Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kemarau Mengintai Padang: Debit Air Turun, Distribusi Disiasati, Warga Diminta Siaga

Selasa, 14 April 2026 | April 14, 2026 WIB Last Updated 2026-04-14T07:58:05Z

Kasubag Humas Perumda Air Minum Kota Padang Adhie Zein 



AK47, PADANG — Ancaman krisis air bersih mulai terasa di Kota Padang. Memasuki musim kemarau tahun ini, debit air baku yang menjadi sumber utama pengolahan air dilaporkan menyusut hingga 30 persen. Kondisi ini bukan sekadar angka—tetapi sinyal awal bahwa stabilitas layanan air bersih sedang diuji.


Kasubag Humas Perumda Air Minum Kota Padang, Adhie Zein, mengungkapkan bahwa penurunan debit terjadi di sejumlah sumber air utama yang selama ini menopang kebutuhan masyarakat.


“Penurunan ini berdampak langsung. Produksi air ikut turun sekitar 20 hingga 30 persen, dan otomatis mempengaruhi distribusi ke pelanggan,” ujarnya, kepada Aksara47.com, Selasa (14/4/2026).


Pegambiran Jadi Titik Rawan


Dari pemetaan yang dilakukan, kawasan Pegambiran disebut sebagai wilayah paling rentan terdampak. Ketergantungan pada intake Gambir menjadikan daerah ini cepat mengalami gangguan saat debit air menurun drastis.


“Jika kemarau makin panjang, Pegambiran akan menjadi daerah pertama yang merasakan dampak serius,” kata Adhie.


Tak hanya itu, hampir seluruh wilayah Kota Padang berpotensi terdampak. Pasalnya, sumber air baku Perumda masih bertumpu pada aliran sungai yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.


Air Tak Lagi Mengalir 24 Jam


Jika biasanya air mengalir tanpa henti, kini masyarakat harus mulai beradaptasi. Distribusi air di beberapa wilayah dilakukan secara bergiliran ada yang hanya mengalir siang hari, sebagian lainnya malam hari.


Langkah ini diambil bukan tanpa alasan.


“Ini strategi agar semua pelanggan tetap kebagian air. Memang tidak senormal biasanya, tapi kebutuhan dasar tetap kami upayakan terpenuhi,” jelas Adhie.


Dampak lain yang mulai dirasakan adalah penurunan tekanan air bahkan di beberapa titik, air bisa mengecil hingga tidak mengalir sama sekali pada waktu tertentu.


Strategi Bertahan di Tengah Kemarau


Menghadapi situasi ini, Perumda tidak tinggal diam. Sejumlah langkah cepat dan taktis telah dilakukan, antara lain:


  • Membersihkan intake agar aliran air baku tetap optimal
  • Menutup kebocoran jaringan pipa secepat mungkin
  • Memetakan wilayah rawan terdampak
  • Mengatur distribusi air secara merata dan terkontrol


Tak hanya itu, bantuan air bersih melalui mobil tangki juga disiapkan gratis bagi warga terdampak baik pelanggan maupun non-pelanggan.


Kualitas Air Tetap Jadi Prioritas


Meski volume air menurun, kualitas tidak boleh dikompromikan. Pemeriksaan ketat terus dilakukan melalui laboratorium terakreditasi milik Perumda.


Di sisi lain, masyarakat diajak ikut berperan:

  • Menghemat penggunaan air
  • Menampung air hujan sebagai cadangan
  • Menjaga kebersihan sungai dari limbah dan sampah
  • Menanam pohon di sekitar sumber air


Ancaman Lebih Besar: Penurunan Bisa Capai 50%


Adhie mengingatkan, jika kemarau berubah menjadi ekstrem, penurunan debit air baku bisa mencapai 50 persen. Artinya, tekanan terhadap produksi dan distribusi akan semakin berat.


“Dalam kondisi seperti itu, gangguan operasional tidak bisa dihindari. Produksi tidak akan maksimal,” tegasnya.


Imbauan Tegas: Air Bukan Tak Terbatas


Perumda mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air:

  • Gunakan air seperlunya
  • Matikan kran setelah dipakai
  • Siapkan cadangan air di rumah
  • Pastikan tidak ada kebocoran instalasi


“Air itu terbatas, apalagi saat kemarau. Kesadaran bersama sangat menentukan,” ujar Adhie.


Solusi Jangka Panjang Mulai Disiapkan


Sebagai langkah antisipasi ke depan, Perumda tengah menyiapkan penguatan infrastruktur, termasuk pembangunan IPA Taban 3 yang akan memanfaatkan sumber air dari Palukahan.


Proyek ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang tidak hanya untuk mengatasi krisis saat kemarau, tetapi juga memperluas jangkauan layanan air bersih di Kota Padang.


Kemarau mungkin tak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa diperkecil. Kuncinya ada pada kesiapan, strategi, dan kesadaran bersama. Di tengah ancaman krisis, setiap tetes air kini menjadi sangat berarti.


(AK)


#PerumdaAirMinum #Daerah #Padang #Kemarau

×
Berita Terbaru Update