
Presiden Prabowo Subianto saat berdiskusi dengan sejumlah jurnalis, pengamat, dan pakar di Hambalang, Jawa Barat, Selasa 17 Maret 2026. (Foto: Badan Komunikasi Pemerintah RI).
AK47, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras kepada pihak-pihak yang gemar melontarkan kritik tanpa dasar. Ia menegaskan, dirinya tidak anti kritik namun menolak keras kritik yang dinilai “mengada-ada”, minim data, dan sarat kepentingan tersembunyi.
Pernyataan tegas itu disampaikan dalam forum diskusi di Hambalang, Selasa (17/3/2026), saat menjawab pertanyaan dari jurnalis senior Retno Pinasti.
“Kritik Itu Baik, Tapi Jangan Jadi Alat Provokasi”
Prabowo secara blak-blakan menyebut ada pihak yang menggunakan kritik bukan untuk membangun, melainkan untuk memancing kegaduhan.
“Semua kritik itu baik. Tapi ada yang kritik dengan niat tidak baik untuk menimbulkan kebencian, kecurigaan, bahkan kecemasan. Itu tidak baik,” tegasnya.
Pernyataan ini seolah menjadi “tamparan” bagi kelompok yang kerap melontarkan opini tanpa landasan kuat, terutama di ruang publik dan media sosial.
Menurutnya, kritik yang sehat seharusnya berbasis fakta, bukan sekadar narasi yang dibentuk untuk menggiring opini.
Kritik Tanpa Data = Menyesatkan Publik
Prabowo tak ragu menyebut kritik tanpa data sebagai sesuatu yang berbahaya. Ia mengingatkan bahwa informasi yang tidak akurat bisa merusak kepercayaan publik dan memicu keresahan.
“Kalau kritik berdasarkan kebencian, mengada-ada, dan tidak punya data, itu kurang baik. Itu filosofi saya,” ujarnya lugas.
Dalam konteks ini, Prabowo seperti ingin menarik garis tegas: kebebasan berpendapat tidak boleh dijadikan tameng untuk menyebarkan asumsi liar.
Dari Kritik ke Aksi Nyata: Kisah Anak Nias
Di tengah kritik yang berseliweran, Prabowo justru menunjukkan contoh konkret bagaimana aspirasi rakyat ditanggapi. Ia mengungkap kisah menyentuh dari Nias, di mana anak-anak harus mempertaruhkan nyawa demi sekolah karena tidak adanya jembatan.
Salah satu siswa, Yamisa, bahkan berani “memanggil” langsung nama Prabowo lewat media sosial.
Alih-alih sekadar merespons dengan janji, Prabowo mengaku langsung bertindak.
Jembatan dibangun. Akses pendidikan diperbaiki. Bahkan, Yamisa diberikan beasiswa agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Saya perintahkan, apapun yang terjadi, kasih beasiswa anak itu,” ungkapnya.
Langkah ini menjadi kontras tajam dengan kritik kosong di satu sisi ada suara tanpa data, di sisi lain ada tindakan nyata.
Filosofi Tegas: Kalau Tak Bisa Bantu, Jangan Ganggu
Menutup pernyataannya, Prabowo menyampaikan filosofi hidup yang sederhana namun “menohok”.
“Kalau tidak bisa bantu banyak orang, bantu beberapa orang. Kalau tidak bisa, bantu satu orang. Kalau satu orang pun tidak bisa, jangan bikin susah orang lain.”
Pesan ini tidak hanya ditujukan kepada pejabat atau elite, tetapi juga kepada masyarakat luas terutama mereka yang aktif bersuara di ruang publik.
Sinyal Keras di Tengah Ramainya Kritik
Pernyataan Prabowo ini dinilai sebagai sinyal keras di tengah meningkatnya arus kritik terhadap pemerintah. Ia tidak menutup telinga, tetapi juga tidak membiarkan kritik liar berkembang tanpa kendali.
Di era digital, di mana opini bisa viral dalam hitungan detik, pesan ini menjadi relevan:
kritik boleh keras, tapi harus jujur, berbasis data, dan bertanggung jawab.
Jika tidak, kritik bukan lagi alat kontrol melainkan berubah menjadi sumber kegaduhan.
(AK)
#Nasional #PrabowoSubianto #Headline