AK47, PADANG — Proyek penahan tebing yang seharusnya menyelamatkan warga dari ancaman banjir bandang, kini justru dituding sebagai “bom waktu” di bantaran sungai. Alih-alih kokoh, geobag yang dipasang dalam proyek yang dikerjakan PT Nindya Karya tampak rusak sebelum sempat diuji alam.
Geobag pecah. Robek. Bergeser.
Dan yang paling mengkhawatirkan: semuanya terjadi sebelum proyek selesai.
Proyek Baru, Kerusakan Sudah Nyata
Di sepanjang kawasan Jembatan Bypass hingga Kampung Kelawi dan Adzkia, kondisi di lapangan berbicara lebih keras daripada laporan teknis.
Geobag yang seharusnya menjadi benteng justru terlihat:
➡ merekah dari dalam
➡ sobek di beberapa titik
➡ kehilangan bentuk dan daya tahan
Ini bukan kerusakan wajar. Ini indikasi kegagalan sejak tahap awal.
Skandal Material: Geobag Diisi Batu Besar
Secara teknis, geobag bukan tempat batu besar.
Standarnya jelas:
pasir, tanah granular, atau kerikil halus material yang bisa padat, stabil, dan fleksibel.
Namun fakta di lapangan justru mengejutkan:
geobag diisi batu berukuran besar.
Dampaknya bukan sekadar kesalahan kecil, tapi fatal:
- Tekanan tajam dari batu merobek geotekstil dari dalam
- Rongga besar membuat struktur kosong dan tidak solid
- Arus air masuk lebih agresif dan menghancurkan dari dalam
Ini bukan lagi dugaan ringan ini pelanggaran prinsip dasar konstruksi.
Pemasangan Amburadul: Tanpa Sistem, Tanpa Kunci
Masalah tak berhenti di material. Metode pemasangan pun diduga jauh dari standar.
Yang seharusnya:
✔ tersusun rapi
✔ saling mengunci (interlocking)
✔ padat dan mengikuti kontur
✔ dilengkapi penguatan dasar
Yang terjadi di lapangan:
❌ susunan acak
❌ tidak saling mengikat
❌ longgar dan mudah bergeser
❌ tanpa penguncian yang jelas
Akibatnya jelas:
struktur rapuh, mudah goyah, dan tinggal menunggu runtuh saat debit air naik.
Belum Diuji Banjir, Sudah Nyaris Gagal
Ini fakta paling mengkhawatirkan:
dalam kondisi normal saja sudah rusak.
Lalu bagaimana saat banjir bandang datang?
Jawabannya mengerikan:
➡ potensi gagal total
➡ erosi makin parah
➡ permukiman warga terancam langsung
Proyek ini bukan lagi pelindung.
Ia bisa berubah menjadi ancaman baru.
BUMN Disorot: Kelalaian atau Pembiaran?
Nama besar PT Nindya Karya kini ikut terseret dalam sorotan tajam publik.
Pertanyaan yang tak bisa dihindari:
- Mengapa kesalahan mendasar seperti ini bisa terjadi?
- Di mana pengawasan teknis?
- Apakah spesifikasi sengaja diabaikan?
Jika ini benar terjadi, maka ini bukan sekadar kelalaian.
Ini bisa mengarah pada kegagalan sistemik dalam pelaksanaan proyek negara.
Suara Warga: Dari Harapan Menjadi Ketakutan
Warga yang belum pulih dari trauma banjir kini dihadapkan pada kenyataan pahit.
“Kalau sekarang saja sudah rusak, bagaimana nanti saat banjir besar datang?” kata Feri, warga setempat.
Kekhawatiran itu bukan berlebihan.
Itu logika sederhana dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Proyek Ini Berisiko Jadi Bencana Baru
Dari temuan lapangan:
✔ Salah material
✔ Salah metode
✔ Struktur tidak stabil
Kesimpulannya tegas:
proyek ini berpotensi gagal secara teknis.
Jika tidak segera dievaluasi dan diperbaiki:
➡ risiko keselamatan warga meningkat
➡ dampak banjir bisa lebih parah
➡ anggaran negara terancam terbuang sia-sia
Ini bukan sekadar proyek bermasalah.
Ini peringatan dini sebelum bencana berikutnya benar-benar terjadi.
(AK)
#Infrastruktur #NindyaKarya #Padang
