-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Prabowo Ubah Standar Rekrutmen TNI-Polri: Tak Harus Sempurna Fisik, Boleh Pakai Kacamata Asal Pintar

Rabu, 07 Oktober 2026 | Oktober 07, 2026 WIB Last Updated 2026-10-07T16:55:11Z

Prabowo Ubah Standar Rekrutmen TNI-Polri: Tak Harus Sempurna Fisik, Boleh Pakai Kacamata Asal Pintar



AK47, Jakarta  -  Presiden Prabowo Subianto menginginkan standar rekrutmen TNI dan Polri tidak lagi semata-mata bertumpu pada kemampuan fisik. Di tengah perubahan bentuk ancaman dan semakin dominannya teknologi dalam peperangan modern, kecerdasan serta kemampuan intelektual calon prajurit dan anggota kepolisian dinilai harus mendapat perhatian lebih besar.


Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan taklimat kepada sekitar 800 perwira tinggi TNI dan Polri di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (7/10/2026).


Menteri Politik dan Keamanan Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman mengungkapkan, Presiden menaruh perhatian khusus terhadap sistem rekrutmen personel TNI dan Polri.


Menurut Dudung, Prabowo ingin proses seleksi ke depan mampu menjaring sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan fisik, tetapi juga kecerdasan dan kapasitas intelektual yang mumpuni.


Bahkan, Prabowo memberikan contoh yang cukup menarik. Persoalan penggunaan kacamata, kata Dudung, tidak seharusnya menjadi penghalang seseorang untuk menjadi prajurit TNI atau anggota Polri apabila memiliki kemampuan intelektual yang baik.

 

"Kemudian harus menyiapkan juga secara profesional baik sistem rekrutmen ke depan itu adalah tidak serta melihat tentang fisik, tetapi adalah intelektual. Jadi kalau misalnya masuk tentara, polisi pakai kacamata juga boleh, tapi dia pintar," kata Dudung usai mengikuti taklimat Presiden.


Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan perubahan cara pandang terhadap kebutuhan personel pertahanan dan keamanan Indonesia.


Di era ketika medan perang tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan otot, tetapi juga oleh kecerdasan, teknologi, informasi, dan kecepatan mengambil keputusan, kualitas intelektual menjadi semakin penting.


Perang Tak Lagi Sekadar Adu Kekuatan Fisik


Dudung mengatakan perubahan tersebut tidak terlepas dari perkembangan ancaman yang dihadapi Indonesia.


Perang masa depan, menurut dia, akan semakin kompleks. Ancaman tidak hanya datang dalam bentuk konflik konvensional, tetapi juga perang hibrida dan penggunaan teknologi seperti drone.


"Karena tantangan ke depan ini kan perang itu kan perang hybrid, perang pakai drone dan sebagainya. Sehingga itu yang menjadi konsentrasi Bapak Presiden," ujar Dudung.


Perubahan karakter perang tersebut membuat kebutuhan terhadap prajurit juga ikut berubah.


Seorang personel tidak cukup hanya memiliki kemampuan fisik untuk menjalankan tugas di lapangan. Mereka juga dituntut memahami teknologi, mampu menganalisis situasi, membaca ancaman, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat.


Karena itu, pendidikan dan latihan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan profesionalisme prajurit.


Dudung mengatakan situasi global yang terus berubah harus direspons dengan peningkatan kualitas pendidikan dan latihan di tubuh TNI.


"Kemudian juga tentang situasi global saat ini juga perlu disikapi dengan meningkatkan bagaimana profesionalisme prajurit harus meningkatkan baik pendidikan maupun latihan. Jadi itu yang menjadi sentral menurut saya," katanya.


Pesan Prabowo: Prajurit Masa Depan Harus Cerdas


Arahan tersebut membawa konsekuensi terhadap pola pembentukan sumber daya manusia TNI dan Polri.


Jika sebelumnya kemampuan fisik menjadi salah satu tolok ukur penting dalam proses seleksi, ke depan aspek intelektual diharapkan memperoleh ruang yang lebih besar.


Bukan berarti kemampuan fisik ditinggalkan. Namun, kebutuhan organisasi harus disesuaikan dengan perkembangan ancaman.


