AK47, Jakarta - Topeng kekuasaan itu akhirnya runtuh. Gatut Sunu Wibowo, sosok yang seharusnya melindungi dan melayani rakyat, kini justru diduga menjadi aktor utama praktik pemerasan di tubuh pemerintahannya sendiri.
Komisi Pemberantasan Korupsi tak lagi memberi ruang. Bersama ajudannya, Dwi Yoga Ambal, ia diduga menjadikan jabatan sebagai alat tekanan—memaksa para pejabat OPD menyetor uang hingga Rp5 miliar.
Ini bukan sekadar penyimpangan. Ini pengkhianatan.
Uang yang seharusnya mengalir untuk rakyat untuk kesehatan, pelayanan, dan kesejahteraan justru diduga dialihkan menjadi “upeti kekuasaan”. Proyek-proyek pun tak luput dari permainan kotor: pengadaan alat kesehatan, jasa cleaning service, hingga keamanan diduga diatur seperti dagangan.
Yang lebih mencengangkan, gaya hidup mewah ikut terseret dalam pusaran kasus:
- Uang ratusan juta diamankan saat OTT
- Total miliaran rupiah diduga sudah berpindah tangan
- Barang mewah seperti sepatu Louis Vuitton ikut disita
Sementara itu, rakyat? Tetap menunggu pelayanan yang layak.
Deputi KPK, Asep Guntur Rahayu, memastikan: bukti sudah cukup. Status tersangka bukan asumsi ini hasil penyidikan.
Penangkapan ini bermula dari OTT pada 10 April 2026. Sebanyak 13 orang diamankan. Satu per satu mulai terbuka jejaring kekuasaan yang selama ini bermain di balik layar.
Kini, jerat hukum menunggu:
- Pemerasan oleh pejabat negara
- Gratifikasi yang tak bisa lagi disembunyikan
Ancaman hukuman berat bukan lagi wacana.
Ini bukan sekadar kasus korupsi. Ini cermin wajah kekuasaan yang menyimpang.
Saat pejabat berubah menjadi pemeras,
saat jabatan jadi alat dagang,
dan saat rakyat hanya jadi penonton
maka yang runtuh bukan hanya satu orang,
tapi kepercayaan publik secara keseluruhan.
KPK sudah bergerak. Pertanyaannya sekarang: siapa lagi yang akan menyusul?
(AK)
#OTTKPK #KPK #Nasional #Pemerasan #Headline
