-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hari Damai Aceh Berujung Ricuh: Massa dan Aparat Terlibat Bentrokan, Bendera Bulan Bintang Jadi Pemicu

Sabtu, 15 Agustus 2026 | Agustus 15, 2026 WIB Last Updated 2026-08-15T16:32:57Z

Hari Damai Aceh Berujung Ricuh: Massa dan Aparat Terlibat Bentrokan, Bendera Bulan Bintang Jadi Pemicu



AK47, BANDA ACEH — Ironi terjadi pada peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh. Momentum yang seharusnya menjadi ruang untuk mengenang berakhirnya konflik dan merawat perdamaian justru diwarnai ketegangan hingga kericuhan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).


Suasana yang semula dipenuhi agenda zikir, doa, dan refleksi perjalanan perdamaian Aceh berubah panas setelah terjadi perselisihan antara massa dan aparat gabungan TNI-Polri terkait bendera Bulan Bintang.


Direktur YLBHI-LBH Banda Aceh Aulianda Wafisa mengatakan, ketegangan tersebut sejatinya telah muncul sebelum massa tiba di Banda Aceh. Menurut dia, warga dari sejumlah kabupaten dan kota di Aceh mulai bergerak menuju ibu kota provinsi sejak dua hingga tiga hari sebelum peringatan Hari Damai Aceh.


Namun, perjalanan sebagian warga disebut tidak berjalan mulus.


Aulianda mengatakan sejumlah rombongan warga sempat diperiksa aparat gabungan. Pemeriksaan itu disebut berkaitan dengan dugaan adanya atribut bendera Bulan Bintang yang dibawa dalam perjalanan.


“Mobilisasi ke Banda Aceh itu sejak dua sampai tiga hari yang lalu sudah jalan, kawan-kawan warga dari kabupaten/kota,” kata Aulianda saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026) malam.


“Di tengah jalan, mereka sudah di-razia oleh aparat gabungan TNI-Polri terkait dengan ditengarai ada atribut-atribut seperti bendera Bulan Bintang,” sambungnya.


Menurut Aulianda, pemeriksaan bahkan masih berlangsung hingga Jumat (14/8/2026) malam. Sebagian warga disebut tidak dapat meneruskan perjalanan, sementara rombongan lainnya berhasil tiba di Banda Aceh.


Berawal dari Zikir dan Refleksi


Sesampainya di Banda Aceh, massa berkumpul di halaman Masjid Raya Baiturrahman.


Aulianda menegaskan, sejak awal kegiatan tersebut dirancang sebagai kegiatan damai. Tidak ada agenda untuk membuat kericuhan.


Zikir, doa, dan refleksi 21 tahun perdamaian Aceh menjadi bagian dari kegiatan. Masyarakat juga hendak menyampaikan pandangan mengenai kondisi Aceh saat ini.


“Diniatkan memang awalnya itu untuk damai, zikir, doa, macam-macamlah. Kemudian juga kalau kita lihat itu, ada membicarakan tentang situasi Aceh saat inilah, refleksi tentang 21 tahun damai,” ujarnya.


Namun, suasana berubah ketika sebagian peserta membawa bendera Bulan Bintang dan hendak mengibarkannya.


Menurut Aulianda, keberadaan bendera tersebut tidak dimaksudkan untuk menyuarakan kemerdekaan ataupun separatisme. Persoalan muncul ketika aparat berupaya mencegah pengibaran atribut tersebut.


“Tapi Bulan Bintang ini yang kemudian ketika mau dikibarkan itu kan dihalau oleh aparat TNI. Ketika dihalau, dicoba dirampas, ya sudah pasti warga merespons perampasan atribut bendera ini,” katanya.


Dari titik itulah ketegangan meningkat.


Ketegangan Pecah, Situasi Berubah Chaos


Respons massa terhadap tindakan aparat kemudian berkembang menjadi kericuhan.


Aulianda menyebut terjadi aksi saling dorong hingga pelemparan batu. Ia juga menyebut adanya letusan senjata ke arah atas serta aksi kejar-kejaran antara massa dan aparat.


“Ketika massa sudah merespons, ya sudah pastilah kemudian timbul chaos. Sempat meletus senjata ke atas, terjadi pelemparan batu, saling kejar, dan lain sebagainya,” ujarnya.


Kericuhan tidak hanya berlangsung di satu titik.


Kawasan sekitar Masjid Raya Baiturrahman yang berdekatan dengan Pendopo Gubernur Aceh juga disebut menjadi lokasi munculnya ketegangan. Pengibaran bendera Bulan Bintang, kata Aulianda, berlangsung di sejumlah titik.


