Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Di Balik Aliran Air yang Kembali Mengalir: Kepemimpinan Hendra Pebrizal di Tengah Krisis Air Kota Padang

Sabtu, 31 Januari 2026 | Januari 31, 2026 WIB Last Updated 2026-01-31T14:04:25Z

Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang Hendra Pebrizal 



AK47, Padang Air bersih adalah kebutuhan paling dasar, namun bagi ribuan warga Kota Padang, air sempat menjadi kemewahan pasca banjir bandang dan bencana hidrometeorologi yang menghantam akhir November 2025. Ketika pipa-pipa terputus, intake rusak, dan instalasi pengolahan lumpuh, kota ini nyaris kehilangan denyut kehidupan sehari-harinya.


Di tengah situasi genting itu, satu sosok bergerak tanpa banyak sorotan: Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Padang, Hendra Pebrizal. Bagi Hendra, krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ujian tanggung jawab dan kemanusiaan.


“Air harus tetap mengalir. Apa pun risikonya,” ujarnya singkat, Sabtu (31/1/2026), mengenang hari-hari terberat pascabencana.


Ketika Infrastruktur Runtuh, Kepemimpinan Diuji


Banjir dan longsor merusak jantung sistem penyediaan air Kota Padang. Intake hancur diterjang arus, jaringan pipa terangkat dari tanah, pompa terendam lumpur. Dalam hitungan jam, ribuan pelanggan kehilangan akses air bersih.


Alih-alih menunggu situasi stabil, Hendra memilih turun langsung ke lapangan. Di bawah koordinasinya, Perumda AM bergerak dalam pola kerja darurat: cepat, simultan, dan tanpa jeda.


Hasilnya, 12 unit intake berhasil dipulihkan, sekitar dua kilometer jaringan pipa dipasang kembali, serta enam unit pompa termasuk rumah pompa dan intake Latung kembali beroperasi. Tujuh jalur intake lain yang rawan kerusakan lanjutan diamankan secara khusus.


“Ini bukan kerja satu-dua hari. Tim kami bekerja siang dan malam, sering kali dalam kondisi cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat,” kata Hendra.


Bukan Sekadar Mengalir, Tapi Harus Aman


Bagi Hendra, air yang mengalir tanpa kualitas adalah kegagalan lain. Karena itu, IPA Gunung Pangilun salah satu tulang punggung distribusi air Kota Padang menjadi fokus utama.


Perbaikan sistem ascelator, pengerukan mulut kanal intake Kampung Koto, hingga pembersihan reservoir dilakukan menyeluruh. Lumpur dan material banjir yang menyumbat sistem dibersihkan satu per satu.


“Air bersih bukan hanya soal volume, tapi soal keamanan bagi masyarakat,” tegasnya.


Pendekatan Kemanusiaan di Tengah Tekanan


Krisis ini tidak hanya dijawab dengan alat berat dan pipa baja. Di bawah kepemimpinan Hendra, Perumda AM mengambil langkah yang jarang disorot: mengedepankan empati.


Lebih dari 24 juta liter air bersih disalurkan gratis kepada warga terdampak, tanpa memandang status pelanggan. 78 unit tendon air ditempatkan di wilayah pelanggan terdampak, ditambah 30 unit tendon untuk warga non-pelanggan yang kesulitan air.


Tak berhenti di situ, lebih dari 90 ribu pelanggan mendapat diskon tarif hingga 50 persen, sementara 1.382 pelanggan yang sama sekali tidak menerima layanan air dibebaskan dari tagihan Januari.


“Dalam kondisi darurat, perusahaan daerah harus berpihak pada rakyat. Itu prinsip saya,” ujar Hendra.


Sorotan Nasional dan Pengakuan Kepemimpinan


Langkah cepat dan terukur Perumda AM tak luput dari perhatian pemerintah pusat. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, bersama Wali Kota Padang Fadly Amran, meninjau langsung IPA Gunung Pangilun, Jumat (30/1/2026).


Turut hadir Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, dan jajaran terkait. Di hadapan mereka, Hendra memaparkan kondisi riil lapangan tanpa ditutup-tutupi sekaligus kebutuhan mendesak untuk penguatan sistem air minum Padang.


Menatap Masa Depan: Dari Krisis ke Solusi Permanen


Hendra tidak menampik satu kenyataan pahit: IPA Gunung Pangilun yang dibangun tahun 1957 sudah uzur. Gempa besar 2009 dan bencana hidrometeorologi terbaru menjadi pukulan beruntun bagi instalasi peninggalan Prancis tersebut.

Solusinya bukan tambal-sulam.


Perumda AM, dengan dukungan pemerintah pusat, menyiapkan pembangunan IPA baru berkapasitas 500 liter per detik di atas lahan seluas 13.100 meter persegi, dengan anggaran Rp400 miliar. Proyek ini ditargetkan rampung akhir 2027 dan akan melayani 40.730 pelanggan, atau sekitar 31 persen pelanggan Perumda AM.


“Ini bukan proyek biasa. Ini investasi ketahanan kota,” kata Hendra.


Kepemimpinan di Masa Sulit


Peninjauan ke Irigasi Gunung Nago dan Intake Palukahan Lubuk Minturun bersama Menteri PU menegaskan arah kebijakan ke depan: mitigasi jangka panjang, bukan sekadar pemulihan darurat.


Bagi Hendra Pebrizal, krisis ini adalah pengingat keras bahwa sistem air minum harus dibangun lebih tangguh, adaptif, dan siap menghadapi bencana yang kian sering terjadi.


“Bencana boleh datang kapan saja. Tapi negara dan kami sebagai pelayan publik tidak boleh lengah,” tutupnya.


(AK)


#PerumdaAirMinum #Padang

Tinggal bilang mau yang mana ✍️

×
Berita Terbaru Update