Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Majelis Ulama Indonesia Tegas: Beda Awal Ramadan Itu Sunnatullah, Jangan Dipolitisasi dan Jangan Diadu Domba!

Senin, 16 Februari 2026 | Februari 16, 2026 WIB Last Updated 2026-02-16T10:40:43Z

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), M Cholil Nafis



AK47, Jakarta – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), M Cholil Nafis, melontarkan peringatan keras kepada umat Islam agar tidak menjadikan potensi perbedaan awal Ramadan 1447 Hijriah sebagai sumber konflik. Ia menegaskan, perbedaan ini murni wilayah ijtihad ulama, bukan persoalan akidah apalagi alasan untuk saling menyalahkan.

 

“Ini masalah khilafiyah fikr, perbedaan pemikiran. Jangan dibawa ke ranah perpecahan. Jangan dipanas-panasi. Ramadan itu bulan pemersatu, bukan bulan saling serang,” tegas Cholil, Senin (16/2/2026).


Dua Tanggal, Satu Tujuan: Ibadah


Cholil mengungkapkan, awal Ramadan 1447 H berpotensi jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, atau Kamis, 19 Februari 2026. Sebagian umat menilai hilal sudah memenuhi syarat pada 18 Februari, sementara yang lain berpendapat posisi hilal masih di bawah kriteria yang disepakati secara regional.


Secara astronomis, posisi hilal diperkirakan masih berada di bawah 3 derajat pada 18 Februari. Padahal, kriteria Mabims kesepakatan ulama Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam) menetapkan hilal baru dapat dirukyat jika berada di atas 3 derajat.


“Kalau ada yang mulai tanggal 18, silakan. Kalau ada yang tanggal 19, itu juga punya dasar. Jangan ada yang merasa paling benar sendiri,” ujarnya lugas.


Jangan Jadikan Ramadan Arena Adu Ego


Cholil menyoroti kecenderungan sebagian pihak yang setiap tahun justru memperkeruh suasana jelang Ramadan dengan perdebatan keras, bahkan saling menyesatkan. Menurutnya, sikap semacam itu bertolak belakang dengan spirit Ramadan.


“Puasa itu menahan diri. Kalau baru penentuan awal saja sudah saling serang, di mana ruh puasanya?” sindirnya.


Ia mengingatkan bahwa perbedaan metode hisab dan rukyat sudah ada sejak lama dan diakui dalam tradisi keilmuan Islam. Karena itu, memaksakan satu pandangan sambil merendahkan yang lain adalah bentuk ketidakdewasaan beragama.


Ukhuwah Islamiyah Harga Mati


Lebih jauh, Cholil menekankan bahwa ukhuwah Islamiyah adalah harga mati. Ia meminta umat tidak terpancing provokasi, terutama di media sosial, yang kerap membingkai perbedaan awal Ramadan sebagai konflik besar.


“Jangan sampai gara-gara beda sehari, persaudaraan rusak. Kita ini satu umat, satu kiblat, satu Al-Qur’an,” katanya.


Menurutnya, yang terpenting bukanlah tanggal semata, melainkan kualitas ibadah dan keikhlasan dalam menjalani Ramadan.


Pesan Keras MUI: Dewasa atau Terpecah


Menutup pernyataannya, Cholil menegaskan bahwa potensi perbedaan awal Ramadan seharusnya menjadi cermin kedewasaan umat Islam Indonesia.


“Kalau kita matang dalam beragama, perbedaan ini tidak akan ribut. Tapi kalau ego yang dikedepankan, Ramadan bisa berubah jadi sumber konflik. Pilihannya jelas,” pungkasnya.


Dengan nada tegas, MUI mengajak umat Islam untuk fokus pada esensi Ramadan: memperkuat iman, memperbanyak amal, dan menjaga persatuan apa pun tanggal awal puasanya.


(AK)


#MajelisUlamaIndonesia #Nasional #Ramadan

×
Berita Terbaru Update