
Ilustrasi warga terlihat membeli gas LPG 12 Kg.(gemini ai)
AK47, Jakarta - Kabar kurang sedap kembali datang dari sektor energi. Di tengah tekanan harga global yang kian memanas, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG nonsubsidi 12 kg menjadi Rp 228 ribu per tabung melonjak Rp 36 ribu atau sekitar 18,75 persen dari harga sebelumnya.
Kebijakan yang mulai berlaku sejak 18 April 2026 ini langsung berdampak di berbagai wilayah strategis seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat. Daerah lain menyusul dengan penyesuaian ongkos distribusi.
Tak berhenti di situ, LPG 5,5 kg juga ikut terdongkrak dari Rp 90 ribu menjadi Rp 107 ribu per tabung. Kenaikan serentak ini menandai berakhirnya “masa tenang” harga LPG yang bertahan sejak penyesuaian terakhir pada November 2023.
Subsidi Aman, Tapi Tekanan Nyata
Pemerintah memastikan LPG 3 kg bersubsidi tetap aman di harga lama. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, subsidi energi akan tetap difokuskan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Sementara kelompok mampu diminta beradaptasi dengan harga pasar.
Namun di lapangan, realitasnya tidak sesederhana itu.
Gejolak Timur Tengah, Harga Dalam Negeri Ikut Bergejolak
Lonjakan harga ini tak lepas dari memanasnya situasi global. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengguncang rantai pasok energi dunia.
Jalur vital seperti Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20 persen minyak global ikut terdampak. Ketika pasokan terganggu, harga pun terdorong naik dan Indonesia ikut merasakan imbasnya melalui kenaikan ICP (harga minyak mentah Indonesia).
Efek Domino: Dari Dapur ke Industri
Kenaikan LPG bukan sekadar soal dapur rumah tangga. Dampaknya menjalar cepat ke sektor industri.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengingatkan adanya potensi “efek domino” yang serius. Selisih harga antara energi subsidi dan nonsubsidi yang makin lebar bisa memicu penyimpangan distribusi.
Lebih jauh, biaya produksi yang meningkat berisiko mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi bahkan hingga pengurangan tenaga kerja.
“Jika tidak diantisipasi, tekanan ini bisa berujung pada perlambatan ekonomi sektor riil,” menjadi kekhawatiran utama para ekonom.
Perubahan Arah Konsumsi: Masyarakat Mulai Melirik Alternatif
Di tengah kenaikan ini, sebagian masyarakat mulai mencari jalan keluar. Kendaraan listrik (EV) misalnya, mulai dilirik sebagai opsi hemat jangka panjang.
Namun, adopsinya masih belum masif. Harga kendaraan yang tinggi, keterbatasan infrastruktur, serta berkurangnya insentif di 2026 menjadi penghambat utama.
Sinyal Bahwa Energi Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Pertamina menyebut keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi global dan daya beli masyarakat. Namun satu hal yang jelas kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor energi sedang berada dalam tekanan besar.
Kini, masyarakat dan pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit: beradaptasi, berhemat, atau mulai beralih ke energi alternatif.
Satu yang pasti, lonjakan LPG kali ini bukan sekadar angka melainkan alarm keras bahwa dinamika energi global kini semakin dekat terasa di dapur setiap rumah tangga Indonesia.
(AK)
#Pertamina #GasElpiji #Nasional #Headline