
Universitas Pamulang (Unpam). (Sumber foto: laman Unpam).
AK47, Jakarta - Isu panas mengguncang publik. Seorang pria yang disebut sebagai dosen Universitas Pamulang (Unpam) terseret dugaan pelecehan seksual di dalam KRL dan kasusnya kini berubah jadi kontroversi besar yang memecah opini.
Video dan pengakuan korban yang viral di media sosial langsung menyulut kemarahan. Narasi yang beredar bahkan tanpa tedeng aling-aling melabeli terduga sebagai “dosen cabul”, membuat nama kampus ikut terseret dalam badai kecaman.
Namun di tengah tekanan publik yang memuncak, pihak Universitas Pamulang justru mengambil sikap mengejutkan.
“Tak Ada Bukti” Kampus Pasang Badan
Humas kampus, Muhyiddin Fanda, menegaskan hasil klarifikasi awal tidak menemukan bukti yang menguatkan tudingan yang sudah telanjur viral itu.
Lebih mengejutkan lagi, laporan korban disebut telah dicabut. Pihak kampus bahkan menyatakan dosen tersebut tidak terbukti melakukan perbuatan yang dituduhkan.
Pernyataan ini bukannya meredam, justru memicu gelombang kecurigaan baru di publik.
Kronologi Korban: Di Tengah Desakan, Dugaan Aksi Terjadi
Sebelumnya, korban membeberkan kejadian yang disebut berlangsung di KRL rute Tebet–Nambo pada malam hari, saat gerbong penuh sesak penumpang.
Dalam kondisi berhimpitan, korban mengaku mengalami tindakan tidak pantas dari pria di dekatnya bahkan disebut terjadi lebih dari sekali dalam waktu singkat.
Narasi ini langsung menyentuh keresahan publik soal keamanan di transportasi umum yang padat, terutama bagi perempuan.
Fakta Janggal: Viral Dulu, Klarifikasi Menyusul, Laporan Dicabut
Rangkaian peristiwa ini dinilai janggal:
- Tuduhan serius viral luas di media sosial
- Identitas terduga langsung dikaitkan dengan profesi dan kampus
- Klarifikasi kampus menyebut “tidak ada bukti”
- Laporan korban mendadak dicabut
Publik pun bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi di balik layar?
Antara Dugaan Pelecehan dan Bahaya Pengadilan Media Sosial
Kasus ini kini berada di titik sensitif. Di satu sisi, dugaan pelecehan di ruang publik adalah isu serius yang tidak boleh dianggap sepele. Di sisi lain, tudingan tanpa bukti kuat juga bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam hitungan jam.
Fenomena “viral dulu, klarifikasi belakangan” kembali jadi sorotan.
Apakah ini kasus pelecehan yang gagal dibuktikan?
Atau justru contoh bagaimana media sosial bisa menghakimi sebelum fakta terungkap?
Satu hal yang pasti: badai ini belum benar-benar reda. Dan publik masih menunggu kebenaran, atau sekadar klarifikasi yang lebih terang.
(AK)
#Viral #Peristiwa #PelecehanSeksual