam yang merangkum kerja, kebersamaan, dan kenangan.


Sejak sore, masyarakat mulai berdatangan. Anak-anak duduk berkelompok di barisan depan, mata mereka berbinar menantikan pertunjukan. Para orang tua memilih tempat duduk sambil berbincang santai, sementara para volunteer Mahardika Muda Indonesia tampak sibuk memastikan setiap rangkaian acara berjalan lancar. Malam puncak ini menjadi ruang pertemuan antara relawan dan warga, tanpa sekat, tanpa jarak.


Acara diawali dengan sambutan dari Direktur Bidang Internal Mahardika Muda Indonesia. Dengan nada penuh haru, ia menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dan partisipasi aktif masyarakat Jorong Koto Ranah sejak hari pertama kegiatan dimulai. Ia menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar program yang datang lalu pergi, tetapi proses saling belajar antara relawan dan masyarakat.


Hal senada disampaikan Ketua Pemuda Jorong Koto Ranah. Ia mengapresiasi kehadiran para volunteer yang dinilai telah membawa semangat baru bagi pemuda dan anak-anak jorong. Menurutnya, kolaborasi antara pemuda lokal dan relawan menjadi bukti bahwa pembangunan jorong dapat dimulai dari kebersamaan dan kepedulian sosial.


Ketika malam semakin larut, panggung sederhana itu berubah menjadi ruang ekspresi. Berbagai penampilan seni ditampilkan secara bergantian: tarian yang anggun, drama yang mengundang tawa sekaligus refleksi, pembacaan puisi yang menyentuh, hingga pantun yang disambut sorak riuh penonton. Para volunteer Mahardika Muda Indonesia juga turut tampil, memperlihatkan sisi lain dari relawan bukan hanya sebagai pendamping kegiatan, tetapi juga bagian dari kebudayaan dan kehidupan masyarakat.


Salah satu momen yang paling mengundang antusiasme adalah senam Malole. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua ikut bergerak bersama, tertawa tanpa canggung. Di sanalah terlihat makna sederhana dari kebersamaan: bergerak seirama, menikmati waktu, dan merayakan pertemuan.


Malam puncak ditutup dengan kegiatan makan bersama. Hidangan yang disajikan dinikmati tanpa memandang siapa relawan dan siapa warga. Semua duduk sejajar, berbagi cerita, berbagi rasa, dan berbagi kenangan. Di antara sendok dan piring, terselip perasaan berat untuk berpisah, namun juga harapan agar ikatan yang terjalin tidak berhenti di malam itu.


Penutupan Mahardika Muda Indonesia Batch VI di Jorong Koto Ranah bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan penanda bahwa benih kebersamaan telah ditanam. Malam itu, di bawah langit Nagari Lubuk Ulang Aling, pengabdian menjelma menjadi kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan warga dan para relawan.


Putri Suhana Nabila


#Daerah #SumateraBarat

×
Berita Terbaru Update