![]() |
| Dua personel TNI AU terlihat melakukan pencarian keberadaan pesawat ATR 42-500 yang sempat hilang kontak. (Dok. Dispen TNI AU) |
AK47, Maros, Sulawesi Selatan — TNI Angkatan Udara menunjukkan respons cepat dan tegas dalam penanganan insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan pegunungan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros. Medan ekstrem yang sulit dijangkau tidak menyurutkan upaya pencarian dan evakuasi. Dengan mengerahkan helikopter H225M Caracal dan pasukan elite Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat), TNI AU menurunkan personel langsung ke titik lokasi kejadian.
Sebanyak lima prajurit Korpasgat bersama satu personel Basarnas diterjunkan melalui jalur udara menggunakan helikopter Caracal milik Skadron Udara 8. Langkah ini diambil setelah lokasi jatuh pesawat berhasil diidentifikasi secara pasti.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana, menegaskan bahwa pengerahan pasukan elite menjadi kebutuhan mutlak mengingat karakteristik medan Bulusaraung yang dikenal terjal, curam, dan diselimuti vegetasi lebat.
“Menindaklanjuti temuan lokasi jatuh pesawat, TNI AU segera menurunkan lima prajurit Korpasgat dan satu personel Basarnas menggunakan helikopter H225M Caracal ke lokasi,” ujar Nyoman dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Medan Berbahaya, Pasukan Khusus Dikerahkan
Gunung Bulusaraung merupakan bagian dari kawasan pegunungan karst dengan kontur ekstrem yang menyulitkan akses darat maupun udara. Kondisi tersebut menuntut kehadiran personel dengan kemampuan khusus, baik dalam operasi lintas udara, survival, maupun evakuasi di medan ekstrem.
Menurut Nyoman, prajurit Korpasgat yang diterjunkan telah dibekali keahlian operasi khusus di wilayah pegunungan. Setibanya di lokasi, mereka langsung melakukan pengamanan area, asesmen awal kondisi puing pesawat, serta menyiapkan skema evakuasi lanjutan.
Unsur Darat Bergerak Serentak
Tak hanya mengandalkan jalur udara, TNI AU juga mengerahkan pasukan gabungan melalui jalur darat. Unsur tersebut melibatkan prajurit dari:
- Lanud Sultan Hasanuddin
- Yon Parako 473 Korpasgat
- Yon Arhanud 23 Korpasgat
Tim darat ini bergerak secara simultan untuk memperkuat operasi pencarian dan evakuasi, sekaligus bergabung dengan unsur SAR gabungan dan masyarakat setempat yang mengenal medan secara langsung.
“Tim darat tersebut bergabung dengan unsur SAR lainnya serta masyarakat setempat untuk memperkuat upaya pencarian dan evakuasi,” jelas Nyoman.
Sinergi Antarinstansi Jadi Kunci
TNI AU menilai keberhasilan operasi di medan Bulusaraung sangat bergantung pada sinergi lintas instansi dan dukungan masyarakat lokal. Koordinasi intensif dilakukan guna memastikan seluruh langkah berjalan cepat, terukur, dan tetap mengedepankan keselamatan personel.
Nyoman menegaskan komitmen penuh TNI AU dalam mendukung otoritas terkait, baik dalam proses evakuasi maupun penanganan lanjutan insiden.
“Seluruh langkah yang dilakukan tetap mengutamakan keselamatan personel di lapangan,” tegasnya.
Kronologi Hilangnya Pesawat
Sebelumnya, Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso mengonfirmasi bahwa pada Sabtu (17/1/2026), pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang membawa 11 orang dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros. Sejak laporan diterima, operasi pencarian dilakukan secara intensif hingga akhirnya titik jatuh pesawat berhasil diketahui.
Hingga saat ini, proses evakuasi masih berlangsung, dan perkembangan terbaru akan disampaikan secara resmi oleh instansi terkait sesuai hasil temuan di lapangan.
(AK)
#TNI #Peristiwa #PesawatHilangKontak
