Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hilal Syawal 1447 H di Ujung Batas: Tipis, Redup, dan Jadi Penentu Lebaran

Rabu, 18 Maret 2026 | Maret 18, 2026 WIB Last Updated 2026-03-18T19:54:19Z

Peta elongasi hilal BMKG (BMKG/BMKG)



AK47, Semarang — Penantian Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah memasuki fase krusial. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap posisi hilal yang akan menjadi penentu awal Syawal—dan hasilnya: peluang ada, tapi sangat menantang.


Berdasarkan data astronomi, konjungsi atau ijtima terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB. Artinya, secara teori hilal sudah “lahir” sebelum Matahari terbenam. Namun, apakah bisa terlihat? Itu pertanyaan besar yang kini ditunggu jawabannya.


Hilal “Hidup” Sesaat di Ufuk Barat


Di Semarang, momen krusial hanya berlangsung dalam hitungan menit. Matahari terbenam pukul 17.49 WIB, disusul Bulan yang tenggelam pada 17.59 WIB. Artinya, jendela pengamatan hilal hanya sekitar 10 menit sangat sempit.


Dengan ketinggian hanya sekitar 1 derajat 47 menit dan elongasi sekitar 5,3 derajat, hilal berada sangat rendah di ufuk barat. Dalam kondisi seperti ini, hilal ibarat “benang tipis cahaya” yang nyaris tenggelam dalam silau senja.


Seragam di Jawa Tengah, Sama-Sama Sulit


Kondisi serupa juga terjadi di berbagai wilayah Jawa Tengah:

  • Wonogiri: sekitar 1°43′
  • Brebes: sekitar 1°50′
  • Blora hingga Magelang: elongasi berkisar 5,3°


Angka-angka ini masih berada di bawah batas ideal visibilitas hilal. Dengan kata lain, meski sudah di atas ufuk, hilal belum tentu bisa terlihat oleh mata, bahkan dengan alat bantu sekalipun.


Tantangan Terbesar: Cahaya yang Nyaris Tak Terlihat


Yang membuat situasi makin sulit adalah tingkat kecerlangan Bulan. BMKG mencatat iluminasi hanya sekitar 0,19–0,20 persen sangat redup.


Dalam kondisi langit yang tidak benar-benar bersih, hilal bisa “menghilang” begitu saja. Sedikit awan, kabut tipis, atau polusi cahaya sudah cukup untuk menggagalkan rukyat.


Rukyat Jadi Penentu, Sidang Isbat Dinanti


Di tengah kondisi yang serba tipis ini, Kementerian Agama Republik Indonesia akan menggelar rukyatul hilal di berbagai titik. Hasil pengamatan langsung di lapangan akan menjadi faktor kunci.


Jika hilal berhasil terlihat, maka 1 Syawal bisa jatuh keesokan harinya. Namun jika tidak, Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari.


Keputusan akhir akan diumumkan melalui sidang isbat momen yang selalu dinanti jutaan umat Muslim di Indonesia.


Antara Ilmu dan Harapan


Fenomena ini kembali menunjukkan bahwa penentuan Lebaran bukan sekadar hitungan angka, tapi juga pertaruhan antara sains, cuaca, dan ketelitian pengamatan.


Hilal sudah ada tapi sangat tipis.
Peluang terbuka tapi penuh tantangan.


Kini, seluruh mata tertuju ke langit barat saat senja.
Apakah hilal akan terlihat… atau Ramadan harus digenapkan?


(AK)


#Nasional #BMKG #HilalIdulFitri

Jawabannya akan menentukan kapan takbir berkumandang.

×
Berita Terbaru Update