-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tragedi Berdarah di Katingan: Tiga Polisi Gugur Dikeroyok Saat Memburu Bandar Sabu, Perang Melawan Narkoba Memakan Korban

Senin, 06 Juli 2026 | Juli 06, 2026 WIB Last Updated 2026-07-06T08:29:33Z

Tragedi Berdarah di Katingan: Tiga Polisi Gugur Dikeroyok Saat Memburu Bandar Sabu, Perang Melawan Narkoba Memakan Korban



AK47, KATINGAN Malam itu seharusnya menjadi akhir pelarian seorang residivis narkoba. Namun yang terjadi justru menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah penindakan narkotika di Kalimantan Tengah.


Tiga anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Katingan gugur saat menjalankan operasi penangkapan terhadap seorang target yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran sabu. Mereka bukan gugur dalam baku tembak dengan kelompok bersenjata, melainkan ketika menghadapi perlawanan brutal dari massa yang diduga berusaha menggagalkan penegakan hukum.


Peristiwa berdarah itu terjadi pada Rabu malam, 1 Juli 2026, di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan.


Korban yang gugur adalah Aipda Yudhie Perdana Putra, Aiptu Sumaryanto, dan Bripda Nopandri Ramadhana. Ketiganya mengorbankan nyawa saat menjalankan tugas memberantas narkotika yang selama ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat.


Operasi yang Berubah Menjadi Neraka


Operasi tersebut berawal dari laporan masyarakat mengenai dugaan aktivitas peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.


Penyelidikan polisi mengarah kepada seorang pria berinisial BIO, residivis kasus narkotika yang diduga kembali mengendalikan bisnis haramnya.


Sebanyak 12 personel Satresnarkoba diterjunkan dalam operasi yang telah disusun secara terukur.


Strategi telah dipersiapkan. Tim dibagi menjadi dua kelompok. Tim pertama bertugas menangkap target di dalam rumah, sementara tim kedua bersiaga memberikan perlindungan apabila terjadi situasi darurat.


Tahap awal berjalan mulus.


Target operasi berhasil diamankan.


Namun hanya dalam hitungan menit, situasi berubah total.


Massa Mengepung, Polisi Diserang dari Berbagai Arah


Keberhasilan menangkap target justru memicu amarah sejumlah orang di lokasi.


Perlawanan yang semula dilakukan oleh orang-orang di dalam rumah dengan cepat berubah menjadi serangan massa.


Warga terus berdatangan.


Jumlah mereka semakin banyak.


Personel kepolisian yang hanya berjumlah belasan orang akhirnya terkepung.


Menurut Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, massa menyerang menggunakan parang, senjata tajam, hingga senjata api rakitan.


Serangan datang bertubi-tubi dari berbagai arah.


Situasi yang semula merupakan operasi penangkapan berubah menjadi upaya penyelamatan nyawa.


Berenang Menembus Sungai, Bersembunyi di Tengah Hutan


Dengan jumlah yang tidak seimbang dan tekanan yang semakin besar, para anggota berusaha menyelamatkan diri.


Sebagian personel nekat berenang menyeberangi Sungai Katingan di tengah gelapnya malam.


Sebagian lainnya berlari memasuki hutan, berharap dapat bertahan hidup hingga bantuan datang.


Namun tidak semua berhasil keluar dari kepungan.


Saat bantuan tiba, tiga anggota belum kembali.


Mereka hilang dalam kekacauan yang menyelimuti operasi tersebut.


Satu Gugur, Dua Hilang


Aipda Yudhie Perdana Putra ditemukan lebih dahulu dalam keadaan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam.


Sementara dua rekannya, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, tidak diketahui keberadaannya.


Harapan agar keduanya masih hidup membuat operasi pencarian besar-besaran segera digelar.


Sungai Katingan Menjadi Saksi Duka


Selama beberapa hari, tim gabungan dari Polda Kalimantan Tengah, Polairud, Kodim 1019/Katingan, Basarnas, dan masyarakat menyisir setiap jengkal Sungai Katingan.


Arus sungai yang deras, kawasan hutan yang lebat, serta medan yang sulit tidak menghentikan pencarian.


Tiga perahu karet dan delapan kapal ces kecil diterjunkan.


Setiap ranting, tepian sungai, hingga pusaran air diperiksa satu per satu.


Harapan Berubah Menjadi Kesedihan


Pada Sabtu, 4 Juli 2026, sekitar pukul 15.55 WIB, tim akhirnya menemukan Bripda Nopandri Ramadhana.


Tubuhnya ditemukan terapung di Daerah Aliran Sungai Katingan, tersangkut pada ranting kayu di seberang Desa Tumbang Lahang.


Sehari kemudian, Minggu, 5 Juli 2026, pencarian kembali membuahkan hasil.


Informasi dari Babinsa Rantau Asem mengarah pada penemuan sesosok jenazah di Sungai Desa Rantau Asem.


Setelah dilakukan identifikasi, dipastikan jenazah tersebut adalah Aiptu Sumaryanto.


Dengan ditemukannya korban terakhir, lengkap sudah duka yang menyelimuti operasi tersebut.


Alarm Bahaya Perlawanan terhadap Aparat


Tragedi ini bukan sekadar kisah gugurnya tiga anggota Polri.


Peristiwa tersebut menjadi alarm keras bahwa penindakan terhadap jaringan narkotika di sejumlah wilayah kini menghadapi risiko yang semakin tinggi, termasuk perlawanan yang berpotensi mengancam keselamatan aparat.


Peristiwa di Katingan menunjukkan bahwa operasi pemberantasan narkoba dapat berubah menjadi tragedi ketika aparat menghadapi perlawanan secara bersama-sama menggunakan senjata tajam maupun senjata api rakitan.


Kini, penyidik masih terus memburu seluruh pihak yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut serta mengusut tuntas jaringan narkotika yang menjadi latar belakang operasi.


Tiga anggota Polri telah gugur dalam menjalankan amanah negara. Pengorbanan mereka menjadi pengingat bahwa setiap upaya memerangi narkotika tidak hanya mempertaruhkan keberhasilan penegakan hukum, tetapi juga nyawa para penegaknya.


(AK)


#Peristiwa #Polri #Narkoba #Headline

×
Berita Terbaru Update