D'On,Nagan Raya, Aceh — Sebuah fenomena tidak biasa terjadi di Desa Gunung Cut, Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Setelah banjir yang sebelumnya merendam wilayah itu mulai surut, dari permukaan tanah tiba-tiba muncul gelembung-gelembung gas yang menyembul dari lubang-lubang kecil, menimbulkan bau menyengat, dan bahkan dapat menyala ketika disulut api oleh warga.
Sedikitnya ditemukan sekitar 10 titik kemunculan gas pada area lahan yang sebelumnya tergenang air. Pada titik-titik itu, gelembung terus muncul tanpa henti dari dalam tanah berlumpur, seolah ada sesuatu yang “hidup” di bawah permukaan.
Kepala Desa Gunung Cut, Samsul Bahri, membenarkan fenomena tersebut. Ia menyebut, awalnya warga mengira hanya sisa udara yang terperangkap di dalam tanah setelah banjir. Namun rasa penasaran warga berubah menjadi kekhawatiran setelah dilakukan percobaan sederhana.
“Awalnya dikira gelembung udara biasa. Tapi setelah ada yang mencoba membakar gelembung itu, ternyata bisa menyala. Bahkan ada yang keluar api biru seperti gas,” ujarnya.
Nyala api biru, tanda gas mudah terbakar
Di salah satu titik lokasi, api yang menyala berwarna biru ciri khas pembakaran gas yang relatif murni dan mudah terbakar seperti metana atau gas alam. Kejadian itu sontak mengundang kerumunan warga yang masih memulihkan diri dari bencana banjir.
Namun rasa kagum mereka segera bercampur dengan rasa was-was.
“Apa itu gas murni atau beracun, kami tidak tahu,” kata Samsul Bahri.
Tak sedikit warga yang mengabadikan peristiwa itu dengan ponsel, namun sebagian lainnya memilih menjauh karena takut terjadi ledakan mendadak.
Asal-usul gas masih misterius
Hingga kini, jenis gas yang muncul dari bawah tanah belum dapat dipastikan. Sejumlah dugaan pun mencuat, antara lain:
- gas metana akibat pelapukan material organik di tanah yang lama tergenang air,
- gas alam dari kantong bawah tanah yang tidak sengaja terbuka,
- atau kebocoran jaringan pipa gas bawah tanah bila memang ada instalasi di area tersebut.
Namun semua dugaan masih bersifat sementara dan menunggu hasil investigasi resmi dari pihak berwenang.
Fenomena gas yang mudah terbakar ini dikhawatirkan dapat memicu:
- kebakaran lahan,
- ledakan akibat akumulasi gas,
- atau keracunan apabila gas bersifat beracun dan terhirup warga.
Apalagi lokasi kemunculan gas berada tidak jauh dari kawasan pemukiman yang baru saja pulih dari banjir.
Sudah dilaporkan ke instansi terkait
Pemerintah desa bergerak cepat. Laporan resmi sudah disampaikan ke:
- BPBD
- Dinas Lingkungan Hidup
- aparat kepolisian
Tim teknis diharapkan segera turun ke lokasi, melakukan pengukuran dengan alat pendeteksi gas, serta mengambil sampel untuk uji laboratorium guna memastikan kandungannya.
Untuk sementara, warga diminta menghentikan kebiasaan membakar gelembung gas tersebut karena dinilai sangat berisiko.
Antara kagum dan takut
Bagi masyarakat Desa Gunung Cut, fenomena ini benar-benar baru. Tidak pernah sebelumnya mereka melihat api muncul begitu saja dari tanah.
“Awalnya kami penasaran, kok bisa tanah keluar api. Tapi lama-lama takut juga, apalagi dekat rumah,” ujar salah seorang warga yang menyaksikan langsung.
Sebagian warga masih memilih mendekat untuk melihat, sebagian lagi memilih menutup jendela rumah rapat-rapat karena khawatir gas menyebar.
Pakar nilai perlu penelitian serius
Kemunculan gas dari tanah pascabanjir membuka kemungkinan adanya:
- perubahan struktur tanah,
- peningkatan tekanan bawah permukaan,
- aktivitas mikroorganisme penghasil gas metana,
- atau terbukanya jalur gas alam yang sebelumnya tertutup.
Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan lebih besar: apakah kejadian ini merupakan gejala alam biasa, atau tanda adanya kandungan gas yang lebih besar di bawah permukaan?
Jawabannya baru akan diketahui setelah tim ahli turun melakukan kajian geologi dan lingkungan secara menyeluruh.
(AK)
#Peristiwa
.png)