
Polisi pamer tumpukan uang di status
AK47, Gorontalo - Aksi tak pantas kembali mencoreng wajah institusi kepolisian. Seorang oknum anggota Polres Pohuwato, Gorontalo, berinisial DA, menuai hujatan luas setelah dengan percaya diri memamerkan tumpukan uang pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu di status WhatsApp pribadinya. Bukan sekadar pamer, tindakan ini dianggap sebagai simbol arogansi yang melukai rasa keadilan masyarakat.
Di saat rakyat berjuang memenuhi kebutuhan hidup, seorang aparat justru mempertontonkan gaya hidup “berlimpah” di ruang publik. Warganet pun geram bukan hanya soal pamer, tapi soal pesan yang disampaikan: seolah tak ada empati, seolah jabatan bisa jadi panggung kesombongan.
Kemarahan publik meledak. Tudingan “flexing”, krisis etika, hingga dugaan pelanggaran integritas langsung menyeruak. Banyak yang mempertanyakan: dari mana uang itu? Mengapa seorang anggota Intelkam merasa pantas memamerkannya?
Kapolres Pohuwato, AKBP Busroni, akhirnya turun tangan. Ia menegaskan bahwa perilaku semacam ini tidak bisa ditoleransi dan menjadi tamparan keras bagi institusi.
“Ini menjadi perhatian serius. Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait etika penggunaan media sosial oleh personel,” tegasnya.
Namun bagi publik, pernyataan itu belum cukup. Mereka menuntut lebih dari sekadar evaluasi mereka ingin ketegasan, transparansi, dan sanksi nyata.
DA sendiri baru angkat bicara setelah videonya viral dan menuai kecaman. Dalam klarifikasinya, ia berdalih unggahan tersebut hanya “candaan” dan uang yang dipamerkan bukan miliknya.
“Saya memohon maaf. Itu hanya bercanda, uang tersebut milik orang lain. Saya siap menerima konsekuensi,” ujarnya.
Alasan “bercanda” justru memicu gelombang kritik baru. Publik menilai dalih tersebut tidak masuk akal dan terkesan meremehkan kecerdasan masyarakat. Banyak yang menilai, ini bukan sekadar kesalahan individu.melainkan cerminan lemahnya pengawasan dan pembinaan internal.
Kasus ini membuka luka lama: krisis kepercayaan terhadap aparat penegak hukum. Di era digital, satu unggahan bisa menghancurkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Dan kali ini, bukan hanya nama pribadi yang tercoreng tetapi juga marwah institusi.
Kini pertanyaannya sederhana namun tajam: apakah Polri berani bertindak tegas dan transparan, atau kembali membiarkan kasus ini tenggelam setelah reda?
Publik tidak lagi mudah lupa. Mereka mengawasi. Dan mereka menunggu bukti, bukan sekadar janji.
(AK)
#Peristiwa #Viral #Headline #Polri