-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perbaikan Jantung IPA Gunung Pangilun Dimulai 21 Juli, Distribusi Air di Sejumlah Wilayah Kota Padang Terganggu Selama Rehabilitasi

Sabtu, 18 Juli 2026 | Juli 18, 2026 WIB Last Updated 2026-07-19T06:29:35Z

Perbaikan Jantung IPA Gunung Pangilun Dimulai 21 Juli, Distribusi Air di Sejumlah Wilayah Kota Padang Terganggu Selama Rehabilitasi



AK47, Padang  Di balik derasnya air yang setiap hari mengalir ke rumah-rumah warga Kota Padang, terdapat sebuah sistem pengolahan yang bekerja tanpa henti. Namun, sejak banjir bandang dahsyat menerjang Sumatera Barat pada November 2025, "jantung" sistem penyediaan air bersih itu ikut terluka.

Kini, satu babak penting pemulihan dimulai.

PT Hutama Karya (Persero) bersama Perumda Air Minum Kota Padang resmi memulai pekerjaan rehabilitasi dua unit accelator di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Pangilun pada 21 Juli 2026. Proyek strategis ini menjadi bagian dari percepatan penanganan tanggap darurat dan rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) pascabencana yang bertujuan mengembalikan kapasitas produksi air bersih sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur untuk jangka panjang.

Keputusan melakukan rehabilitasi bukan tanpa konsekuensi. Selama pekerjaan berlangsung, ribuan pelanggan di sejumlah kawasan Kota Padang akan mengalami gangguan distribusi air. Meski demikian, langkah ini dinilai sebagai pilihan yang tidak bisa ditunda demi memastikan masyarakat kembali memperoleh pelayanan air bersih yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan.

Sebelum bencana melanda, IPA Gunung Pangilun mampu memproduksi sekitar 500 liter air bersih per detik dan menjadi salah satu tulang punggung pelayanan Perumda Air Minum Kota Padang.

Namun banjir bandang yang terjadi pada penghujung 2025 menghantam berbagai fasilitas vital. Jaringan perpipaan utama terputus, bangunan pengolahan mengalami kerusakan berat, dan sejumlah komponen mekanikal tidak lagi dapat berfungsi secara normal. Dampaknya, kapasitas produksi instalasi turun hingga sekitar 25 persen, sehingga memengaruhi kontinuitas distribusi air ke berbagai wilayah pelayanan.

Hasil investigasi teknis bersama menunjukkan bahwa salah satu kerusakan paling serius terjadi pada bangunan accelator atau water clarifier, yaitu unit utama yang menentukan kualitas air sebelum diproses menjadi air minum.

Di dalam accelator berlangsung tiga tahapan penting sekaligus, yakni proses koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi. Ketiga proses tersebut berfungsi memisahkan lumpur, pasir, hingga partikel halus dari air baku sebelum memasuki tahapan penyaringan berikutnya. Kerusakan pada unit ini membuat proses pengolahan air tidak lagi bekerja secara maksimal sehingga rehabilitasi menyeluruh menjadi kebutuhan yang mendesak.

Dalam pekerjaan rehabilitasi tersebut, tim akan melakukan pembongkaran rangka tube settler, pembongkaran rangka bawah tube settler, pemasangan rangka kolom dan balok baru, pemasangan rangka dudukan, hingga pemasangan kembali 444 unit tube settler pada setiap accelator.

Karena pekerjaan dilakukan secara bergantian, hanya satu accelator yang dapat dioperasikan selama proses rehabilitasi berlangsung. Akibatnya, kapasitas produksi IPA Gunung Pangilun akan kembali menurun sementara, sehingga distribusi air kepada pelanggan tidak dapat berlangsung secara normal.

Perbaikan satu unit accelator diperkirakan memerlukan waktu sekitar empat minggu, sedangkan keseluruhan rehabilitasi menjadi bagian dari proyek pemulihan SPAM pascabencana yang ditargetkan selesai pada Desember 2026.

Selama proses pekerjaan berlangsung, pelanggan di sejumlah kawasan akan mengalami pola distribusi yang berbeda.

Wilayah GOR, S. Parman, Sawahan, Aur Duri, Lubuk Lintah, Kalumbuk hingga Batang Arau diperkirakan masih memperoleh aliran air pada siang hari, namun dengan tekanan yang jauh lebih rendah.

Sementara pelanggan di kawasan Jati Adabiah, Ampang, Belanti, Nipah, Parak Gadang dan Sisingamangaraja hanya akan menerima aliran air pada malam hari.

Sedangkan pelanggan di wilayah Purus, Pancasila, Rohana Kudus dan Pasopati diperkirakan mengalami penghentian sementara distribusi air selama proses rehabilitasi berlangsung.

Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang Hendra Pebrizal, melalui Kepala Sub Bagian Humas Adhie Zein, menegaskan bahwa pekerjaan ini merupakan investasi pelayanan yang manfaatnya akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

"Kami memahami pekerjaan ini akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pelanggan karena berkurangnya kapasitas produksi selama proses rehabilitasi. Namun langkah ini merupakan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Accelator adalah salah satu komponen paling vital dalam proses pengolahan air. Setelah seluruh pekerjaan selesai, kapasitas produksi akan kembali meningkat dan kualitas pelayanan kepada masyarakat akan jauh lebih baik dibandingkan kondisi saat ini," ujar Adhie Zein menyampaikan keterangan Direktur Utama Hendra Pebrizal.

Ia mengatakan, Perumda Air Minum Kota Padang bersama PT Hutama Karya berkomitmen menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin tanpa mengurangi kualitas konstruksi dan standar teknis yang telah ditetapkan pemerintah.

"Kami mengajak seluruh pelanggan untuk bersama-sama mendukung proses pemulihan ini. Manfaatkan waktu ketika air masih mengalir dengan menampung cadangan air secukupnya, gunakan air secara hemat, dan tetap bijak dalam pemakaian selama pekerjaan berlangsung. Mohon doa dan dukungan masyarakat agar seluruh proses rehabilitasi berjalan lancar sesuai target," tambahnya.

Proyek rehabilitasi ini menjadi simbol bangkitnya layanan air bersih Kota Padang setelah diterpa bencana besar. Di balik gangguan distribusi yang akan dirasakan selama beberapa waktu ke depan, tersimpan harapan besar agar masyarakat kembali menikmati layanan air minum yang lebih andal, lebih aman, dan lebih tangguh menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.


(AK)


#Headline #PerumdaAirMinum #Padang

×
Berita Terbaru Update