Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

KNKT Ungkap Kronologi Lengkap ATR 42-500 Kebablasan Jalur hingga Tabrak Gunung Bulusaraung

Rabu, 21 Januari 2026 | Januari 21, 2026 WIB Last Updated 2026-01-21T15:22:37Z

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono


AK47, Makassar — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai membuka tabir awal kecelakaan tragis pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) dengan nomor registrasi PK-THT yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Investigasi awal mengindikasikan pesawat mengalami penyimpangan jalur penerbangan (kebablasan) saat fase kritis akan melakukan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros.


Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, berdasarkan pemaparan awal dan data AirNav Indonesia, pesawat seharusnya mengikuti Standard Terminal Arrival Route (STAR) untuk runway 21. Namun, prosedur tersebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya.


Menyimpang Sejak Titik Awal STAR


Menurut Soerjanto, rute pendaratan runway 21 memiliki tiga titik navigasi utama yang wajib dilalui pesawat, yakni Araja – Openg – Kabip. Titik-titik ini dirancang untuk memastikan pesawat berada pada jalur aman sebelum memasuki pendekatan akhir menggunakan Instrument Landing System (ILS).

 

“STAR untuk runway 21 itu harus dimulai dari titik Araja. Tapi pesawat ini terlewat dari Araja,” ujar Soerjanto saat rapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (21/1/2026).


Setelah melewati Araja, lanjutnya, Air Traffic Control (ATC) kemudian menginstruksikan pesawat untuk menuju titik Openg sebagai upaya koreksi jalur. Namun, instruksi tersebut juga tidak diikuti.

 

“Diminta ke Openg, ternyata pesawat juga tidak menuju ke Openg. Sampai saat ini kami belum bisa menyampaikan apa penyebabnya,” katanya.


Upaya Darurat ATC Tak Mampu Cegah Tragedi


Karena pesawat terus keluar dari jalur seharusnya dan mendekati kawasan pegunungan, ATC melakukan upaya terakhir dengan menginstruksikan pesawat berbelok ke kanan dengan heading 245 derajat.


Instruksi tersebut dimaksudkan agar pesawat dapat memotong jalur ILS, sehingga sistem pemandu pendaratan otomatis dapat bekerja dan membantu pilot menurunkan pesawat secara aman.

 

“Diharapkan dengan heading 245 itu, pesawat bisa memotong ILS dan sistem pendaratan otomatisnya bisa bekerja. Tapi di titik itu, pesawat sudah keburu mengalami kecelakaan,” ungkap Soerjanto.


Pesawat akhirnya menabrak lereng Gunung Bulusaraung, salah satu kawasan pegunungan terjal di Sulawesi Selatan, yang dikenal memiliki kontur ekstrem dan cuaca yang cepat berubah.


Black Box Ditemukan, Diserahkan ke KNKT


Di tengah duka dan proses evakuasi yang berat, tim SAR gabungan berhasil menemukan dua unit kotak hitam (black box) pesawat, masing-masing Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).


Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar memastikan bahwa kedua perangkat tersebut telah diamankan dan resmi diserahkan kepada KNKT untuk dianalisis lebih lanjut.

 

“Black box segera kami serahkan kepada KNKT yang berwenang melakukan investigasi lanjutan sesuai prosedur,” katanya.


Peran Vital FDR dan CVR


FDR merekam berbagai parameter teknis penerbangan, termasuk:

  • ketinggian,
  • kecepatan,
  • arah dan posisi pesawat,
  • serta performa mesin.


Sementara CVR menyimpan rekaman:

  • percakapan antarawak kokpit,
  • komunikasi dengan ATC,
  • serta suara-suara penting sesaat sebelum kecelakaan.

“Perangkat ini umumnya ditempatkan di bagian ekor pesawat karena memiliki tingkat ketahanan paling tinggi saat terjadi benturan,” jelas Arif.


Kedua perangkat ditemukan di sekitar badan dan ekor pesawat saat tim SAR melakukan penyisiran lanjutan di lokasi kejadian yang sulit dijangkau.


Tantangan Evakuasi di Medan Ekstrem


Penemuan black box dilakukan setelah tim khusus SAR difokuskan mencari bagian ekor pesawat di medan pegunungan yang curam dan tertutup hutan lebat.


Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi mengonfirmasi keberhasilan tersebut.

 

“Alhamdulillahirrahmanirrahim, pada pukul 11.00 Wita kami berhasil menemukan diduga black box,” ujarnya melalui keterangan video dari Makassar.


Kotak hitam kemudian dievakuasi ke Posko SAR AJU Tompobulu, Kecamatan Balocci, sebelum diserahkan ke KNKT.


Investigasi Masih Berlanjut

Dengan ditemukannya black box, KNKT kini memasuki tahap krusial investigasi untuk merekonstruksi detik-detik terakhir penerbangan ATR 42-500 tersebut. Analisis data FDR dan CVR diharapkan dapat menjawab sejumlah pertanyaan penting, mulai dari:

  • penyebab penyimpangan jalur,
  • kondisi pesawat dan awak,
  • hingga kemungkinan faktor cuaca atau sistem navigasi.


Sementara itu, tim SAR gabungan tetap melanjutkan operasi sesuai mandat, dengan fokus pada pencarian korban, evakuasi, serta pengamanan objek vital di lokasi kecelakaan.


Tragedi ini kembali menjadi pengingat keras akan pentingnya kepatuhan prosedur penerbangan, koordinasi ATC-pilot, serta kewaspadaan tinggi saat memasuki fase pendaratan.fase paling kritis dalam dunia aviasi.


(L6)


#KNKT #Peristiwa #PesawatHilangKontak

×
Berita Terbaru Update