-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

TRAGEDI PMI ASAL ACEH DI MALAYSIA: Putri Hensy dan Bayinya Ditemukan Tewas, Dugaan Pembunuhan Bermotif Utang Piutang Menggemparkan Publik

Senin, 22 Juni 2026 | Juni 22, 2026 WIB Last Updated 2026-06-22T12:45:08Z

Anggota DPD asal Aceh, H Sudirman atau Haji Uma



AK47, ACEH TAMIANG Sebuah kabar duka yang memilukan sekaligus mengundang kemarahan publik datang dari Malaysia. Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Aceh Tamiang, Aceh, Putri Hensy Aprilda (22) ditemukan meninggal dunia secara tragis bersama bayi yang baru dilahirkannya di kawasan Sepang, Selangor, Malaysia.


Kasus yang diduga kuat sebagai tindak pembunuhan ini sontak mengguncang masyarakat Aceh dan menjadi sorotan karena menyisakan banyak pertanyaan tentang keselamatan pekerja migran Indonesia di luar negeri.


Lebih menyayat hati, Putri diketahui merupakan seorang yatim piatu yang selama ini berjuang seorang diri demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarga di kampung halamannya.


Identitas Korban Terungkap Lewat Kerja Sama KBRI dan Polri


Informasi mengenai kematian Putri pertama kali diterima oleh Tim Gabungan Aceh Bersatu (GAB) di Malaysia dari Atase Kepolisian KBRI Kuala Lumpur.


Proses identifikasi korban dilakukan melalui kerja sama antara pihak kepolisian Malaysia, Atase Kepolisian KBRI Kuala Lumpur, dan Pusat Identifikasi (Pusident) Bareskrim Polri.


Setelah identitas korban dipastikan, informasi tersebut segera diteruskan kepada anggota DPD RI asal Aceh, H Sudirman atau yang lebih dikenal dengan Haji Uma.


Mendapat laporan tersebut, Haji Uma langsung bergerak cepat berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang guna mencari dan memastikan keberadaan keluarga korban.


"Begitu menerima informasi, kami segera menelusuri ahli waris dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar keluarga korban mendapatkan pendampingan," ujar Haji Uma, Senin (22/6/2026).


Bayi yang Baru Dilahirkan Juga Menjadi Korban


Peristiwa ini semakin memilukan karena bayi Putri yang diperkirakan baru berusia beberapa hari juga ditemukan meninggal dunia.


Bayi tersebut sebelumnya ditemukan oleh warga setempat sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Klang. Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan dan jenazahnya kini berada di Rumah Sakit Shah Alam, Malaysia.


Sementara jenazah Putri Hensy sendiri berada di Rumah Sakit Serdang, Selangor.


Kematian ibu dan bayi dalam waktu yang hampir bersamaan membuat kasus ini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum Malaysia.


Pelaku Diduga Seorang Perempuan Warga Malaysia


Perkembangan terbaru menunjukkan aparat Malaysia bergerak cepat mengungkap kasus tersebut.


Berdasarkan informasi yang diperoleh Haji Uma dari KBRI Kuala Lumpur, seorang perempuan warga negara Malaysia telah diamankan pihak berwenang pada 19 Juni 2026.


Saat ini, pelaku tengah menjalani proses hukum dan pemeriksaan intensif oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM).


"Dari informasi KBRI Kuala Lumpur, pelaku diduga seorang perempuan warga Malaysia. Saat ini yang bersangkutan sudah diamankan dan menjalani proses hukum," kata Haji Uma.


Dugaan Motif Utang Piutang Menjadi Titik Awal Pengungkapan Kasus


Polis Diraja Malaysia menduga kuat pembunuhan ini dipicu persoalan utang piutang.


Meski detail nominal dan kronologi lengkap belum dipublikasikan, aparat Malaysia disebut telah mengantongi sejumlah barang bukti yang mengarah pada keterlibatan pelaku.


Penyidik kini terus mendalami hubungan antara korban dan tersangka, termasuk kemungkinan adanya faktor lain yang melatarbelakangi terjadinya kejahatan tersebut.


Apabila terbukti bersalah, pelaku terancam hukuman berat sesuai ketentuan hukum Malaysia, mulai dari penjara seumur hidup hingga hukuman mati, bergantung pada pasal yang nantinya diterapkan oleh pengadilan.


Perjuangan Seorang Anak Yatim yang Berakhir Tragis di Negeri Orang


Di balik tragedi ini tersimpan kisah perjuangan yang begitu menyentuh.


Putri Hensy bukan berasal dari keluarga berada. Ia merupakan seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh neneknya di Aceh Tamiang.


Dengan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, Putri memilih merantau ke Malaysia sekitar tiga tahun lalu demi mencari nafkah dan membantu kebutuhan keluarganya.


Seperti ribuan PMI lainnya, ia meninggalkan kampung halaman dengan harapan dapat mengubah nasib dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.


Namun, perjuangan tersebut justru berakhir tragis di negeri orang.


Sang Nenek Hancur Mendengar Kabar Kematian Cucunya


Kesedihan mendalam kini menyelimuti keluarga korban di Aceh Tamiang.


Sang nenek yang selama ini menjadi tempat Putri berpulang dikabarkan mengalami syok berat setelah menerima kabar kematian cucunya.


Menurut Haji Uma, suasana haru tak terbendung ketika kabar tersebut disampaikan kepada keluarga.


"Saat kami sampaikan kabar ini, nenek korban sangat terpukul dan terus menangis," ungkapnya.


Duka semakin mendalam karena keluarga bukan hanya kehilangan Putri, tetapi juga bayi yang baru saja dilahirkannya.


Biaya Pemulangan Jenazah Capai Rp36 Juta, Solidaritas Masyarakat Aceh Bergerak


Di tengah kesedihan, persoalan biaya pemulangan jenazah menjadi tantangan tersendiri.


Biaya yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar Rp36 juta.


Untuk mengatasi hal tersebut, Haji Uma bersama Tim Gabungan Aceh Bersatu (GAB) Malaysia, jaringan Aceh Meutuah, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, hingga perangkat gampong setempat bergerak melakukan penggalangan bantuan.


"Kami mengupayakan proses pemulangan melalui gotong royong semua pihak agar korban segera dapat dimakamkan di kampung halamannya," kata Haji Uma.


Tim GAB Malaysia juga telah ditugaskan untuk mendampingi seluruh proses administrasi, pengurusan rumah sakit, serta koordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur.


Menjadi Pengingat Keras Perlindungan PMI di Luar Negeri


Tragedi yang menimpa Putri Hensy Aprilda kembali menjadi alarm bagi pemerintah Indonesia mengenai pentingnya perlindungan maksimal terhadap pekerja migran Indonesia di luar negeri.


Kasus ini tidak hanya berbicara tentang dugaan tindak pidana pembunuhan, tetapi juga tentang nasib para pekerja migran yang meninggalkan keluarga demi mencari kehidupan yang lebih baik.


Di balik angka statistik PMI, terdapat manusia-manusia yang membawa mimpi, harapan, dan tanggung jawab besar terhadap keluarga yang mereka tinggalkan.


Kini, masyarakat Aceh hanya berharap keadilan benar-benar ditegakkan, pelaku dihukum setimpal, dan jenazah Putri Hensy bersama bayinya dapat segera dipulangkan untuk dimakamkan di tanah kelahirannya dengan penuh penghormatan.


(AK)


#Headline #Pembunuhan #Kriminal #Malaysia #Internasional

×
Berita Terbaru Update