![]() |
| Para siswa berdoa sebelum menyantap makanan yang dipasok oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sebuah sekolah dasar, Banda Aceh pada Kamis 30 Oktober 2025 (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP) |
AK47, KUDUS – Isu liar yang mengaitkan meninggalnya siswi SMAN 2 Kudus, Rizza Meiliana Azzahara, dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya dibantah secara keras dan terbuka oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari. Informasi tersebut dipastikan tidak hanya salah, tetapi menyesatkan dan berbau fitnah.
Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, menyebut narasi yang beredar di media sosial sebagai hoaks keji yang memelintir fakta dan mengeksploitasi kematian seorang pelajar demi kepentingan tertentu.
“Kami tegaskan sekali lagi, kabar yang menyebut almarhumah meninggal akibat Program MBG adalah bohong. Itu hoaks. Fakta di lapangan sama sekali tidak seperti yang dituduhkan,” tegas Nasihul, Senin (2/2).
Fakta Medis yang Sengaja Disembunyikan
Nasihul membeberkan fakta penting yang sengaja diabaikan dalam narasi hoaks tersebut. Rizza telah lama mengidap kanker nasofaring stadium berat sejak duduk di bangku kelas 8 SMP, jauh sebelum MBG dijalankan.
Selama bertahun-tahun, almarhumah harus menjalani kemoterapi intensif di RSUP Dr. Kariadi Semarang, sebuah kondisi medis serius yang membuatnya tidak memungkinkan mengikuti aktivitas sekolah secara normal.
“Penyakit ini bukan baru. Sudah sejak SMP. Selama menjadi siswi SMAN 2 Kudus, kehadiran almarhumah sangat terbatas karena fokus pengobatan kanker,” ungkapnya.
Terbongkar: Almarhumah Bukan Penerima MBG
Lebih mencengangkan, SPPG memastikan bahwa Rizza sama sekali tidak pernah menerima paket MBG, sehingga tuduhan yang beredar gugur dengan sendirinya.
Sejak Januari 2025, almarhumah tercatat tidak pernah hadir ke sekolah, sehingga secara administrasi dan faktual tidak terdaftar sebagai penerima Program Makan Bergizi Gratis.
“Bagaimana mungkin dikaitkan dengan MBG, sementara yang bersangkutan tidak berangkat sekolah dan tidak menerima paket makanan apa pun,” tegas Nasihul.
Hoaks Dinilai Berbahaya dan Tidak Berperikemanusiaan
SPPG menilai penyebaran informasi palsu ini tidak sekadar menyesatkan publik, tetapi juga tidak berperikemanusiaan, karena menyeret nama seorang pelajar yang wafat dan keluarga yang sedang berduka ke dalam pusaran disinformasi.
Narasi palsu ini dinilai berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap program pemenuhan gizi yang bertujuan meningkatkan kesehatan anak-anak Indonesia.
“Kami sangat menyayangkan adanya pihak-pihak yang tega memanfaatkan kondisi ini untuk membangun opini negatif. Ini bukan kritik sehat, tapi manipulasi fakta,” kata Nasihul.
Seruan Tegas: Hentikan Penyebaran Fitnah
SPPG Purwosari menyerukan kepada masyarakat untuk menghentikan penyebaran hoaks, tidak menjadi corong informasi palsu, dan selalu mengedepankan verifikasi sebelum membagikan kabar, terutama yang menyangkut nyawa dan kesehatan anak.
Dengan klarifikasi tegas ini, SPPG menegaskan bahwa Program MBG tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan meninggalnya Rizza Meiliana Azzahara, dan publik diminta tidak lagi terprovokasi oleh informasi yang tidak bertanggung jawab.
(AK)
#Peristiwa #Kudus #Daerah #KeracunanMBG #MakanBergiziGratis
