-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Teror Berdarah di Jila: Ibu Ditembak, Anak Dilempar ke Jurang, 9 Perempuan Diduga Disandera KKB

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T15:00:53Z

Teror Berdarah di Jila: Ibu Ditembak, Anak Dilempar ke Jurang, 9 Perempuan Diduga Disandera KKB



AK47, Mimika — Teror kelompok bersenjata kembali mengguncang Papua Tengah. Kali ini, warga sipil menjadi sasaran. Sebanyak sembilan perempuan diduga dibawa paksa ke tengah hutan oleh kelompok yang diduga merupakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Pasir Putih, Distrik Jila, Kabupaten Mimika.


Kejadian yang berlangsung pada Selasa (18/8/2026) itu meninggalkan jejak kekerasan. Seorang perempuan berinisial NM (48) dilaporkan tewas ditembak setelah menolak dibawa kelompok bersenjata.


Tragedi semakin memilukan ketika anak NM, Inkolung Aim, diduga dibuang ke jurang. Akibatnya, Inkolung mengalami patah kaki.


Sementara itu, sembilan perempuan lainnya diduga dibawa paksa menuju kawasan hutan. Mereka kini belum diketahui secara pasti keberadaan dan kondisinya.


Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak mengungkapkan, berdasarkan informasi awal, kelompok bersenjata tersebut menyasar 11 warga.


Dua orang menolak ikut. Penolakan itu kemudian berujung petaka.

 

“Dua orang menolak ikut dibawa KKB. Informasinya, ibunya tewas ditembak, sedangkan anaknya dibuang ke jurang. Sementara, sembilan perempuan lainnya dibawa ke hutan,” kata Alredo, Kamis (20/8/2026).


Korban Termuda Baru 13 Tahun


Yang membuat kasus ini semakin mengkhawatirkan adalah usia para korban.


Sembilan perempuan yang diduga dibawa ke hutan masing-masing berinisial NW (17), AM, NA, OM, YS (18), MN (15), WK (18), IO (18), dan MN (13).


Polisi menerima informasi bahwa NW, yang masih berusia 17 tahun, sedang hamil muda.


Bahkan, tiga korban lainnya dilaporkan masih duduk di bangku sekolah dasar.


Dengan demikian, dugaan aksi tersebut tidak hanya menyasar warga sipil, tetapi juga menyeret anak-anak ke dalam situasi yang sangat berbahaya.


Hingga Kamis (20/8/2026), aparat masih berupaya memastikan keberadaan sembilan perempuan tersebut sekaligus mengungkap siapa kelompok yang bertanggung jawab.


Jila Terisolasi, Aparat Harus Dikirim dengan Helikopter


Mengejar pelaku dan mencari para korban bukan perkara mudah.


Distrik Jila merupakan wilayah dengan kondisi geografis yang sulit. Akses menuju kawasan tersebut sangat terbatas dan personel keamanan harus dikerahkan menggunakan jalur udara.


Kepolisian telah meminta dukungan Batalyon Brimob untuk memperkuat jajaran Polsek di wilayah tersebut.


“Kami telah meminta bantuan dari Batalyon Brimob untuk membackup jajaran Polsek di sana,” kata Alredo.


Sebanyak 20 personel gabungan disiapkan untuk melakukan investigasi dan olah TKP.


Komposisinya terdiri dari tujuh personel penegakan hukum Operasi Damai Cartenz (ODC), tiga anggota Polres Mimika, dan 10 personel Brimob.


“Kami dari kepolisian sudah menerjunkan anggota Brimob dan enam anggota dari Gakkum melakukan investigasi dan olah TKP. Besok tambah empat. Besok 20 personel sudah di sana,” ujar Alredo.


Helikopter menjadi pilihan utama untuk mengangkut personel menuju Jila.


Kondisi ini menunjukkan bahwa aparat tidak hanya berhadapan dengan ancaman kelompok bersenjata, tetapi juga medan yang menyulitkan proses pencarian dan penyelamatan warga.


Sehari Sebelumnya, Darah Prajurit Tumpah


Peristiwa dugaan penyanderaan tersebut terjadi hanya berselang satu hari setelah penyerangan terhadap Pos Satgas Pam Obvit Yonif 133/YS milik PT Freeport Indonesia.


Penyerangan terjadi pada Senin (17/8/2026).


Dalam serangan tersebut, seorang anggota TNI gugur, sementara dua anggota lainnya mengalami luka akibat tembakan.


Rangkaian kejadian ini kini menjadi perhatian serius aparat keamanan.


Apakah kelompok yang menyerang pos TNI merupakan kelompok yang sama dengan yang membawa sembilan perempuan ke hutan?


Pertanyaan tersebut belum terjawab.


Polisi masih melakukan profiling dan belum memastikan adanya hubungan antara kedua kejadian tersebut.


“Belum kita pastikan (kelompok yang sama), kita masih profiling. Baru hari ini kirim pakai heli,” kata Alredo.


Aparat Berpacu dengan Waktu


Di tengah penyelidikan, satu hal menjadi prioritas: keselamatan sembilan warga yang diduga berada di tangan kelompok bersenjata.


Waktu menjadi faktor penting. Para korban disebut dibawa menuju kawasan hutan, sementara kondisi geografis Jila menyulitkan aparat untuk bergerak cepat.


Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian korban masih berusia anak-anak dan terdapat informasi mengenai seorang korban yang sedang hamil muda.


Aparat kini harus bekerja dalam dua front sekaligus: mengungkap pelaku dan memastikan para korban dapat ditemukan dengan selamat.


Kasus ini juga kembali menempatkan warga sipil sebagai pihak yang paling rentan ketika konflik bersenjata terjadi. Rumah, kampung, dan ruang kehidupan masyarakat berubah menjadi wilayah yang dibayangi ancaman.


Seorang ibu telah kehilangan nyawa. Anaknya mengalami cedera serius. Sembilan perempuan lainnya belum diketahui secara pasti nasibnya.


Sementara itu, satu prajurit TNI telah gugur dalam penyerangan sehari sebelumnya.


Jila kini menjadi titik perhatian aparat keamanan.


Polisi dan personel gabungan masih bergerak untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, siapa kelompok yang berada di balik aksi tersebut, ke mana sembilan warga dibawa, dan yang paling penting apakah mereka masih dalam keadaan selamat.


Untuk sementara, seluruh jawaban itu masih berada di balik rapatnya hutan Jila.


Aparat kini berpacu dengan waktu sebelum teror tersebut kembali menelan korban.


(AK)


#Headline #Peristiwa #KKB

×
Berita Terbaru Update