
MIRIS! Aki EWS Banjir BPBD Padang Diduga Digondol Maling, Sirene Peringatan Dini Terancam Terganggu
D'On, Padang - Ironi di tengah ancaman bencana! Peralatan yang disiapkan untuk membantu menyelamatkan masyarakat dari bahaya banjir justru kehilangan salah satu komponen pentingnya. Satu unit aki deep cycle merek Kijo berkapasitas 12 volt 100Ah yang menunjang pemancar sirene Early Warning System (EWS) Banjir milik BPBD Kota Padang dilaporkan hilang di kawasan Pasa Lalang, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Sabtu (17/10/2026).
Kehilangan tersebut diduga akibat pencurian yang diperkirakan terjadi pada dini hari. Peristiwa ini bukan sekadar raibnya sebuah aki, melainkan persoalan serius yang menyangkut keamanan aset negara dan kesiapan sarana mitigasi bencana di Kota Padang.
Pasalnya, EWS Banjir merupakan salah satu perangkat penting dalam mendukung penyampaian peringatan dini kepada masyarakat ketika potensi banjir mengancam. Jika kehilangan komponen tersebut berdampak pada operasional perangkat, maka kesiapan sistem peringatan dini di lokasi itu perlu segera dipastikan.
Pertanyaan pentingnya: siapa yang mengambil komponen tersebut, bagaimana pengawasan terhadap fasilitas kebencanaan dilakukan, dan apakah perangkat EWS di lokasi itu masih dapat berfungsi optimal?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menjadi perhatian setelah kehilangan itu diketahui dan dilaporkan kepada pihak berwenang.
SUARA MENCURIGAKAN TERDENGAR PUKUL 02.00 WIB
Direktur CV Anugerah Nuansa Abadi, Suri Hamdazir, mengatakan pihaknya menerima laporan dari masyarakat sekitar pukul 08.00 WIB mengenai hilangnya salah satu komponen EWS Banjir di kawasan Pasa Lalang.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pihaknya segera berkoordinasi dengan Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, serta Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Ricky Januar Alexander.
Tim kemudian bergerak ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan langsung. Sekitar pukul 11.05 WIB, tim CV Anugerah Nuansa Abadi bersama Ricky Januar Alexander tiba di lokasi guna memastikan kondisi perangkat dan komponen yang dilaporkan hilang.
"Setelah menerima laporan dari warga, kami langsung menyampaikan informasi ini kepada Kalaksa BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, serta Kabid Kedaruratan dan Logistik, Ricky Januar Alexander. Sekitar pukul 11.05 WIB, tim kami bersama Kabid Kedaruratan dan Logistik telah berada di lokasi untuk melakukan pengecekan secara langsung dan memastikan komponen peralatan yang hilang," ujar Suri Hamdazir.
Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan dan informasi yang dihimpun, kehilangan tersebut diperkirakan terjadi pada Sabtu dini hari, 17 Oktober 2026.
Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku sempat terbangun sekitar pukul 02.00 WIB setelah mendengar suara mencurigakan dari arah belakang rumahnya.
Suara itu disebut menyerupai aktivitas seseorang yang sedang membuka sesuatu secara paksa.
Namun, karena kondisi tubuh sedang sakit dan waktu masih dini hari, warga tersebut tidak langsung memeriksa sumber suara. Ketika mendatangi lokasi pada pagi harinya, barulah diketahui bahwa salah satu komponen perangkat EWS Banjir telah hilang.
Keterangan warga tersebut menjadi informasi awal yang perlu didalami untuk membantu mengungkap kronologi kejadian.
Meski demikian, identitas pelaku dan rangkaian peristiwa yang sebenarnya masih harus dipastikan melalui penyelidikan kepolisian. Belum ada dasar untuk menyimpulkan siapa yang bertanggung jawab atas kehilangan tersebut.
BUKAN SEKADAR AKI, INI MENYANGKUT KESIAPSIAGAAN BENCANA!
Komponen yang hilang dipastikan berupa satu unit aki Kijo jenis deep cycle berkapasitas 12V 100Ah. Aki tersebut digunakan sebagai sumber daya untuk menunjang pemancar sirene EWS Banjir.
Kehilangan ini patut menjadi perhatian karena perangkat tersebut memiliki fungsi yang berkaitan langsung dengan upaya mitigasi bencana.
Di kawasan rawan banjir, peringatan dini dibutuhkan agar masyarakat mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah penyelamatan sebelum situasi berkembang menjadi lebih berbahaya.
Karena itu, kondisi perangkat EWS tidak boleh dibiarkan tanpa kepastian.
Hilangnya aki tersebut menimbulkan kebutuhan mendesak untuk memastikan apakah pemancar sirene masih dapat beroperasi secara normal atau mengalami gangguan. Kepastian itu harus diperoleh melalui pemeriksaan teknis oleh pihak yang berwenang.
Jangan sampai persoalan kehilangan komponen baru mendapat perhatian penuh ketika ancaman banjir sudah berada di depan mata.
Perangkat peringatan dini harus siap ketika dibutuhkan, bukan baru diperiksa ketika bencana datang.
Kehilangan ini juga menjadi pengingat bahwa keberadaan sarana mitigasi bencana harus dibarengi dengan pengamanan, pemeliharaan, dan pengawasan yang memadai.
