AK47, JAKARTA – Momen penuh simbol rekonsiliasi terjadi di Istana Wakil Presiden, Jumat (13/3/2026). Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka memeluk Rismon Sianipar, sosok yang sebelumnya menjadi sorotan publik dalam polemik dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Pertemuan yang berlangsung di kantor Wakil Presiden di Jakarta tersebut digelar setelah Rismon menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Jokowi sekaligus mengajukan penyelesaian melalui mekanisme restorative justice atas kasus yang sempat menyita perhatian publik.
Pertemuan Tertutup di Istana Wakil Presiden
Berdasarkan pantauan di lokasi, Rismon tiba di kompleks Istana Wakil Presiden sekitar pukul 10.00 WIB, didampingi oleh tim kuasa hukumnya. Kehadiran penulis buku kontroversial berjudul “Jokowi’s White Paper” itu langsung menjadi perhatian awak media yang telah menunggu di sekitar area istana.
Namun, pertemuan antara Gibran dan Rismon berlangsung secara tertutup tanpa peliputan langsung dari media. Keduanya diketahui melakukan pembicaraan selama kurang lebih 45 menit di dalam ruangan kantor Wakil Presiden.
Ketika pertemuan usai, keduanya keluar bersama dan langsung menyapa para jurnalis yang telah menunggu di luar.
Gibran tampak mengenakan setelan jas biru dongker dipadukan dengan kemeja putih, sementara Rismon terlihat membawa map dokumen.
Suasana terlihat cair dan jauh dari kesan tegang. Gibran bahkan sempat berjabat tangan dengan Rismon sebelum kemudian memeluknya di hadapan awak media.
“Makasih, makasih, makasih. Pokoknya kita ini saudaraan. Sudah, enggak ada apa-apa lagi,” ujar Gibran sambil merangkul Rismon.
Gestur tersebut langsung menjadi sorotan, karena menunjukkan upaya meredakan polemik yang sebelumnya berkembang di ruang publik.
Parsel untuk Rismon yang Hendak Pulang Kampung
Tak hanya berjabat tangan dan berpelukan, Gibran juga memberikan sebuah parsel besar kepada Rismon.
Menurut Gibran, bingkisan tersebut diberikan karena Rismon berencana kembali ke kampung halamannya di Balige, Sumatera Utara.
“Ini, kan mau pulang kampung,” kata Gibran sambil menyerahkan parsel tersebut.
Mendengar hal itu, Rismon tampak tersenyum dan tertawa kecil. Ia membawa bingkisan tersebut meski terlihat sedikit kewalahan karena ukurannya yang cukup besar.
Momen santai tersebut semakin menegaskan bahwa pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban.
Klarifikasi Rismon Soal Ijazah Jokowi
Sebelumnya, polemik mengenai ijazah Presiden Jokowi kembali mencuat setelah Rismon menyampaikan sejumlah analisis dalam berbagai forum dan publikasi.
Namun pada Rabu (11/3/2026), Rismon menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf melalui kanal YouTube Balige Academy.
Dalam pernyataannya, ia menjelaskan bahwa penelitian terbaru yang dilakukannya menghasilkan temuan baru secara ilmiah dan akademik terkait dokumen ijazah Presiden Jokowi.
Menurut Rismon, sejumlah unsur teknis pada ijazah seperti emboss dan watermark menunjukkan konsistensi yang justru menguatkan bukti bahwa dokumen tersebut asli.
“Objek kajian seperti emboss dan watermarks dalam ijazah menunjukkan konsistensi sehingga mendukung bukti keaslian ijazah tersebut,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Jokowi serta masyarakat luas atas polemik yang sebelumnya berkembang.
“Ya tentu, saya pun minta maaf kepada publik. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca, dihina, dengan narasi-narasi sesuka mereka,” ujar Rismon.
Ramadan Jadi Momentum Rekonsiliasi
Menanggapi permintaan maaf tersebut, Wakil Presiden Gibran sebelumnya menyampaikan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan.
“Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” kata Gibran dalam keterangan tertulis yang diterima media, Kamis (12/3/2026).
Ia juga mengapresiasi sikap Rismon yang bersedia mengklarifikasi pernyataannya dan meninjau kembali pandangan sebelumnya terkait isu ijazah Presiden Jokowi.
Menurut Gibran, langkah tersebut menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi, di mana setiap pihak dapat menyampaikan pandangan secara terbuka namun tetap siap melakukan koreksi apabila ditemukan fakta baru.
Simbol Rekonsiliasi Politik
Pertemuan antara Gibran dan Rismon ini dinilai banyak pihak sebagai simbol rekonsiliasi dalam polemik yang sempat menjadi perbincangan luas di ruang publik dan media sosial.
Gestur pelukan yang dilakukan Gibran di depan awak media memperlihatkan pesan bahwa konflik atau perbedaan pandangan dapat diselesaikan melalui dialog, klarifikasi, serta sikap saling memaafkan.
Dengan adanya klarifikasi ilmiah dari Rismon dan sikap terbuka dari pihak pemerintah, polemik mengenai dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi diharapkan dapat berakhir dan tidak lagi menimbulkan perpecahan di masyarakat.
(AK)
#Nasional #Headline
