
Dari Krayon ke Hati: Kisah Hangat Parenting Mewarnai di TKN Pembina Pulau Punjung
AK47, Dharmasraya - Suasana pagi itu di halaman TKN Pembina Pulau Punjung terasa berbeda. Bukan hanya karena deretan meja kecil yang dipenuhi kertas gambar, tetapi juga karena kehadiran ratusan pasang mata anak dan orang tua yang duduk berdampingan, berbagi ruang, warna, dan kebersamaan.
Di bawah langit cerah Kamis (16/4/2026), sebanyak 226 anak usia taman kanak-kanak dari berbagai lembaga se-Kecamatan Pulau Punjung berkumpul dalam satu kegiatan sederhana namun sarat makna: parenting lomba mewarnai yang digagas oleh IGTKI PGRI Kecamatan Pulau Punjung.
Krayon-krayon kecil berpindah tangan. Warna merah, biru, hijau, dan kuning mulai memenuhi lembar-lembar gambar. Sesekali terdengar tawa, bisikan lembut orang tua memberi arahan, atau sorot mata bangga yang tak bisa disembunyikan.
Di salah satu sudut, Rania Adeva Afra tampak tenggelam dalam dunianya. Dengan penuh konsentrasi, ia menggoreskan warna demi warna, sesekali menoleh ke orang tuanya yang duduk di samping, memberi senyum dan dukungan. Tak ada tekanan. Yang ada hanya kebersamaan yang mengalir alami.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar lomba mewarnai. Namun bagi para orang tua yang hadir, kegiatan ini adalah ruang belajar yang hidup.
“Parenting mewarnai ini sangat bagus. Anak-anak dilatih menggerakkan tangan, belajar fokus, dan juga kerja sama. Yang paling penting, mereka belajar sabar dan tekun,” tutur Husnul Afra, salah satu orang tua, sambil memperhatikan anaknya yang tengah serius memilih warna.
Ia berharap kegiatan semacam ini tak berhenti sebagai acara seremonial semata. Ada harapan agar momen seperti ini menjadi rutinitas yang terus tumbuh.
“Kalau bisa, ini jadi agenda tahunan. Karena manfaatnya benar-benar terasa,” tambahnya.
Hal yang sama juga dirasakan para guru. Buk Gus, salah seorang pendidik di TKN Pembina Pulau Punjung, melihat lebih dari sekadar aktivitas menggambar.
“Di sini bukan hanya soal warna. Ini tentang membangun hubungan. Anak merasa didampingi, orang tua belajar memahami. Dari situ tumbuh kepercayaan diri anak,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan anak usia dini tidak bisa berjalan sendiri. Kelas hanyalah satu bagian. Selebihnya, rumah dan kehadiran orang tua adalah fondasi utama.
Menariknya, tak ada wajah murung di akhir kegiatan. Tak ada anak yang pulang dengan tangan kosong. Semua peserta menerima piala dan sertifikat bukan sekadar penghargaan, tetapi simbol bahwa setiap usaha layak diapresiasi.
Namun demikian, semangat kompetisi tetap hidup. Dari ratusan peserta, akan dipilih yang terbaik untuk melangkah ke tingkat kabupaten, membawa nama Pulau Punjung ke panggung yang lebih luas.
Di tengah riuh warna dan tawa, tersimpan pesan yang lebih dalam: bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan prestasi, tetapi tentang kedekatan, perhatian, dan cinta yang tumbuh sejak dini.
Hari itu, anak-anak tidak hanya belajar mewarnai gambar. Mereka belajar tentang kebersamaan. Dan para orang tua, tanpa disadari, sedang melukis kenangan yang akan tinggal lebih lama dari sekadar goresan krayon di atas kertas.
Dari halaman sederhana itu, harapan besar pun tumbuh tentang generasi yang kelak tidak hanya cerdas, tetapi juga hangat, percaya diri, dan penuh empati dalam menghadapi masa depan.
(AK)
#Parenting #Daerah #KabupatenDharmasraya