-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Pages

Indeks Berita

Tag Terpopuler

El Niño “Godzilla” Mengancam Dunia, 451 Ribu Kematian Akibat Panas Diproyeksikan, Indonesia 19.300 Jiwa

Minggu, 27 September 2026 | September 27, 2026 WIB Last Updated 2026-09-27T07:30:57Z

El Niño “Godzilla” Mengancam Dunia, 451 Ribu Kematian Akibat Panas Diproyeksikan, Indonesia 19.300 Jiwa



AK47, Jakarta - Dunia menghadapi ancaman iklim yang semakin serius. Fenomena El Niño super yang berkembang di kawasan Pasifik diproyeksikan membawa gelombang panas ekstrem ke berbagai wilayah dunia dan berpotensi memicu sekitar 451.000 kematian tambahan akibat panas hingga Februari 2027.


Besarnya skala fenomena ini membuat sejumlah pemberitaan menyebutnya sebagai “El Niño Godzilla”, merujuk pada kekuatan dan potensi dampaknya yang luar biasa. Namun, istilah tersebut bukan nama ilmiah resmi untuk El Niño.


Proyeksi tersebut berasal dari analisis Climate Impact Lab (CIL) yang berafiliasi dengan University of Chicago. Penelitian itu memperkirakan hubungan antara kenaikan temperatur dan risiko kematian di 24.378 wilayah di lebih dari 40 negara, dengan mempertimbangkan kondisi iklim lokal, tingkat pendapatan, serta kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap panas.


Yang perlu digarisbawahi, angka 451.000 tersebut merupakan kematian berlebih (excess deaths), yakni jumlah kematian yang diperkirakan terjadi di atas angka yang biasanya muncul dalam kondisi tahun normal. Angka tersebut bukan berarti 451.000 orang telah meninggal akibat El Niño.


Suhu daratan diproyeksikan naik 1,2 derajat Celsius


Menurut analisis CIL, El Niño kali ini dapat mendorong temperatur daratan global sekitar 1,2 derajat Celsius di atas kondisi normal dalam beberapa bulan mendatang.


Kenaikan tersebut diproyeksikan meningkatkan jumlah hari dengan suhu yang sangat panas sekitar 44 persen dibandingkan tahun normal.


Dampaknya tidak hanya berupa rasa panas yang lebih menyengat. Suhu ekstrem dapat meningkatkan tekanan terhadap tubuh manusia, terutama pada kelompok rentan, sekaligus memperbesar risiko kematian akibat paparan panas.


CIL memperkirakan sekitar 451.000 kematian tambahan akibat panas sepanjang periode Juni 2026 hingga Februari 2027 dibandingkan rata-rata kondisi normal 1996–2025. Dari angka tersebut, sekitar 239.000 kematian tambahan diproyeksikan terjadi pada September 2026 hingga Februari 2027.


Para peneliti juga mengingatkan bahwa angka tersebut masih dapat bertambah apabila kondisi El Niño bertahan lebih lama dari periode proyeksi. Dampak panas bahkan diperkirakan dapat terus terasa hingga sekitar pertengahan 2027 di sejumlah wilayah.


Indonesia menjadi salah satu negara dengan proyeksi dampak terbesar


Indonesia termasuk negara yang mendapat perhatian khusus dalam proyeksi tersebut.


CIL memperkirakan Indonesia dapat mengalami sekitar 19.300 kematian tambahan terkait panas selama periode yang dianalisis.


Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban kematian panas yang besar dalam proyeksi global tersebut. Di kawasan Asia Tenggara, Filipina, Vietnam, Thailand dan Kamboja secara gabungan diproyeksikan mengalami sekitar 19.400 kematian tambahan.


Sementara itu, India diproyeksikan mengalami sekitar 15.800 kematian tambahan, sedangkan Brasil sekitar 13.300.


Namun, angka tersebut harus dibaca sebagai hasil pemodelan risiko, bukan sebagai jumlah korban yang pasti akan terjadi. Hasil akhirnya dapat dipengaruhi oleh perkembangan El Niño, kondisi cuaca aktual, kemampuan masyarakat beradaptasi, serta efektivitas langkah perlindungan kesehatan masyarakat.


Mengapa Indonesia rentan?


Indonesia berada di kawasan tropis sehingga suhu yang lebih tinggi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap kesehatan masyarakat.


Risiko tidak hanya berkaitan dengan temperatur maksimum. Durasi panas, kelembapan, kondisi lingkungan perkotaan, kualitas udara, akses terhadap air, kondisi kesehatan masyarakat dan kemampuan sistem kesehatan menghadapi lonjakan kasus juga dapat memengaruhi dampaknya.


Kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap panas ekstrem antara lain orang lanjut usia, anak-anak, masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu, serta orang yang bekerja di luar ruangan.