“Di seputaran Masjid Baiturrahman itu kan ada Pendopo Gubernur. Jadi dekat memang itu semacam satu hamparan gitulah. Jadi pengibaran bendera Bulan Bintang juga terjadi di berbagai titik,” jelasnya.


Aparat Sempat Diusir dari Kawasan Masjid


Situasi yang semakin panas bahkan membuat sejumlah personel keamanan disebut harus meninggalkan kawasan tempat massa berkumpul.


Aulianda mengatakan beberapa anggota TNI dan polisi sempat diusir warga dari sekitar masjid.


“Beberapa personel TNI itu sempat diusir oleh warga keluar dari masjid. Polisi juga diusir. ‘Ini hajatan kami, kalian ngapain di sini?’ gitu,” kata Aulianda.


Ia menyebut ketegangan berlangsung sejak pagi hingga sore hari dan terjadi di sejumlah titik di sekitar kompleks masjid.


“Dari pagi sudah mulai,” ujarnya.


Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana situasi yang awalnya dirancang sebagai peringatan damai dapat berubah drastis dalam waktu singkat ketika persoalan atribut dan kehadiran aparat bertemu dengan massa dalam jumlah besar.


Korban Luka Belum Terverifikasi


Di tengah kericuhan, kabar mengenai korban luka turut beredar. Namun hingga Sabtu malam, jumlah pasti korban belum dapat dipastikan.


Aulianda mengakui informasi yang diterima pihaknya masih simpang siur. Sebagian informasi diperoleh melalui foto dan video yang beredar di lapangan sehingga membutuhkan verifikasi lebih lanjut.


“Informasi simpang siur ya. Ada yang luka, kemudian sembuh, tapi agak sulit nih kita konfirmasi,” katanya.


Pihak koalisi masyarakat sipil masih berupaya mengonfirmasi informasi tersebut melalui jaringan jurnalis yang berada di lokasi.


“Dari teman-teman jurnalis yang masih meliput di lapangan juga masih simpang siur. Kita cuma dapat informasi berupa foto-foto, video, kan itu agak sulit diverifikasi,” ujarnya.


Dengan demikian, jumlah korban luka maupun kondisi terkini mereka masih menunggu kepastian dari sumber yang dapat diverifikasi.


Ketika Simbol Menjadi Titik Didih


Peristiwa ini memperlihatkan betapa sensitifnya persoalan simbol dan identitas dalam perjalanan politik serta sejarah Aceh.


Di satu sisi, peringatan 21 tahun perdamaian seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali komitmen menjaga Aceh tetap damai. Di sisi lain, penggunaan atribut yang dipersoalkan aparat menjadi titik yang memicu ketegangan di tengah massa.


Bagi masyarakat yang hadir, kegiatan tersebut diklaim sebagai ruang untuk berdoa, berefleksi, sekaligus menyuarakan persoalan Aceh. Sementara aparat berada dalam posisi menjaga keamanan dan memastikan kegiatan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.


Ketika kedua kepentingan itu bertemu tanpa titik temu, suasana pun berubah.


Dari zikir menjadi ketegangan. Dari refleksi menjadi aksi saling kejar. Dari peringatan damai berubah menjadi peristiwa yang meninggalkan tanda tanya besar.


Jangan Sampai Perdamaian Hanya Menjadi Seremonial


Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan.


Perdamaian membutuhkan ruang dialog, penghormatan terhadap aspirasi masyarakat, sekaligus kepastian bahwa penegakan aturan dilakukan secara terukur dan tidak memicu eskalasi.


Karena itu, seluruh pihak perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai apa yang sebenarnya terjadi di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, termasuk kronologi benturan, tindakan aparat, penggunaan senjata, dugaan korban luka, serta alasan pelarangan atau penyitaan atribut yang menjadi pemicu kericuhan.


Keterangan Aulianda merupakan informasi dari pihak masyarakat sipil. Hingga informasi ini disusun, detail lengkap dari perspektif aparat dan data resmi mengenai korban masih diperlukan untuk mendapatkan gambaran peristiwa secara utuh dan berimbang.


Sebab, setelah 21 tahun damai, tantangan terbesar Aceh bukan sekadar mengingat bagaimana konflik berakhir.


Tantangan sebenarnya adalah memastikan perbedaan tidak kembali menjadi alasan untuk saling berhadapan.


Dan dari halaman Masjid Raya Baiturrahman hari ini, pesan itu kembali terdengar dengan cara yang pahit: perdamaian harus terus dirawat, karena ia bisa rapuh ketika ruang dialog kalah oleh ketegangan di lapangan.


(AK)


#Headline #Peristiwa #Kerusuhan #Aceh #Daerah

×
Berita Terbaru Update