
Intake Paraku Dikepung Lumpur, Dampak Pekerjaan Flyover Jadi Sorotan
AK47, Padang — Pemandangan tak biasa terlihat di kawasan Intake Paraku, Kota Padang. Aliran air yang menjadi salah satu sumber air baku Perumda Air Minum Kota Padang berubah menjadi keruh pekat, membawa lumpur dan material sedimen dalam jumlah besar.
Dokumentasi yang beredar memperlihatkan derasnya aliran berwarna cokelat memenuhi kawasan sungai. Lumpur tampak mengendap di sepanjang aliran hingga mendekati bangunan intake.
Kondisi tersebut langsung menjadi perhatian karena lokasi itu bukan sekadar aliran sungai biasa. Di balik kawasan Intake Paraku terdapat kepentingan yang jauh lebih besar: keberlangsungan pasokan air bersih bagi masyarakat Kota Padang.
Dalam keterangan pada dokumentasi, derasnya lumpur disebut berkaitan dengan dampak pekerjaan flyover di kawasan sekitar.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius: sejauh mana pekerjaan konstruksi telah mengendalikan limpasan tanah dan sedimentasi agar tidak masuk ke badan sungai?
Sebab, bagi pengelola air minum, air baku yang dipenuhi lumpur bukan persoalan sederhana. Sedimentasi dalam jumlah besar dapat meningkatkan beban pengolahan, mengganggu sistem intake dan, apabila tidak segera dikendalikan, berpotensi memengaruhi proses produksi air bersih.
Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang, Hendra Pebrizal, memandang persoalan tersebut harus disikapi secara serius dan terukur.
Menurut Hendra, pembangunan infrastruktur tetap harus berjalan karena memiliki manfaat besar bagi masyarakat. Namun, setiap pekerjaan pembangunan juga wajib memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan dan fasilitas publik yang berada di sekitar lokasi pekerjaan.
“Kita tidak mempermasalahkan pembangunan. Infrastruktur memang dibutuhkan. Tetapi dampaknya harus dikendalikan. Jangan sampai pekerjaan pembangunan justru memberikan beban baru terhadap sumber air baku yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Hendra.
Ia menekankan, air baku merupakan titik awal dari seluruh proses pelayanan Perumda Air Minum. Ketika sumber air mengalami gangguan, dampaknya tidak berhenti di sungai.
“Air baku adalah kepentingan publik. Karena itu, ketika ada aktivitas yang berpotensi meningkatkan sedimentasi, harus ada langkah pengendalian yang jelas. Jangan menunggu intake terganggu baru dilakukan penanganan,” tegasnya.
Lumpur Bukan Sekadar Membuat Air Keruh
Persoalan utama dari kondisi tersebut bukan hanya warna air yang berubah menjadi cokelat.
Lumpur yang terbawa arus dapat membawa material tanah dan sedimen menuju bangunan intake. Jika volume material terus bertambah, sedimentasi berpotensi menumpuk dan menghambat sistem pengambilan air baku.
Dalam kondisi tertentu, petugas teknis harus bekerja ekstra untuk melakukan pembersihan dan memastikan sistem tetap berfungsi.
Pengalaman Perumda Air Minum Kota Padang menghadapi gangguan intake akibat material lumpur dan sampah sebelumnya menunjukkan bahwa persoalan di sumber air dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan pelayanan.
Karena itu, kondisi di Paraku menjadi alarm agar pengendalian sedimentasi dilakukan sejak dari sumber persoalan.
Perumda Dorong Pengendalian dari Hulu
Hendra menilai penanganan tidak cukup hanya dilakukan di sekitar intake.
Pengendalian harus dilakukan dari kawasan pekerjaan yang menjadi sumber limpasan. Material tanah yang mudah terbawa air hujan harus dicegah masuk ke badan sungai melalui sistem pengendalian sedimen yang memadai.
Dengan begitu, pembangunan infrastruktur tetap dapat berlangsung tanpa mengorbankan kualitas sumber air baku.
“Yang kita inginkan sederhana: pembangunan tetap jalan, pelayanan air tetap aman, dan lingkungan tetap terlindungi. Tiga kepentingan ini harus bisa berjalan bersama,” kata Hendra.
Ia juga menegaskan pentingnya koordinasi antara pihak pelaksana pekerjaan, pengelola sumber daya air dan Perumda Air Minum agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi lebih cepat.
Jangan Sampai Masyarakat yang Menanggung Dampaknya
Kondisi Intake Paraku menjadi pengingat bahwa setiap proyek pembangunan memiliki konsekuensi yang harus dikelola dengan baik.
Flyover dibangun untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan meningkatkan konektivitas. Namun, manfaat tersebut tidak boleh dibayar dengan munculnya persoalan baru pada sumber air yang juga menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Karena itu, pengendalian lumpur dan sedimentasi harus menjadi bagian penting dari pelaksanaan pekerjaan, terutama ketika proyek berada di kawasan yang memiliki hubungan langsung dengan aliran sungai dan sumber air baku.
“Kita harus berpikir sampai ke hilir. Jangan hanya melihat pekerjaan selesai secara fisik, tetapi dampaknya terhadap fasilitas dan pelayanan publik juga harus dihitung,” ujar Hendra.
Bagi Perumda Air Minum Kota Padang, menjaga Intake Paraku berarti menjaga salah satu mata rantai penting pelayanan air bersih.
Dan ketika lumpur mulai memenuhi aliran menuju intake, pesan yang muncul menjadi sangat jelas: pembangunan boleh dikebut, tetapi perlindungan sumber air tidak boleh dikesampingkan.
Sebab jika sumber air baku terganggu, yang akhirnya merasakan dampaknya bukan hanya pengelola tetapi masyarakat yang menunggu air tetap mengalir dari keran rumah mereka.
(AK)
#PerumdaAirMinum #Padang #Headline #Daerah