Sebab, perangkat yang tidak lengkap atau tidak berfungsi optimal berpotensi mengurangi kesiapan penanganan bencana. Karena itu, setiap kehilangan komponen perlu ditangani secara cepat, terukur, dan transparan.
BPBD DAMPINGI PELAPORAN KE POLSEK KURANJI
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang, Ricky Januar Alexander, turut mendampingi tim CV Anugerah Nuansa Abadi melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian.
Ricky menjelaskan bahwa perangkat tersebut merupakan aset negara yang memiliki fungsi penting dalam mendukung sistem peringatan dini bencana banjir.
Ia juga mendampingi proses pelaporan kejadian itu ke Polsek Kuranji agar dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut penjelasan yang disampaikan, meskipun perangkat EWS tersebut masih berada dalam masa pemeliharaan, statusnya tetap merupakan aset negara yang harus dijaga bersama.
Artinya, kehilangan komponen ini tidak cukup hanya dicatat sebagai laporan kerusakan atau kekurangan peralatan. Peristiwa tersebut juga perlu ditindaklanjuti untuk memastikan penyebab kehilangan dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Pelaporan kepada kepolisian menjadi salah satu langkah penting agar kronologi kejadian dapat didalami berdasarkan keterangan saksi, bukti di lokasi, dan informasi lain yang relevan.
Publik tentu berharap penanganan kasus ini tidak berhenti pada pemeriksaan awal. Apabila ditemukan unsur tindak pidana, proses hukum perlu berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan mengenai identitas terduga pelaku maupun hasil penyelidikan yang memastikan pihak yang bertanggung jawab.
SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB MENJAGA ASET KEBENCANAAN?
Kehilangan aki EWS Banjir di Pasa Lalang juga memunculkan pertanyaan mengenai langkah pengamanan fasilitas kebencanaan yang ditempatkan di lingkungan masyarakat.
Pertanyaan ini bukan untuk terburu-buru menyalahkan pihak tertentu, melainkan menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa dapat dicegah.
Fasilitas kebencanaan merupakan bagian dari pelayanan publik. Pengadaan dan pemeliharaannya ditujukan untuk mendukung keselamatan masyarakat sehingga keberadaan serta fungsinya perlu mendapat perhatian serius.
Pihak terkait perlu memastikan beberapa hal mendasar, antara lain kondisi aktual perangkat setelah kehilangan, kebutuhan penggantian komponen, serta langkah pengamanan yang diperlukan untuk mencegah kehilangan berulang.
Pemeriksaan terhadap perangkat EWS lainnya di kawasan rawan juga patut dipertimbangkan guna memastikan tidak ada komponen lain yang hilang atau mengalami kerusakan tanpa diketahui.
Langkah tersebut penting agar pengelolaan fasilitas mitigasi bencana tidak hanya berorientasi pada pemasangan perangkat, tetapi juga menjamin kesiapan operasionalnya.
Sebab, perangkat yang terpasang belum tentu dapat menjalankan fungsinya secara optimal apabila kondisi teknisnya tidak diperiksa secara berkala.
Aset kebencanaan bukan sekadar barang milik negara. Di baliknya, ada kepentingan keselamatan masyarakat yang wajib dilindungi.
JANGAN TUNGGU BENCANA, PASTIKAN SIRENE SIAP BERFUNGSI
Peristiwa di Pasa Lalang menjadi peringatan bahwa upaya mitigasi bencana tidak hanya bergantung pada keberadaan teknologi, tetapi juga pada kedisiplinan menjaga dan merawat fasilitas tersebut.
Masyarakat di sekitar lokasi pemasangan EWS Banjir diimbau ikut menjaga fasilitas kebencanaan dan segera melaporkan apabila menemukan aktivitas mencurigakan, kerusakan, atau kehilangan komponen.
Namun, tanggung jawab pengamanan tidak boleh hanya dibebankan kepada masyarakat. Pihak terkait juga perlu memastikan prosedur pemeriksaan, pemeliharaan, dan penanganan kehilangan berjalan dengan baik.
Dalam situasi rawan banjir, kecepatan memperoleh informasi dapat membantu masyarakat mempersiapkan langkah penyelamatan. Karena itu, kesiapan perangkat peringatan dini harus menjadi perhatian sebelum ancaman muncul.
Kini, ada dua hal yang perlu mendapat kepastian: pengungkapan dugaan pencurian aki EWS Banjir dan jaminan bahwa perangkat tersebut tetap dapat mendukung peringatan dini bagi masyarakat.
Keduanya sama pentingnya. Penyelidikan diperlukan untuk mengungkap penyebab kehilangan, sementara pemeriksaan teknis dibutuhkan untuk memastikan kesiapan perangkat menghadapi potensi bencana.
Jangan sampai masyarakat baru mengetahui bahwa fasilitas peringatan dini bermasalah ketika sirene dibutuhkan untuk memberikan peringatan.
Jika benar terjadi pencurian, pelakunya harus diproses sesuai hukum. Jika terdapat kelemahan pengamanan, evaluasi harus dilakukan. Dan jika kehilangan itu mengganggu fungsi EWS, pemulihannya tidak boleh ditunda tanpa alasan yang jelas.
Sebab, menjaga fasilitas kebencanaan bukan hanya persoalan melindungi aset negara, melainkan bagian dari menjaga keselamatan masyarakat Kota Padang.
(AK)
#Pencurian #Kriminal #Padang #Headline #Daerah