
PPKO Ormawa KOMBAD Justitia Gaungkan Blue Economy di Nagari Ketaping, Satukan Mahasiswa, Pemerintah, dan Masyarakat Selamatkan Pesisir
AK47, Padang Pariaman — Hamparan hutan mangrove yang membentang di pesisir Nagari Ketaping menyimpan harapan besar bagi masa depan masyarakat. Di balik pesona alamnya, kawasan ini juga menghadapi tantangan serius, mulai dari persoalan sampah hingga pengelolaan limbah tambak udang yang berpotensi mengancam keberlanjutan ekosistem. Berangkat dari kondisi tersebut, Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) KOMBAD Justitia hadir sebagai gerakan kolaboratif yang mengajak seluruh elemen masyarakat membangun pesisir yang lestari melalui pendekatan blue economy.
Program yang resmi dibuka pada Minggu (21/6/2026) di Kantor Wali Nagari Ketaping ini bukan sekadar seremoni pembukaan kegiatan mahasiswa. Lebih dari itu, PPKO KOMBAD Justitia menjadi titik awal lahirnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah nagari, serta masyarakat dalam merancang masa depan kawasan pesisir yang produktif tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Pembukaan kegiatan dirangkaikan dengan sosialisasi lingkungan hidup yang menghadirkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman, Andri Satria Masri, S.E., M.E., sebagai narasumber utama.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Subdirektorat Pengembangan Kreativitas Kemahasiswaan, Dr. Eng. Budi Rahmadya, M.Eng., Ketua Pokja PPK Ormawa Universitas Andalas, Risti Kurnia Dewi, S.Gz., M.Si., Operator dan Official PPK Ormawa Ditmawa, Wali Nagari Ketaping beserta perangkat nagari, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, hingga warga yang antusias mengikuti jalannya kegiatan.
Dalam pelaksanaannya, PPKO KOMBAD Justitia mengusung konsep blue economy, sebuah pendekatan pembangunan yang menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan. Konsep ini diyakini mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui program tersebut, mahasiswa bersama masyarakat akan berkolaborasi menjalankan berbagai kegiatan yang berfokus pada tiga agenda utama, yakni rehabilitasi dan pelestarian hutan mangrove, penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta pendampingan pengelolaan tambak udang yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Andri Satria Masri mengungkapkan bahwa Nagari Ketaping merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki potensi luar biasa. Keberadaan hutan mangrove, kawasan muara yang masih alami, serta berkembangnya usaha tambak udang menjadikan daerah ini memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai pusat ekonomi pesisir.
Namun, potensi tersebut juga diiringi tantangan yang tidak ringan. Sejak berkembang pesat pada 2018 hingga 2019, usaha tambak udang memang berhasil meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat. Di sisi lain, persoalan limbah tambak dan sampah pesisir mulai menjadi ancaman baru yang harus segera ditangani.
"Kalau potensi ini tidak dijaga bersama, keuntungan ekonomi yang dirasakan hari ini justru bisa menjadi ancaman bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat di masa depan," ujarnya.
Ia menjelaskan, perubahan sistem perizinan melalui Online Single Submission (OSS) sejak tahun 2020 turut memengaruhi pengawasan terhadap usaha tambak. Sebelumnya, proses perizinan dilakukan melalui verifikasi lapangan dan mempertimbangkan persetujuan masyarakat sekitar. Kini, perizinan dilakukan secara daring melalui unggahan dokumen sehingga sejumlah usaha tambak berkembang tanpa diketahui masyarakat maupun pemerintah di tingkat lokal.
Menurut Andri, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan lingkungan.
"Persoalan yang paling sering ditemukan adalah air tambak diambil dari laut, kemudian dibuang kembali ke laut tanpa melalui proses penyaringan yang memadai. Jika kondisi ini terus terjadi, pencemaran perairan akan sulit dihindari dan dampaknya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat pesisir," jelasnya.
Meski urusan teknis tambak berada di bawah sektor kelautan dan perikanan, Dinas Lingkungan Hidup tetap memberikan perhatian serius karena kualitas lingkungan pesisir berkaitan langsung dengan keberlangsungan hutan mangrove, habitat biota laut, hingga kehidupan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari kawasan tersebut.
Karena itu, menurutnya, upaya pelestarian lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat melalui pembentukan komunitas yang mampu menjadi motor penggerak dalam menjaga kawasan pesisir, melakukan penanaman mangrove secara berkelanjutan, mengawasi aktivitas tambak, hingga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Ia juga mengungkapkan bahwa Nagari Ketaping memiliki potensi wisata pesisir yang sangat menjanjikan. Kawasan muara yang masih alami dapat berkembang menjadi destinasi ekowisata apabila mampu dijaga kebersihan dan kelestariannya. Potensi tersebut diharapkan mampu menjadi sumber ekonomi baru yang berjalan berdampingan dengan sektor perikanan dan budidaya tambak.
Meski demikian, sejak tahun 2021 produktivitas tambak udang di kawasan tersebut mulai mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan sektor perikanan sangat bergantung pada kualitas lingkungan yang sehat dan terjaga.
Dalam kesempatan tersebut, Andri Satria Masri menyampaikan apresiasi kepada Tim PPKO Ormawa KOMBAD Justitia yang dinilainya telah menghadirkan solusi nyata melalui keterlibatan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui inovasi, edukasi, dan pendampingan yang dilakukan secara langsung, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi kewajiban seluruh elemen masyarakat.
PPKO Ormawa KOMBAD Justitia pun diharapkan menjadi awal lahirnya gerakan bersama dalam membangun pesisir Nagari Ketaping yang lebih tangguh menghadapi tantangan lingkungan. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat diyakini akan menjadi fondasi kuat untuk mewujudkan kawasan pesisir yang bersih, produktif, berdaya saing, serta mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian alam.
Lebih dari sekadar program pengabdian, PPKO Ormawa KOMBAD Justitia membawa pesan bahwa masa depan pesisir tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kepedulian seluruh pihak dalam menjaga dan mengelolanya secara bijaksana. Dari Nagari Ketaping, semangat kolaborasi itu mulai ditanamkan demi pesisir yang lestari dan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
(AK)
#Headline #Pendidikan #UniversitasAndalas #SumateraBarat