Pada saat yang sama, El Niño dapat memengaruhi pola curah hujan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di sejumlah wilayah.


Karena itu, dampak El Niño tidak berhenti pada persoalan suhu udara. Fenomena ini dapat berkelindan dengan persoalan air, pangan, kualitas udara, kesehatan, pertanian dan ketahanan ekonomi masyarakat.


Afrika menjadi salah satu kawasan paling terpukul


Beban dampak paling besar dalam proyeksi CIL diperkirakan berada di negara-negara Global South, terutama kawasan Sahel di Afrika.


Kawasan Sahel yang mencakup sejumlah negara di selatan Gurun Sahara diproyeksikan mengalami sekitar 66.800 kematian tambahan akibat panas.


Nigeria menjadi negara dengan proyeksi angka tertinggi, yakni sekitar 31.400 kematian tambahan. Sudan diproyeksikan mengalami sekitar 17.500, Niger sekitar 10.000, dan Chad sekitar 8.000.


Besarnya dampak di kawasan tersebut berkaitan dengan kombinasi antara suhu tinggi, kerentanan masyarakat dan kapasitas adaptasi yang berbeda-beda.


Situasi itu menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak selalu berbanding lurus dengan kontribusi suatu negara terhadap pemanasan global. Negara dan masyarakat dengan sumber daya adaptasi yang lebih terbatas dapat menghadapi konsekuensi kesehatan yang lebih berat.


El Niño bukan satu-satunya ancaman


Penting pula memahami bahwa angka 451.000 tersebut secara khusus berkaitan dengan kematian akibat panas yang dimodelkan oleh CIL.


Proyeksi tersebut belum menggambarkan seluruh kemungkinan dampak El Niño seperti kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan pertanian, kekurangan air, maupun banjir di wilayah tertentu.


Dengan kata lain, angka tersebut bukanlah estimasi keseluruhan korban dari semua dampak El Niño.


Climate Impact Lab menyebut analisisnya sebagai sebuah gambaran mengenai kondisi panas yang dapat menjadi semakin lazim di masa mendatang akibat pemanasan iklim. Peneliti menggambarkan kondisi tersebut sebagai semacam “postcard from the future” gambaran mengenai kemungkinan kondisi yang dapat menjadi lebih umum dalam beberapa dekade mendatang.


Mengapa peringatan dini menjadi sangat penting?


Meski proyeksi tersebut terdengar mengkhawatirkan, para peneliti justru menekankan bahwa angka tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan tindakan pencegahan.


CIL menyebut sejumlah langkah yang dapat dilakukan pemerintah dan lembaga kemanusiaan, antara lain memperkuat sistem peringatan dini panas, menyediakan tempat pendinginan, memastikan akses terhadap air dan fasilitas hidrasi, serta meningkatkan perlindungan bagi masyarakat yang bekerja di luar ruangan.


Penguatan layanan kesehatan juga menjadi bagian penting. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan perlu memiliki kesiapan menghadapi peningkatan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan suhu ekstrem.


Di daerah perkotaan, upaya perlindungan juga dapat diarahkan pada masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di lingkungan dengan paparan panas tinggi.


Angka 19.300 harus dibaca sebagai peringatan, bukan kepastian


Bagi Indonesia, angka 19.300 seharusnya dipahami dalam konteks yang tepat.


Angka itu merupakan hasil proyeksi ilmiah berdasarkan hubungan antara temperatur dan kematian pada berbagai wilayah, kemudian dikombinasikan dengan prakiraan temperatur jangka panjang. Metodologi tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi lokasi yang kemungkinan menghadapi risiko tinggi sehingga intervensi dapat diarahkan sebelum dampak semakin besar.


Metode penelitian tersebut disebut akan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah melalui proses peer review. Karena itu, perkembangan cuaca aktual dan pembaruan model tetap perlu diperhatikan.


Yang jelas, peringatan tersebut memberi pesan penting: gelombang panas bukan sekadar persoalan ketidaknyamanan cuaca, tetapi dapat menjadi persoalan kesehatan masyarakat dan keselamatan manusia.


El Niño adalah fenomena alam yang akan datang dan pergi. Namun, pemanasan global meningkatkan latar belakang suhu planet sehingga kejadian panas ekstrem dapat membawa risiko yang lebih besar.


Bagi Indonesia, periode hingga awal 2027 menjadi momentum penting untuk memperkuat kewaspadaan. Peringatan dini, kesiapan fasilitas kesehatan, perlindungan kelompok rentan, pengelolaan air, serta antisipasi kekeringan dan kebakaran menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko.


Sebab, 19.300 bukan angka korban yang harus ditunggu. Ia adalah angka risiko yang seharusnya mendorong tindakan lebih dini.


(AK)


#ElNino #CuacaEkstrim #Headline

×
Berita Terbaru Update