Dalam perang modern, misalnya, kemampuan mengoperasikan dan memahami teknologi dapat menjadi sama pentingnya dengan kemampuan fisik. Begitu pula dalam menghadapi ancaman siber, perang informasi, maupun operasi berbasis teknologi.


Karena itu, ungkapan Prabowo soal "pakai kacamata juga boleh, tapi dia pintar" menjadi penanda kuat mengenai arah perubahan tersebut.


Pesannya sederhana: jangan sampai calon personel yang memiliki kemampuan intelektual tinggi tersingkir hanya karena persoalan fisik yang tidak berkaitan langsung dengan kemampuan menjalankan tugas tertentu.


TNI-Polri Dapat Apresiasi


Dalam pertemuan tersebut, Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada TNI dan Polri yang selama ini ikut mendukung program pemerintah.


Dudung mengatakan Presiden mengapresiasi kontribusi kedua institusi tersebut, mulai dari mendukung program ketahanan pangan dan ketahanan energi hingga menjaga situasi keamanan nasional.


"Presiden mengucapkan terima kasih atas sumbangsih TNI dan Polisi yang selama ini mendukung program pemerintah baik ketahanan pangan, ketahanan energi, termasuk menjaga situasi keamanan saat ini. Beliau mengapresiasi," jelas Dudung.


Apresiasi tersebut disampaikan bersamaan dengan pesan agar profesionalisme dan kesiapan TNI-Polri terus diperkuat.


Kumpulkan 800 Pati, Prabowo Bicara Masa Depan Indonesia


Sebelumnya, Prabowo mengundang sekitar 800 perwira tinggi TNI dan Polri dari seluruh Indonesia ke Istana Kepresidenan Jakarta.


Dalam pembukaan taklimat, Prabowo mengatakan pertemuan tersebut sengaja digelar untuk memberikan gambaran mengenai situasi yang dihadapi Indonesia serta perkembangan bangsa dan negara.


"Sengaja saya mengundang para perwira tinggi menjelang pemerintahan yang saya pimpin dua tahun. Saya ingin memberi suatu gambaran keadaan yang kita hadapi sebagai bangsa dan sebagai negara," kata Prabowo.


Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan laporan kegiatan.


Agus mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menyamakan visi sekaligus memperkuat soliditas dan sinergi jajaran TNI.


Di tengah dinamika lingkungan strategis yang semakin kompleks, ia menyebut ancaman siber, informasi, dan hibrida menjadi tantangan yang harus diantisipasi.


"Di tengah dinamika lingkungan strategis dan tantangan yang makin kompleks termasuk ancaman siber, informasi, dan hibrida, arahan Bapak Presiden akan menjadi pedoman penting dalam menentukan langkah dan kebijakan, serta memperkuat kesiapan TNI sebagai alat negara di bidang pertahanan," ujar Agus.


Sementara itu, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyebut taklimat tersebut menjadi momentum bagi Polri untuk menerima arahan dan kebijakan langsung dari Presiden.


Suyudi menegaskan Polri siap mendukung kebijakan dan program prioritas pemerintah sesuai tugas, fungsi, dan kewenangannya.


"Polri siap terus mendukung kebijakan dan program prioritas pemerintah sesuai tugas fungsi dan kewenangan Polri dari atas sampai bawah dimanapun berada," tutur Suyudi.


Dukungan tersebut, kata dia, terutama dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.


Babak Baru Rekrutmen Aparat


Arahan Prabowo soal rekrutmen TNI-Polri menjadi salah satu pesan penting dari pertemuan tersebut.


Di tengah ancaman yang semakin sulit diprediksi dan teknologi yang berkembang cepat, Indonesia membutuhkan personel yang mampu beradaptasi dengan perubahan.


Bukan sekadar kuat secara fisik, tetapi juga tajam berpikir. Bukan hanya siap berlari di medan tugas, tetapi juga siap menghadapi perang yang berlangsung di ruang digital, informasi, dan teknologi.


Dan dari Istana, Prabowo memberikan sinyal bahwa standar tersebut perlu mulai dibangun sejak pintu pertama: proses rekrutmen.


(AK)


#Headline #Polri #TNI #Nasional

×
Berita Terbaru Update