
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis
AK47, JAKARTA — Sejumlah tokoh organisasi keagamaan di Indonesia mulai mempertanyakan efektivitas keberadaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), sebuah forum yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump. Mereka menilai forum tersebut belum menunjukkan kontribusi nyata dalam menciptakan perdamaian global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammad Cholil Nafis, usai menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3).
Menurut Cholil, Indonesia perlu bersikap realistis terhadap efektivitas organisasi internasional yang diikutinya. Jika keberadaan dalam forum tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap upaya perdamaian dunia, maka pemerintah sebaiknya mempertimbangkan kembali keanggotaannya.
“Kalau kita melihat BoP itu tidak efektif, sebaiknya Indonesia mempertimbangkan untuk keluar saja. Yang penting bagaimana Indonesia bisa tetap berperan dalam menciptakan perdamaian dengan tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara,” ujar Cholil kepada wartawan.
Perang Timur Tengah Jadi Sorotan
Cholil menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi bukti bahwa berbagai forum internasional belum mampu memberikan solusi konkret. Ia menekankan bahwa perang yang terus berlangsung hanya akan membawa kerugian besar bagi semua pihak.
Karena itu, ia berharap upaya menciptakan perdamaian global lebih dimaksimalkan melalui mekanisme internasional yang sudah mapan seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Kita berharap peran PBB lebih dimaksimalkan untuk menciptakan perdamaian. Kalau perang terus berlanjut, tentu semua pihak akan dirugikan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung dinamika konflik yang melibatkan beberapa negara besar di kawasan tersebut, termasuk Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Menurutnya, konflik tersebut berpotensi semakin kompleks jika tidak segera dihentikan melalui jalur diplomasi internasional.
“Situasinya sekarang cukup rumit. Iran kemungkinan tidak akan berhenti sebelum ada balasan, sementara Amerika dan Israel juga akan melakukan perlawanan. Ini yang membuat perdamaian semakin sulit tercapai,” tambahnya.
Majelis Rasulullah Sampaikan Pandangan Serupa
Pendapat serupa juga disampaikan Ketua Dewan Pembina Majelis Rasulullah Pusat, Nabiel Al Musawa. Ia mengatakan pihaknya juga ingin memberikan masukan kepada Presiden Prabowo terkait perkembangan situasi global, termasuk keberadaan Indonesia dalam BoP.
Menurut Nabiel, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manfaat forum tersebut bagi Indonesia dan upaya perdamaian dunia.
“Presiden ingin mendengar berbagai masukan terkait perkembangan global, termasuk BoP dan situasi yang melibatkan Iran dengan Amerika. Banyak hal yang perlu dibahas,” katanya.
Ia menilai keberadaan BoP sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas global. Karena itu, pemerintah disarankan meninjau kembali partisipasi Indonesia di dalam forum tersebut.
“Kalau menurut kami keberadaan BoP ini kurang efektif. Jadi sebaiknya ditinjau ulang. Kalau memang tidak memberikan manfaat nyata, mungkin lebih baik Indonesia mengundurkan diri,” tegas Nabiel.
Menunggu Sikap Pemerintah
Meski demikian, baik MUI maupun Majelis Rasulullah menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah. Mereka berharap pandangan yang disampaikan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Presiden Prabowo dalam menentukan langkah diplomasi Indonesia ke depan.
Masukan dari berbagai tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan dinilai penting, terutama dalam menentukan posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Di sisi lain, pemerintah diharapkan tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi prinsip utama diplomasi Indonesia, yakni berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia tanpa terikat pada kepentingan blok tertentu.
(AK)
#BoardofPeace #Nasional #MUI